Jakarta, EDITOR.ID,- Puzzle misteri penculikan berujung pembunuhan terhadap Kepala Cabang (Kacab) BRI Cempaka Putih, Jakarta Pusat Muhammad Ilham Pradipta (37), satu persatu mulai terkuak. Terungkap fakta baru, pertama para pelaku diketahui bekerja sebagai penagih utang atau Debt Collector. Kedua, motif penculikan dan pembunuhan dilakukan bukan inisiatif sendiri.
Namun keempat pelaku disebut-sebut mendapat perintah dari seseorang yang disebut “Bos” dan berada di Surabaya.
Titik awal petunjuk terungkap dari temuan bahwa “Sang Bos” dari Surabaya, Jawa Timur disebut-sebut sempat memerintahkan para penculik untuk menempati sebuah rumah kontrakan di Jalan Johar Baru III No.42, RT 05/RW 09, Johar Baru, Jakarta Pusat.
Hal ini terungkap berdasarkan pengakuan salah satu pelaku.
Rumah kontrakan tersebut berwarna merah jambu dengan gerbang perak. Polisi menangkap ketiga pelaku berinisial AT, RS, dan RAH saat bersembunyi di rumah itu pada Kamis (21/8/2025).
Sementara satu pelaku lainnya, RW, ditangkap terpisah saat baru tiba di Bandara Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tragis! Korban Diculik Ditengah Keramaian dan Dibunuh
Para pelaku yakni AT, RS, RAH, dan RW kemudian menculik Ilham Pradipta di area parkir Lotte Mart Pasar Rebo Jakarta Timur. Para pelaku selanjutnya dengan keji membunuh korban. Usai tak bernyawa, jasad korban dibuang ke Bekasi Jawa Barat dan ditemukan warga dalam keadaan terikat mengenaskan.
Peristiwa tragis ini menjadi sorotan karena eksekusi dilakukan secara nekat di tengah keramaian, tepat di parkiran supermarket kawasan Ciracas, Jakarta Timur. Tak ada satupun warga yang berani menolong.
Ilham sempat berusaha melawan ketika beberapa orang tak dikenal menyeretnya ke mobil putih. Namun, jumlah pelaku yang lebih banyak membuatnya tak berdaya. Keesokan harinya, jasadnya ditemukan di semak-semak wilayah Serang Baru, Kabupaten Bekasi.
Siapakah Aktor Intelektual Pemberi Perintah
Melansir dari Tribunnews.com, informasi mengenai sosok “Bos” datang dari salah satu penghuni rumah di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat bernama Berto.
Hal ini kemudian diketahui oleh Sella (43), Ketua RT 05/RW 09 Johar Baru, yang tinggal tepat di samping rumah para penculik Ilham. Juga suami Sella, Rizal (54) yang menjabat sebagai Ketua RW.
“Pertama kali mereka datang tanggal 20 Juni 2025, melapor ke rumah saya,” ujar Sella saat ditemui Sabtu (23/8/2025), melansir dari Kompas.com.
Menurutnya, penghuni rumah mengaku hanya menjalankan perintah atasannya yang berada di Surabaya.
“Lapornya, ‘Bu, saya yang menempati rumah ini, disuruh sama bos saya. Bos saya lagi di Surabaya. Dia bilang bos saya di Surabaya rumahnya banyak’. Saya disuruh menempati rumah ini,” jelas Sella.
Meski demikian, Rizal, suami Sella yang sekaligus menjadi Ketua RW 09 Johar Baru, pun memberikan pernyataan berbeda.
“Kalau izin ke saya itu, (diperintah) temannya, bukan si bos. Ada teman juga, ada di Surabaya,” tegas Rizal.
Awalnya, Sella hanya mengetahui ada tiga pria yang menempati rumah tersebut. Tetapi seiring waktu, jumlahnya bertambah menjadi lima orang. “Dia selalu open kok. Pintu gerbang selalu terbuka. Saya sering lihat ada lima orang. Saya minta KTP dan KK, tapi alasannya sibuk,” kata Sella.
“Yang bertanggung jawab di sini siapa? Terus dia bilang, ‘Nanti, Bu. Saya sibuk’,” tambahnya.
Rumah Yang Ditempati Pelaku Ada Satu Wanita Hamil
Setelah penangkapan para penculik di rumah tersebut, Kamis (21/8/2025), Sella baru mengetahui keberadaan seorang perempuan berinisial M serta seorang bayi berusia dua bulan.
M disebut sebagai istri dari salah satu penghuni. Di sisi lain, Sella mengungkapkan bahwa rumah itu bersengketa.
Sebab, ada sebuah spanduk yang sempat terpasang di rumah tersebut sebelum Berto dan kawan-kawan menempati bangunan satu lantai tersebut.
“Sebelumnya kosong hampir setahun. Dulunya warga saya di situ tinggal. Dia KTP dan KK warga saya. Asli Jakarta.”
