Jakarta, EDITOR.ID,- Rismon Hasiholan Sianipar sempat membuat geger publik di Indonesia saat menuduh dan memfitnah Presiden ke-7 RI Joko Widodo dengan tudingan menggunakan ijazah palsu. Bahkan untuk meyakinkan publik, Rismon mengelabuhi publik bahwa tuduhannya itu berdasarkan riset ilmiah dan penelitian.
Kini diujung dia bakal dipenjara, Rismon akhirnya mengaku penelitiannya cuma abal-abal. Ia meminta maaf kepada Jokowi. Bahkan mendatangi putra Jokowi yang jadi Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka untuk memohon ampun.
Rismon yang kini jadi tersangka fitnah dan pencemaran nama baik juga mendatangi rumah Jokowi di Sumber, Banjarsari, Solo. Rismon menyebut kedatangannya untuk meminta maaf kepada Jokowi.
Selain minta maaf ke Jokowi, Rismon juga minta maaf ke publik perihal temuan terbarunya mengenai ijazah Jokowi. Permintaan maaf itu disebutnya sebagai bentuk tanggung jawab sebagai peneliti.
“Ya tentu, saya pun minta maaf kepada publik. Apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo. Itulah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, yang siap dicerca, dihina dengan narasi-narasi sesuka mereka meskipun narasi mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” katanya usai bertemu Jokowi, Kamis (12/3/2026).
Rismon mengatakan, dua bulan terakhir dirinya melanjutkan penelitian mengenai ijazah Jokowi. Dalam penelitian tersebut Rismon mendapatkan temuan baru dari ijazah tersebut.
“Pertama, saya dapati memang sejak gelar perkara ditunjukkan ijazah analog dari Bapak Joko Widodo. Terus saya kaji lagi apa yang saya amati di situ, bahwa ada emboss, ada watermarks. Jadi emboss dan watermarks ini menjadi objek kajian saya dan saya teliti memang tidak ada hologram,” ungkapnya.
“Mungkin setelah saya kaji dengan beberapa objek ijazah lainnya di tahun yang sama dari UGM, memang pada saat itu hologram memang tidak dipakai sebagai pengunci atau pengaman dalam sebuah ijazah. Jadi memang yang ada hanya watermarks dan emboss,” sambungnya.
Rismon menegaskan bahwa penelitian yang ia lakukan itu secara independen yang tidak ada ketergantungan dengan Roy Suryo dan dokter Tifa. Sehingga, buku yang ia buat yakni Jokowi White’s Paper tidak ada keterkaitannya dengan Roy dan Tifa.
“Jadi saya garis bawahi, secara independen metodologi itu saya tuliskan sekitar 480-an halaman dari 700 halaman lebih di buku Jokowi’s White’s Paper. Karena buku tersebut adalah tulisan yang independen, artinya tulisan kami antara Pak Roy (Suryo) dan Bu Tifa tidak ada saling ketergantungan, tidak ada saling keterkaitan karena ditulis secara terpisah baik secara geografi maupun analisa,” bebernya.
“Nah, terkait dengan itu, maka saya tentu tetap melanjutkan penelitian saya. Apa yang dilakukan Pak Roy dan Bu Tifa saya tidak tahu ya, karena memang objek kajian saya berbeda,” lanjut Rismon.
Berbeda dari sebelumnya yang dengan tegas mengatakan ijazah Jokowi palsu, ia justru menyebut keaslian harus dilakukan dengan metode lagi bukan hanya sekedar narasi.
“(Menegaskan ijazah asli?) Jawaban itu kan jawaban yang harusnya dijawab dengan metodologi, bukan secara narasi bahwa itu palsu, itu asli. Secara metodologi itu harus dijawab dan itu harus objektif,” katanya.
Rismon Minta Maaf ke Jokowi
Rismon Hasiholan Sianipar mengaku melakukan kesalahan saat meneliti keaslian ijazah Jokowi. Ia pun mengoreksi hasil penelitiannya yang diterbitkan dalam buku Jokowi’s White Paper itu.
Rismon mengaku telah melakukan penelitian lanjutan setelah buku Jokowi’s White Paper terbit. Hasilnya, penelitian lanjutan itu mementahkan kesimpulan yang dituangkan di buku Jokowi’s White Paper.
