Jakarta, EDITOR.ID,- Pemutaran perdana Film berjudul Nia digelar di bioskop Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Senin (24/11/2025) malam. Pemutaran perdana film Nia ini dihadiri Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) 2012-2015 Komjen Pol Purn Dr Anang Iskandar. Pasalnya film Nia mengisahkan seorang penyalahguna narkotika terlibat dalam kasus pembunuhan gadis penjual gorengan di tanah Minang.
Pemutaran perdana di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan dihadiri puluhan aktivis anti narkoba dan warga Minang perantau di Jakarta yang tergabung dalam Gebu Minang. Acara ini juga dihadiri para tokoh Sumatera Barat, sutradara, produser dan jajaran pemain.
Film ini mengangkat kisah nyata atau true story meninggalnya seorang penjual gorengan bernama Nia di Minang yang dibunuh oleh penyalahguna narkotika. Sepanjang kisah cerita film ini diwarnai kepiluan hingga penonton tak bisa menahan isak tangis.
Usai menonton film perdana “Nia” mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Purn Anang Iskandar memberikan pandangannya bahwa film ini memberikan pesan kepada pemirsa bagaimana dampak dari seseorang yang sakit atau menjadi penyalahguna narkotika jika tak segera ditangani pemerintah.
Ia akan menjadi orang yang mengalami depresi, kelainan mental dan sakit psikologisnya.
“Pemerintah jangan abai terhadap penyalahguna narkotika. Pemerintah harus menempatkan mereka sebagai orang yang harus dilindungi, disembuhkan, dengan menjatuhkan hukuman rehabilitasi bukan dipenjara,” ujar Anang usai menyaksikan film Nia.
Bahkan menurut Anang Iskandar, karena mengalami perubahan psiklologis jadi lebih emosional, penyalahguna narkotika bisa berpotensi berbuat kejahatan hingga yang fatal membunuh.
“Penyalahguna narkotika jika tak segara disembuhkan, ia akan mengalami tekanan mental hebat, cenderung emosional dan berpotensi melakukan kejahatan akibat pengaruh narkotika, ini yang harus diwaspadai,” kata Anang Iskandar.
Oleh sebab itu Anang Iskandar meminta pemerintah jangan abai terhadap penyalahguna narkotika dengan membiarkan mereka dipenjara dan menjurus menjadi seorang penjahat. Seharusnya negara memperlakukan dan menempatkan penyalahguna narkotika dengan hukuman rehabilitasi kepada mereka.
“Seorang penyalahguna narkotika harus dihukum rehabilitasi, dilindungi dan disembuhkan agar dia tak lagi memiliki ketergantungan dengan narkotika, bisa sembuh dan normal kembali, lebih produktif sebagai warga yang baik,” kata Anang.
Sinopsis Film Nia
Film Nia bagian dari industri film Indonesia yang kembali menghadirkan karya yang mengetuk kesadaran publik. sebuah drama berbasis kisah nyata yang terjadi di Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Bagaimana seorang gadis penjual gorengan dibunuh dengan sadis oleh penyalahguna narkotika.
Film ini tidak hanya menyajikan cerita pilu, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang pentingnya perlindungan perempuan dari ancaman kekerasan yang masih marak di negeri ini.
Disutradarai oleh Aditya Gumay dan diproduseri oleh Smaradana Pro bersama Ronny Mepet, dengan Musik di garap oleh Adam S Permana, film “Nia” akan mulai tayang serentak di seluruh jaringan bioskop pada tanggal 4 Desember 2025. Sejumlah aktor dan aktris berbakat, seperti Syakira Humaira, Helsi Herlinda, Neno Warisman, Eka Maharani, dan Qya Ditra, turut memperkuat film ini.
“Nia”mengangkat kisah hidup Nia Kurnia Sari, seorang gadis 18 tahun yang menjadi penopang ekonomi keluarga setelah kedua orang tuanya berpisah. Dalam film ini, Syakira Humaira memainkan peran Nia dengan penuh ketulusan, menggambarkan perjuangan seorang anak muda yang berusaha bertahan untuk keluarganya—ibu yang sakit (Helsi Herlinda), kakak dan adik kecilnya.
Namun perjalanan hidup Nia berubah menjadi tragedi ketika ia menjadi korban kekerasan keji yang dilakukan oleh seorang pemuda pengangguran bernama Andri (Qya Ditra).Dalam perjalanan pulang berjualan, Nia diserang, diperkosa, dan dibunuh secara brutal. Tiga hari kemudian, jasadnya ditemukan di tepi irigasi Kayu Tanam—menyisakan luka mendalam yang tidak mudah dilupakan.
Kehadiran Neno Warisman sebagai Makwo memperkuat dimensi emosional film ini. Sosoknya menjadi gambaran kepedihan keluarga, sekaligus suara masyarakat yang menuntut keadilan bagi korban.
Film “Nia” lahir dari keprihatinan para pembuat film terhadap meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Melalui narasi yang menyentuh dan pendekatan cerita yang humanis, film ini mengajak penonton memahami bahwa kekerasan bukan sekadar kasus dalam angka statistik—tetapi tragedi nyata yang merenggut masa depan seseorang.
Nia adalah pengingat bagi kita semua bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk merasa aman dan dihargai. Ini bukan hanya cerita tragis, tetapi seruan untuk lebih peduli dan melindungi-
Selain tragedi yang mengguncang, film ini juga menghadirkan sisi lembut dari kehidupan Nia melalui kisah cintanya dengan seorang pemuda yang tengah berjuang melawan penyakit jantung. Kisah ini memberi warna lain yang menghangatkan hati, sekaligus memperlihatkan bahwa di balik kisah kelam, selalu ada harapan dan cinta yang ingin diperjuangkan.
Dengan dukungan visual sinematik, akting para pemain yang total, serta alur cerita yang kuat, “Nia” diharapkan menjadi salah satu film Indonesia yang berpengaruh di akhir tahun 2025.
Film Nia siap menggugah penonton melalui rangkaian adegan yang tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga mengajak masyarakat merenungkan pentingnya perlindungan dan penghargaan terhadap perempuan di mana pun mereka berada, akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Desember 2025, Sebuah film yang tidak hanya ditonton—tetapi dirasakan sebagai seruan kemanusiaan. ***












