Settia

Memetakan Pilkada di Tangerang Selatan

Oleh : Andi Salim
Penulis Ketua Umum Toleransi Indonesia

Situasi politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 menjadikan dinamika bagi para calon kepala daerah yang bertarung pada tahun 2021. Semakin ramai, serta ada banyak issue yang beredar yang terhembus dari masing-masing kubu.

Meski tidak semuanya benar, namun banyak juga informasi yang valid sengaja dihembuskan, bahkan di Tangerang Selatan telah terbentuk 3 kontestan calon walikota dan wakil walikota yang telah terbentuk saat ini.

Calon Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie mengklaim telah mendapatkan dukungan dari 21 kelompok relawan berbagai aliansi untuk bertarung di Pilkada Tangerang Selatan 2020.

Dengan dukungan akar rumputnya menambah daftar catatan yang turut mendorong pencalonan Benyamin Davnie bersama keponakan Ratu Atut, yakni Pilar Saga Ichsan.

Mereka telah mendapat dukungan partai. Benyamin-Pilar telah didukung partai yakni Golkar, PPP, dan Gelora. Adapun syarat pencalonan telah dimiliki Golkar dengan jumlah 10 kursi, sedangkan PPP dan Gelora kosong.

Dibagian lain, pasangan Nur Azizah-Ruhamaben telah mendapat dukungan dari Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan PKB dengan total mencapai 17 kursi.

Persiapkan Mental Jelang kontestasi Pilkada Tangsel, Siti Nur Azizah Ma’ruf mengaku telah mempersiapkan segala hal.

Tidak hanya visi dan misi, tetapi juga mental dalam menghadapi padatnya agenda kontestasi.

Sedangkan Pasangan Muhamad-Sara merupakan koalisi antara PDI Perjuangan dan Gerindra. Telah kelihatannya akan didukung oleh lima partai, yaitu PAN, Nasdem, Perindo, Hanura, dan Garuda dengan total keseluruhan 19 kursi.

Muhammad menerima jaket dan KTA langsung dari Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto. Bekas Sekretaris Daerah Tangerang Selatan ini memang diusung PDIP untuk maju di Pilkada Tangsel 2020, berpasangan dengan politikus Gerindra Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

Ada 3 faktor yg perlu diperhatikan dari seorang calon kepala daerah
1. Popularitas
2. Akseptabilitas
3. Elektabilitas
Ketiga hal tersebut merupakan modal yang sangat penting bagi calon Kepala daerah.

Sekalipun berdiri sendiri, ketiga faktor itu harus terintegrasi menjadi satu dalam urutan gradasi yang tak terpisahkan. Sebab jenjang Itulah yang harus diraih para calon yang menjadi kontestan pemilihan walikota dan wakil walikota Tangerang Selatan nanti. Bila berniat merasakan Nikmatnya kursi Walikota Tangerang Selatan yang nantinya akan diperebutkan.

Disinilah nasib calon dipertaruhkan, dan Pada tahap ini pemilih mulai berfikir, siapa calon yang nanti akan dipilihnya.

Setiap calon harus berjuang ekstra keras. Dengan menguras banyak tenaga, biaya dan pikiran, maka akan tiba saat yang ditunggu tunggu dan sekaligus menjadi momen yang sangat mendebarkan, yaitu hari pencoblosan. Saat masuk bilik suara, sebagian pemilih tentu sudah mantap atas siapa yang akan dicoblosnya.

Namun Swing Voter menjadi hal yang akan mencengangkan banyak pihak, Elektabilitas yang berlangsung saat itu merupakan hasil akhir dari proses perjuangan yang panjang dan diharapkan berdampak pada korelasi positif antara tingkat Popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas yang telah disuarakan pada masa kampanye yang telah disediakan dengan hasil yang akan dihitung melalui proses perhitungan KPUD atau setidaknya ukuran Quick Count sebagai pijakan awalnya.

Segala hal yang telah dilakukan mulai dari politik pencitraan, pemaparan visi dan misi sejatinya ditujukan kepada mereka yang mampu berfikir objektif yang secara rasional akan memilihnya, namun tidak demikian bagi pemilih tradisional, rasa kedekatan dan hubungan emosional tentu akan terbungkus sebagai pemilih militan dari masing-masing calon,

Kehadiran Tim sukses terkadang menghamburkan upaya utk mendekati para pemilih tersebut tanpa mengetahui latar belakang tentang siapa calon pemilih yang akan didekati.