“Cuma tiba-tiba, ‘Bu, saya pamit, mau pindah’. Pas (spanduk sengketa) dicabut, dia (Berto) masuk,” jelas Sella.
Para Pelaku Ternyata Bekerja Sebagai Debt Collector
Sella lantas menjelaskan pekerjaan AT, RS, RW, dan RAH.
“Iya, katanya debt collector,” kata Sella.
Pelaku Dikenal Ramah dengan Tetangga Sekitar
Meski begitu, dalam keseharian, Sella mengenal salah satu pelaku yang bersikap ramah saat bertemu.
“Makanya saya kaget kalau ada penangkapan,” ucap dia.
Pada Kamis (21/8/2025) pagi, M sempat menerima uang sebesar Rp 8 juta dari suaminya. “Terakhir saja dia dapat uang itu. Pagi-pagi pulang itu kejadian. Dapat uang Rp 8 juta, katanya gitu. Tapi disita sama polisi,” kata Sella.
“Iya. ‘Mana uangnya yang 8 juta?’, katanya gitu kata polisi pas gerebek. Dia (istrinya) cerita nih,” tambah dia lagi.
Dalam kesempatan yang sama, Rizal menegaskan bahwa istri pelaku tidak mengetahui asal-usul uang tersebut.
“Iya. Entah itu dapatnya dari peristiwa itu (penculikan) atau bukan, masih simpang siur. Intinya istrinya enggak tahu sumber dana. Biar polisi saja,” ungkap Rizal.
Polisi Datangi Rumah Yang Ditempati Pelaku
Sella menceritakan bahwa polisi sempat datang dua kali ke rumah yang sudah dua bulan terakhir dihuni oleh para pelaku. Pertama pada Kamis (21/8/2025) pukul 10.00 WIB dan hari yang sama pada pukul 14.00 WIB.
Pada kedatangan pertama, Sella tidak mengetahui adanya penangkapan karena ia sedang berada di dapur rumahnya.
Padahal, rumah Sella dan tempat bermukim para pelaku bersebelahan. Polisi langsung menggerebek rumah itu dan menangkap tiga pelaku.
Sella baru mengetahui peristiwa tersebut dari tetangganya. Kemudian, sekitar pukul 14.00 WIB, polisi kembali datang dan kali ini meminta Sella untuk mendampingi atau menyaksikan prosesnya.
Pada kedatangan kedua inilah Sella sempat berbincang dengan istri salah satu pelaku. “Saya bilang, ‘Mbak, kalau misalnya polisi yang kedua enggak datang, mungkin mbak enggak lapor sama saya. Dari jam 11.00 WIB sampai 14.00 WIB ini, lama lho waktunya’,” tegas Sella.
“Katanya, ‘iya, saya masih panik bu. Saya enggak tahu harus bilang apa. Handphone-handphone saya diambil semua sama polisi, disita. Terus juga uang saya Rp 8 juta dapat dikasih dari suami saya diambil juga’, gitu,” lanjutnya.
Setelah penangkapan dilakukan, barulah diketahui ada seorang perempuan berinisial M dan seorang bayi berusia dua bulan yang tinggal di dalam rumah. M disebut sebagai istri Andre, salah satu penghuni.
Sella menambahkan, rumah satu lantai tersebut sebelumnya kosong hampir setahun.
Kelakuan Janggal Penculik
Empat penculik berinisial AT, RS, RH dan RW ini telah ditangkap Subdit Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dari lokasi berbeda pada Kamis (21/8/2025).
AT, RS dan RAH ditangkap di Jalan Johar Baru III, Johar Baru, Jakarta Pusat, sementara RW ditangkap di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, saat hendak melarikan diri.
Usai ditangkap, ketiga pelaku berinisial AT, RS, RAH digelandang ke Mapolda Metro Jaya dengan tangan terikat kabel ties merah.
Dua pelaku mengenakan kaos lengan pendek hitam, sedangkan satu pelaku memakai kaos singlet abu-abu. Semuanya memakai celana pendek.
Badan dua pelaku yang memakai singlet dan kaos warna hitam berisi, sedangkan pelaku lain kurus dan bertato di tangannya.
Detik-Detik Pelaku Dibawa ke Polda Metro Jaya
Usai tiba di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ketiganya langsung digiring menuju Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan hanya tertunduk.
Masih dalam video yang sama, terekam pelaku lainnya inisial RW ditangkap saat tiba di bandara Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia diduga sedang mencoba kabur.
Saat ditangkap, RW mengenakan pakaian serba hitam, termasuk topi dengan warna senada serta sepatu putih dan merah.
Ia berjalan santai di bandara dengan tangan tanpa terikat atau terborgol ketika digiring penyidik. Sama seperti rekan-rekannya, sikap RW tak lagi garang seperti ketika menculik korban. RW hanya berjalan menunduk, tampak pasrah.
Warga mengungkap sejumlah kejanggalan pelaku sebelum tertangkap
Berikut kelakuan janggal mereka selama ini:
1. Tinggal di rumah sengketa
Para pelaku pembunuh Kepala Cabang Bank BUMN Cempaka Putih ternyata tinggal di rumah yang sama di Jalan Johar Baru III Nomor 42, Jakarta Pusat.
