OCBC Ubah Limbah Jadi Peluang Bisnis, Program RISE Siapkan UKM Hadapi Era Ekonomi Hijau

peluncuran Responsible Innovation for Sustainable Everyday Lifestyle (RISE), sebuah program yang dirancang untuk membangun kapasitas UKM

OCBC luncurkan program RISE

EDITOR.ID-JAKARTA, Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis yang ramah lingkungan, PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya mengampanyekan gaya hidup berkelanjutan, bank ini mengajak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) menjadikan isu lingkungan sebagai peluang bisnis yang mampu menciptakan nilai ekonomi.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran Responsible Innovation for Sustainable Everyday Lifestyle (RISE), sebuah program yang dirancang untuk membangun kapasitas UKM agar mampu menghasilkan produk kreatif, bernilai jual, sekaligus mendukung prinsip keberlanjutan.

Di tengah tren ekonomi hijau yang terus berkembang, OCBC melihat UKM memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi industri nasional menuju model bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Kepedulian Lingkungan Meningkat, Perilaku Konsumen Belum Berubah

Peluncuran RISE berangkat dari fakta bahwa kesadaran masyarakat terhadap isu perubahan iklim terus meningkat, namun belum sepenuhnya tercermin dalam keputusan membeli produk sehari-hari.

Survei Voice of the Consumer 2025 yang dilakukan PwC menunjukkan 62 persen konsumen Indonesia mengaku khawatir terhadap perubahan iklim. Di sisi lain, produk berkelanjutan masih menghadapi tantangan dari sisi harga, akses, maupun relevansi dengan kebutuhan pasar.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menghadirkan inovasi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan konsumen secara nyata.

RISE Satukan Pembinaan Bisnis dan Inovasi Hijau

Melalui RISE, OCBC mengintegrasikan dua program yang sebelumnya telah berjalan, yakni OCBC Preneurship dan Upcydea Festival.

Program ini tidak berhenti pada pelatihan kewirausahaan. Peserta juga memperoleh pendampingan bisnis, proses kurasi produk, hingga penguatan strategi pemasaran agar mampu bersaing di pasar dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan.

Sebanyak 50 UKM mengikuti program perdana tersebut, terdiri atas 25 pelaku usaha kuliner serta 25 pelaku usaha fesyen dan kriya, yang dibina bersama Femalepreneur Indonesia.

Selama proses pendampingan, peserta didorong mengintegrasikan konsep keberlanjutan sejak tahap produksi, pemilihan bahan baku, hingga pengembangan model bisnis agar menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah secara ekonomi sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Seragam Bekas Disulap Menjadi Produk Bernilai Jual

Salah satu implementasi nyata program RISE adalah pemanfaatan seragam bekas karyawan OCBC yang diolah kembali menjadi berbagai produk melalui konsep upcycling.

Material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diubah menjadi tas, aksesori, dan berbagai produk kebutuhan sehari-hari yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Produk tersebut dipasarkan kepada karyawan OCBC, sementara hasil penjualannya digunakan untuk mendukung pembelian bibit mangrove sebagai bagian dari upaya pelestarian kawasan pesisir.

Pendekatan tersebut mencerminkan penerapan prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah produk, melainkan sebagai sumber daya baru yang dapat dimanfaatkan kembali.

Keberlanjutan Tidak Harus Mahal

Brand & Communication Head OCBC, Aleta Hanafi, mengatakan keberlanjutan sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang rumit dan membutuhkan biaya besar.

Padahal, menurutnya, perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.

“Melalui RISE, kami ingin menunjukkan bahwa sustainability tidak harus rumit ataupun mahal. Kami percaya perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten,” ujar Aleta.

Menurutnya, apabila semakin banyak individu maupun pelaku usaha mengubah kebiasaan kecil dalam aktivitas bisnis sehari-hari, dampaknya akan terasa jauh lebih besar bagi lingkungan.

Libatkan Praktisi Industri Kreatif

Untuk memperkuat kualitas peserta, OCBC menggandeng sejumlah praktisi yang memiliki pengalaman di bidang industri kreatif dan kewirausahaan.

Di antaranya adalah desainer Billy Tjong serta Women’s Entrepreneurship Advocate sekaligus Communication Strategist, Petty S. Fatimah.

Billy Tjong menilai keberlanjutan bukan sekadar mengikuti tren global, melainkan peluang untuk menciptakan inovasi baru yang mampu memberikan nilai tambah bagi produk.

Menurutnya, perubahan gaya hidup konsumen membuat pelaku usaha harus terus beradaptasi agar tetap relevan di pasar.

Sementara itu, Petty S. Fatimah menilai konsumen modern kini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk.

Cerita di balik proses produksi, penggunaan material ramah lingkungan, hingga dampak sosial yang dihasilkan menjadi faktor yang semakin memengaruhi keputusan pembelian.

Karena itu, UKM perlu mampu mengolah material daur ulang menjadi produk yang memiliki identitas kuat sekaligus daya saing tinggi.

Perjalanan OCBC Membangun Ekonomi Sirkular

Program RISE merupakan bagian dari strategi jangka panjang OCBC dalam menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang telah dimulai sejak 2023.

Program tersebut diawali dengan pengumpulan seragam bekas karyawan untuk didonasikan.

Setahun kemudian, konsep tersebut berkembang menjadi pengolahan limbah tekstil menjadi berbagai produk baru yang hasil penjualannya dialokasikan untuk mendukung rehabilitasi kawasan mangrove.

Pada Upcydea Festival 2025, OCBC berhasil mengolah 256 kilogram seragam batik bekas menjadi berbagai produk fesyen.

Inisiatif tersebut menghasilkan penjualan sebesar Rp43,7 juta yang seluruhnya digunakan untuk mendukung penanaman 2.185 pohon mangrove, dengan estimasi pengimbangan emisi karbon sekitar 258,89 kilogram COâ‚‚e.

Diperluas ke Semarang, Perkuat Ekosistem UKM

Memasuki 2026, implementasi program diperluas hingga OCBC Cabang Semarang, sekaligus menjadi momentum peluncuran resmi RISE sebagai ruang pembelajaran bagi UKM yang ingin mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa transformasi menuju ekonomi hijau tidak hanya bergantung pada perusahaan besar, tetapi juga membutuhkan keterlibatan pelaku usaha skala kecil yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab, RISE menjadi contoh bagaimana sektor perbankan dapat berperan sebagai katalis perubahan, tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga lewat penguatan kapasitas pelaku usaha.

Apabila semakin banyak UKM mampu melihat keberlanjutan sebagai peluang inovasi, bukan sekadar kewajiban, maka daya saing produk Indonesia berpotensi meningkat, baik di pasar domestik maupun global.**

Leave a Reply