
Membongkar praktik rahasia badan intelijen Amerika (CIA), selama era perang dingin, termasuk operasi ilegal, eksperimen manusia, dan rencana pembunuhan tokoh asing.
Salah satu temuan paling mengejutkan adalah keberadaan senjata yang kemudian dikenal publik sebagai heart attack gun, yakni pistol kecil berpeluru panah beracun yang dikembangkan oleh agen CIA hingga saat ini sudah diakui dalam forum dengar pendapat Komite Church Senat AS tahun 1975.
Senjata ini dikembangkan sebagai bagian dari program pembunuhan rahasia CIA yang lebih luas.
Dalam laporan Church Committee juga terungkap bahwa CIA pernah merancang berbagai metode pembunuhan tersembunyi, termasuk cerutu beracun, pena suntik racun, hingga kapsul saxitoxin untuk bunuh diri agen jika tertangkap.
Semua ini menunjukkan betapa seriusnya upaya lembaga tersebut mencari cara membunuh tanpa jejak.
Direktur CIA saat itu William E. Colby secara langsung membawa senjata tersebut ke ruang sidang sebagai bukti fisik.
Senjata itu bekerja dengan sistem gas bertekanan untuk menembakkan anak panah mikro berukuran sangat kecil.
Pistol kecil legendaris tersebut diletakkan di meja sidang Senat Amerika Serikat, bentuknya sederhana, hampir seperti senjata biasa. Namun isi di baliknya jauh lebih mengerikan.
CIA mengakui bahwa senjata tersebut dirancang untuk membunuh manusia secara senyap menggunakan racun mematikan bernama saxitoxin.
Adapun cara kerja pistol ini sama dengan menembakkan anak panah mikro ujungnya berlapis saxitoxin (Zat yang sangat mematikan), peluru panah sengaja dirancang untuk tampak seperti gigitan/sengatan serangga, namun kemampuannya menyebabkan kematian yang menyerupai serangan jantung alami atau sebab alamiah .
 Pistol kecil, ringkas menggunakan tekanan gas sebagai pendorong untuk menembakkan anak panah kecil seukuran jarum. Akurasinya diperlukan untuk jarak dekat, dan dampak tertusuknya tidak menimbulkan rasa sakit, hanya terasa menyerupai gigitan nyamuk.
 Ujung anak panah sebagai peluru mengandung saxitoxin beku, neurotoksin yang sangat kuat yang biasanya ditemukan di alga beracun (“red tide”) dan kerang.
Menurut dokumen resmi yang dibuka ke publik, CIA menyimpan stok saxitoxin dalam jumlah kecil karena daya bunuhnya sangat tinggi bahkan dalam dosis mikrogram.
Setelah ditembakkan mengenai sasaran, maka masuk lah saxitoxin
ke aliran darah, kemudian saxitoxin memblokir saluran natrium di sel saraf, hingga melumpuhkan otot pernapasan. Korban pun akan mengalami gagal napas yang menyebabkan jantung dipastikan terhenti dalam hitungan menit, sehingga sulit dibedakan dengan lkematian akibat sebab alamiah jika tidak dilakukan pengujian toksikologi khusus.
Senjata ini dibawa ke hadapan Komite Church oleh Direktur CIA William Colby sebagai bukti operasi rahasia dan rencana pembunuhan CIA.
Pada era 1960an hingga awal 1970an, badan intelijen AS percaya bahwa kematian akibat racun ini dapat terlihat seperti serangan jantung atau kematian alami mendadak, terutamla jika tidak dilakukan pemeriksaan toksikologi khusus.
Pengungkapan ini, bersama dengan temuan mengerikan lainnya, menyebabkan Presiden Gerald Ford mengeluarkan perintah eksekutif yang melarang pembunuhan politik oleh agen AS, sebuah larangan yang tetap berlaku hingga hari ini.
Meski keberadaan senjata dart beracun ini diakui secara resmi, laporan Senat menyatakan tidak ada bukti publik yang memastikan bahwa senjata tersebut pernah digunakan dalam operasi pem lubunuhan nyata.
Namun fakta bahwa senjata itu dirancang, diuji, dan disimpan sudah dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap hukum dan etika negara demokratis.
Pengungkapan pistol kecil ini memicu kemarahan publik dan tekanan politik besar. Dampaknya langsung terasa pada kebijakan nasional Amerika Serikat.
Wajar Presiden Gerald Ford kemudian mengeluarkan perintah eksekutif yang secara tegas melarang keterlibatan pemerintah AS dalam pembunuhan politik. Larangan ini diperkuat kembali pada masa pemerintahan berikutnya dan seterusnya.
Hingga kini pistol kecil berpeluru panah beracun ini oleh CIA tetap abadi dijadikan simbol kelam dari operasi rahasia Perang Dingin. Hingga menjadi bukti bahwa di balik retorika keamanan nasional di negara demokratis pernah ada teknologi pembunuhan yang dirancang agar kematian manusia tampak seperti takdir alami. (*)
.