Menurut keterangan warga sekitar, para pelaku pembunuh Muhammad Ilham Pradita tinggal di rumah yang disebut tengah dalam proses sengketa.
Hal ini diungkapkan Ketua RW 09 Johar Baru, Rizal, para pelaku itu baru tinggal di wilayahnya sejak dua bulan terakhir.
Para pelaku juga telah melapor ke ketua RT setempat yang rumahnya kebetulan berada persis di sebelahnya.
“Mereka di sini kurang lebih baru dua bulan. Tinggal bareng-bareng. Mereka lapor ke kita. Ada ibu-ibu juga, istrinya salah satu pelaku,” ujar Rizal saat ditemui, Jumat (22/8/2025).
2. Sopan ke warga
Meski tinggal bersama dalam satu rumah, Rizal menyebut para pelaku selama ini tidak pernah membuat keributan.
Mereka dikenal cukup sopan terhadap warga sekitar.
“Secara umum mereka baik, kalau ketemu ya negur,” kata Rizal.
Dikatakan Rizal, dirinya memang menekankan kepada seluruh warga di wilayahnya, termasuk para pelaku untuk tertib saat berada di lingkungan rumah.
“Saya juga sempat bilang saat mereka lapor, kalau tinggal di sini harus tertib, jangan sampai bikin keributan,” imbuhnya.
Namun, kelakuan ini ternyata hanya kamuflase kelakuan mereka sebenarnya.
Rizal mengaku terkejut saat diberitahu oleh polisi bahwa penghuni rumah tersebut terlibat dalam penculikan berujung pembunuhan kepada Kepala Cabang Bank BUMN yang juga viral di media sosial.
“Kaget juga pas dikasih tahu sama polisi kalau mereka ini pelaku. Kalau sudah menyangkut soal hukum ya kita gabisa halangin karena itu kan tugasnya kepolisian,” kata Rizal.
3. Parkir mobil yang dipakai menculik di depan rumah
Terkait mobil putih yang digunakan pelaku sewaktu menculik korban sebagaimana yang terekam di CCTV, Rizal mengaku memang kerap melihatnya terparkir di depan rumah pelaku.
“Saya juga gatau mereknya apa, cuma mobilnya yang di CCTV emang mirip suka parkir di depan rumahnya, mobilnya warnanya putih,” kata Rizal.
4. Tak melawan saat ditangkap
Rizal, menceritakan penangkapan kepada tiga pelaku terjadi pada Kamis (21/8/2025) pagi sekira pukul 10.00 WIB secara senyap.
Sebab, dirinya selaku ketua wilayah di wilayah tersebut tak diberitahu oleh polisi.
Rizal juga tidak mendengar adanya suara keributan dari tempat tinggal pelaku yang kebetulah berada persis di sebelah rumahnya. Barulah pada siang harinya sekira pukul 14.00 WIB, polisi dari Polda Metro Jaya kembali datang ke rumah tersebut.
Kali ini, polisi datang dengan lebih terbuka dan meminta izin kepada Ketua RT sebelum masuk ke rumah terduga pelaku. “Yang kedua siangan, jam 2-an. Polisi datang ke rumah, minta izin mau masuk ke rumah pelaku,” ujar Rizal.
Saat polisi datang kedua kali, Rizal memang sudah mengetahui kabar terkait kepala cabang BANK BUMN yang diculik dan dibunuh. Namun ia tak menyangka ternyata pelaku penculik adalah orang yang tinggal di wilayahnya.
Warga kala itu juga banyak yang kaget dengan keberadaan polisi di wilayahnya. Sejumlah warga awalnya mengira penangkapan terkait kasus narkoba.
“Yang pertama dibawa tiga orang. Kalau yang kedua nggak ada tersangka yang dibawa dan tersangkanya juga ga ikut, mungkin cuma barang bukti aja yang diambil,” kata dia.
5. Hantam korban dengan benda tumpul
Para pelaku diduga menghabisi korban dengan menghantamkan benda tumpul ke tubuh yang bersangkutan.
Hal ini diungkap Kepala Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Brigjen Pol Prima Heru setelah melakukan otopsi pada jasad korban.
“Kemungkinan ada tekanan pada tulang leher dan dada (akibat hantaman benda tumpul) yang menyebabkan dia (korban) kesulitan bernafas,” ungkap Brigjen Pol Prima Heru Jumat (22/8/2025).
Ia menegaskan, tanda kekerasan pada tubuh korban berasal dari benda tumpul dan bukan senjata tajam ataupun sayatan.
“Luka lukanya bagian dada dan leher, benda tumpul, tidak ada (senjata tajam), hanya benda tumpul saja,” tutur Prima.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pihaknya juga melakukan pemeriksaan toksikologi untuk mengetahui kemungkinan ada atau tidak racun dalam tubuh korban. (tim)