“Sebagai peneliti independen dan bertanggung jawab, tidak bias, tidak ada kaitan dengan afiliasi politik apapun, maka seorang peneliti itu harus bisa menyatakan kesalahannya dan mengoreksi hasilnya sendiri,” kata Rismon.
Rismon menegaskan penelitiannya menggunakan metode baku yang biasa digunakan dalam forensik digital.
“Metodologinya itu saya nyatakan confirmed dan itu bisa menjadi kasus pembelajaran di departemen-departemen dan kuliah-kuliah,” kata Rismon.
Hanya saja, validitas hasil penelitian tidak hanya ditentukan oleh metodologi yang digunakan. Rismon mengatakan untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat diperlukan objek yang tepat.
Dalam penelitiannya di buku Jokowi’s White Paper, Rismon menggunakan foto ijazah yang diunggah kader PSI, Dian Sandi Utama. Rismon menerangkan foto tersebut telah mengalami perubahan bentuk karena sudut pengambilan gambar dan pencahayaan.
“Kesalahan fatal yang saya lakukan adalah tidak melibatkan operasi-operasi atau variabel geometri untuk mendapatkan kesimpulan, yaitu operasi translasi atau pergeseran, rotasi atau perputaran, maupun pencahayaan,” kata dia.
Setelah buku Jokowi’s White Paper terbit, Rismon mengaku telah melakukan penelitian lanjutan. Dari hasil penelitian lanjutan itu, ia menyimpulkan bahwa tidak ada kejanggalan dalam ijazah Jokowi.
“Tidak ada manipulasi digital seperti yang saya simpulkan pada buku Jokowi’s White Paper. Artinya apa? Keasliannya terjaga,” kata Rismon.
Ia pun mengaku telah meminta maaf kepada Jokowi atas tudingan ijazah palsu.
“Tentu saya minta maaf kepada publik, apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo,” kata dia.
Temui Wapres Gibran di Istana
Rismon juga menemui Wapres Gibran. Rismon mengaku kedatangannya sebagai bagian dari silaturahmi. Pertemuan antara Rismon dan Gibran berlangsung secara tertutup.
Dalam kesempatan itu, Rismon menegaskan dirinya bertanggung jawab atas polemik yang muncul dari penelitian yang ia lakukan terkait isu ijazah Jokowi. Ia mengaku terbuka terhadap kritik maupun koreksi atas temuannya.
“Ini tanggung jawab saya. Sebagai peneliti dan penulis, kalau ada yang salah harus dikoreksi. Kalau tidak dikoreksi orang lain juga tidak apa-apa, saya terbuka terhadap metode dan temuan-temuan saya yang mungkin dianggap sepele,” ujar Rismon.
Ia juga menyadari bahwa sikapnya bisa saja menimbulkan penilaian negatif dari sebagian pihak.
Namun, ia menyatakan siap menerima konsekuensi tersebut selama proses yang ia lakukan didasarkan pada upaya mencari kebenaran.
“Saya siap dicaci, dimaki, bahkan dianggap pengkhianat. Yang penting saya sudah berusaha menemukan kebenaran melalui rekonstruksi dan uji coba yang saya lakukan selama tiga bulan terakhir,” katanya.
Rismon menambahkan, seluruh proses penelitian tersebut akan ia tuangkan dalam sebuah buku yang ditargetkan rampung pada 2026.
“Saya tidak ingin hanya berbicara. Semua hasil penelitian itu akan saya tuliskan dalam buku. Saya juga menyampaikan kepada Mas Wapres, ini menjadi penebusan saya atas seluruh hiruk pikuk yang terjadi, baik yang disebabkan oleh saya maupun pihak lain,” ucapnya.
Rismon diketahui merupakan satu dari delapan orang yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya dalam kasus penyebaran tudingan ijazah palsu Jokowi.
Penetapan tersebut dilakukan setelah proses penyelidikan dan penyidikan yang berlangsung cukup panjang.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebelumnya telah memberikan respons secara tertulis.
Menurut Gibran, bulan Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan.
“Bulan Ramadan adalah waktu yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan,” ujar Gibran dalam keterangannya.
Dalam pernyataan tersebut, Gibran juga menyampaikan apresiasi atas sikap Rismon yang bersedia memberikan klarifikasi serta meninjau kembali pernyataannya. Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan sikap dewasa dalam kehidupan demokrasi. ****












