KH. Achmad Asrori Al Ishaqy RA, Mursyid Besar asal Surabaya, Ajarkan Tawadhu

KH Ahmad Asrori al-Ishaqi dan Habib Umar bin Hadifz. (Foto: dok/ngopibareng.id)

Namun, budaya-budaya lokal tersebut justru digunakan sebagai sarana pendekatan ataupun sarana untuk menarik minat penduduk pribumi terhadap Islam.

Sehingga, setelah timbul ketertarikan dalam diri penduduk pribumi, pada tahap selanjutnya, secara psiklogis mereka tentu juga akan lebih siap untuk menerima dakwah Islam.

Apa yang dilakukan oleh Yai Rori muda pun kurang lebih juga seperti itu. Beliau tak langsung melarang aktivitas-aktivitas kurang produktif (untuk tak menyebutnya: kurang bermanfaat, seperti nyangkrukan dan lainnya) yang telah menjadi kebiasaan para pemuda jalanan yang menjadi obyek dakwah Beliau pada waktu itu.

Namun, aktivitas-aktivitas tersebut justru dijadikan oleh Yai Rori muda menjadi semacam ‘pintu masuk’ untuk mulai mendakwahi dan membimbing mereka.

Secara spesifik lagi, meskipun pelan namun pasti, dalam hal ini mereka dibimbing agar tak hanya mau ngumpul-ngumpul dengan sesama komunitasnya sendiri saja. Namun mereka juga dibimbing agar mau ngumpul-ngumpul bersama dengan orang-orang shalih melalui majlis dzikir.

Konon saat Yai Rori belajar di Pondok Pesantren, diketahui oleh santri lain bahwa Yai Rori malah tidak aktif mengikuti kegiatan belajar mengaji (membaca kitab). Ketika hal itu dilaporkan kepada KH Mustain Romli selaku pengasuh Pondok Pesantren malah memakluminya. “Biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” ucap KH Mustain Romli saat itu.

Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan Yai Rori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT).

KH Muhammad Utsman Al Ishaqy, ayah Yai Rori juga merasa kagum atas kepintaran anaknya. Bahkan, Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau belajar mengaji kepadanya.”

Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman untuk menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus Kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Padahal saat itu usai Yai Rori masih relatif sangat muda yakni 30 tahun. (Tim)

Leave a Reply