Hidup di dunia memang sebuah kompetisi, ada yang menjadi pemenang, namun ada juga yang akan tersingkir dari pertandingan. Walau semua orang berusaha agar dirinya terpilih menjadi seorang pemenang.

Namun hanya mereka yang bersungguh sungguh dengan persiapan yang matang dan memiliki perjuangan yang berakar dihati masyarakat serta mereka yang berkwalitaslah yang akan menjadi pemenangnya.

Sebab idealnya kepala daerah itu harus mampu melakukan hal-hal yang diharapkan oleh masyarakatnya antara lain yaitu:

  1. Menciptakan suasana Toleransi yg baik, sehingga lingkungan yg tersedia benar-benar menjadi tempat yang ideal bagi kelangsungan hidup.
  2. Diperhatikannya sarana kesehatan yang memadai sehingga siapapun yang membutuhkan perlindungan kesehatan tentu tidak lagi mengalami kesulitan apapun baik penanganannya maupun biaya yang akan membebaninya.
  3. Tercukupinya sarana Pendidikan yang memadai guna tumbuh kembangnya generasi muda yang akan kelak menjadi tulang punggung keluarga hingga negara nantinya.
  4. Tersedianya lapangan pekerjaan bagi siapapun yang membutuhkannya guna tercukupinya kebutuhan hidup yang layak.
  5. Kemudahan akses memperoleh modal bagi usaha mikro kecil dan menengah.

Namun saat ini kita perlu merenungkan, apakah layak istilah putra daerah itu dimunculkan bagi seorang untuk berkesempatan memimpin didaerahnya, sedangkan narasi yang dikedepankan dalam pengertian Demokrasi menuntut kepada hal yang bersifat demi integrasi kebangsaan, sehingga pengertian putra daerah harus tersudutkan pada ciri-ciri sebagai berikut :

1. Mengenal Daerahnya dengan baik
2. Mampu berbahasa daerah setempat
3. Mempunyai visi dan misi untuk membangun daerah tersebut
4. Dikenal oleh masyarakat daerah setempat
5. Pernah tercatat sebagai penduduk dan tinggal didaerah setempat

Maka dari syarat tersebut, tentu akan menghilangkan kesan keaslian dan faktor keturunan yang berakar pada asal usul sebagai putra daerah asli, sehingga masyarakat tradisional justru tidak mengetahui mana calon yang semestinya mereka pilih nantinya oleh karena persoalan pengaburan dari istilah tersebut.

Senada dengan tulisan saya diatas, saya mengutip pernyataan dari Andi Syafrani, Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah, yang mengatakan Kota Tangsel sudah 10 tahun dipimpin oleh orang dari luar. Sekarang sudah saatnya kota pemekaran dari Kabupaten Tangerang ini dipimpin oleh orang yang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Tangsel.

“Sudah 10 tahun Tangsel berdiri dan selama itu pula kota ini dipimpin oleh orang yang tidak berkaitan langsung secara emosional dan berlatar belakang dengan Tangsel,” katanya, Senin, 3 Februari 2020.

Andi Syafrani pun menambahkan apabila ada pemimpin kelak yang berasal dari Tangsel, maka akan bisa bersentuhan lebih dalam dengan masyarakat Tangsel sehingga diharapkan akan mudah untuk memahami persoalan yang ada di Tangsel.

Dari pernyataan ini tentu kita bisa menggaris bawahi bahwa keterpilihan asli putra daerah bukan sesuatu yang diharamkan, dan kita tidak perlu menafikan istilah tersebut menjadi sesuatu yang bersifat primitif.

Oleh karenanya kesempatan itu harus selalu terbuka dan tidak boleh ada yang menjadikannya bagian yang tabu untuk dikemukakan.

Sehingga kita malah terseret pada doktrinasi pengembangan pola doktrinasi kekuasaan dinasty yg dibangun hingga meneruskannya kedaerah lain dengan mengatasnamakan Popularitas, Akseptabilitas dan Elektabilitas, sebagaimana yang saya sebutkan diatas.

Maka hadirnya calon dari pasangan Muhammad – Saraswati tentu sebagai jawaban itu semua untuk mewakili sosok asli putra daerah yang kita maksudkan diatas.

Maka jika ada pihak yang meragukan beliau, sesungguhnya dia telah mengabdikan dirinya selama puluhan tahun selaku ASN hingga memenuhi aspek pengalaman dan pengetahuan hampir setiap Lini kehidupan ditangerang selatan ini.

Semoga hal ini menjadi ruang berfikir bagi kita semua, salam dari kami, Relawan Muhammad – Rahayu, semoga Tuhan memberkati kita semua?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *