Kisah Pilu Dibalik Tabrakan Maut KA Argo vs Commuter, Ditunggu-tunggu Sang Ayah Sudah Tak Bernyawa

Adelia Rifani (26) adalah anak bungsu yang dikenal sangat dekat dengan ayahnya. Ia baru bekerja selama empat bulan di sebuah perusahaan layanan digital di Jakarta dan setiap harinya diantar jemput oleh sang ayah untuk bekerja. Sebuah kepulangan yang dinanti berujung duka mendalam bagi keluarga di Cibitung, hanya berselang lima hari setelah ulang tahun korban yang ke-26. (foto: Bekasi Info)

Korban Tabrakan Maut Sang ayah menunggu di Stasiun namun dapati putrinya sudah meninggal dunia di Rumah Sakit

Bekasi, EDITOR.ID – Tabrakan maut antara KA Argo Anggrek vs Commuter Line di stasiun Bekasi Timur yang menewaskan 16 penumpang pada Senin malam meninggalkan kisah pilu para korban. Seorang ayah salah satu korban menunggu di stasiun dengan penuh kerinduan yang tak tertahankan karena putri tercintanya kuliah di Unibraw Malang.

Namun malang menimpa Adelia Rifani (26), alumni Teknik Geofisika Universitas Brawijaya. Ia menjadi korban kecelakaan maut antara Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam.

Ketika sang ayah menunggu di stasiun yang ia dapati justru anaknya telah merenggang nyawa di Rumah Sakit setelah menjadi korban tabrakan maut yang sangat kelam tersebut.

Kronologi Singkat

Pukul 20.30 WIB Adelia sempat menelepon ayahnya, Haerusli, mengabarkan posisi di Stasiun Kranji dan minta dijemput di Stasiun Cibitung.

Malam itu, sekitar pukul 20.30 WIB, sang ayah, Haerusli (63), menerima panggilan telepon yang biasa ia nantikan.

Adelia mengabarkan posisinya yang baru saja melewati Stasiun Kranji dan bersiap pulang menuju kediaman mereka di Cibitung, Bekasi.

“Dia bilang, minta dijemput di Stasiun Cibitung. Dia telepon udah sampe Stasiun Kranji,” kata Haerusli saat ditemui di rumah duka, Perumahan Bekasi Regensi 1, Wanasari, Cibitung, Selasa (28/4).

Namun, pertemuan yang dijanjikan itu tak pernah terjadi.

Haerusli yang gelisah mulai mencari keberadaan putrinya hingga ke Stasiun Bekasi Timur, namun tidak mendapatkan informasi apa pun.

Kepastian menyakitkan itu justru datang dari anggota keluarga lain yang menyisir rumah sakit terdekat.

Haerusli kehilangan kontak, sebagai sang ayah yang menunggu tidak kunjung bertemu putrinya, Adelia. Setelah mencari kesana-kemari, keluarga akhirnya menemukan korban di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur.

“Waktu saya ke Stasiun Bekasi Timur, nggak ketemu. Nggak ada kabar lah gitu. Tapi pas saudara-saudara yang cek rumah sakit, ada di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur. Di lokasi kejadian saya nggak ketemu,” ungkap Haerusli kepada info Bekasi.

Sebagai anak bungsu, Adelia dikenal sangat dekat dengan ayahnya.

Meski telah meniti karier di sebuah perusahaan layanan digital di Jakarta selama empat bulan terakhir, ia tetap memilih tinggal di rumah orang tuanya.

Setiap pagi, Haerusli-lah yang setia mengantarkan putri tercintanya untuk berangkat bekerja.

“Deketnya ke saya. Tapi kalau namanya anak, tetap aja kalau mau berangkat pergi kerja tetap izin sama ibunya. Kalau saya kan yang nganter,” tutur Haerusli.

Sesaat sebelum kejadian, Adelia sempat mengirimkan foto dirinya di dekat pintu kereta kepada orang tuanya. Sebuah foto kini menjadi kenangan visual terakhir yang ia kirimkan untuk orang tuanya sebelum maut menjemput.

Sosok Korban Adelia

Adalah anak bungsu yang dikenal sangat dekat dengan ayahnya. Ia baru bekerja selama empat bulan di sebuah perusahaan layanan digital di Jakarta dan setiap harinya diantar jemput oleh sang ayah untuk bekerja.

Sebuah kepulangan yang dinanti berujung duka mendalam bagi keluarga di Cibitung, hanya berselang lima hari setelah ulang tahun korban yang ke-26

Lima hari setelah merayakan ulang tahun ke-26, tawa Adelia Rifani padam selamanya. (*)

Leave a Reply