“Kami sebelumnya dari Vietnam dan seharusnya stay di Indonesia (Bali). Tapi, karena batal berlabuh, jadinya dari semalam kapal menuju Australia untuk melanjutkan pelatihan dengan militer di sana,” kata Patrcik, Selasa (18/7/2023) sore.
sebenarnya, pada (16 Juli 2023) sudah berada di perairan lepas pesisir Tanjung Benoa, Bali, untuk melaksanakan kunjungan/port visit dari hari Minggu (16/7) sampai dengan Kamis (20/7).
Kapal induk yang menjadi flagship Carrier Strike Group 5 US Navy ini tengah menjalani penugasan bersama sepasang cruiser Ticonderoga-class, USS Antietam (CG 54) dan USS Robert Smalls (CG-62).
Diketahui, pada akhir Juni 2023 lalu, ketiga kapal tersebut mengunjungi Da Nang, Vietnam, menandai kunjungan pertama ke sana pasca pandemi.
Patrick menuturkan ini merupakan kali pertama kapal terbesar kedua milik militer Amerika Serikat tersebut datang ke Bali. Menurutnya, misi kedatangan mereka ke Bali juga dalam rangka menjaga hubungan dengan militer Indonesia.
“Untuk misi khusus lebih kepada membawa perdamaian. Biasanya Presiden Amerika mengirimkan kapalnya ke negara lain apabila ada permasalahan global dan untuk menunjukkan bahwa Amerika Serikat selalu mendukung negara yang didatangi,” imbuhnya
Tak jadi berlabuh di Bali – Indonesia melanjutkan operasi rutin di Samudera Hindia.
Atase Laut Amerika untuk Indonesia Commander S. Patrick Panjeti mengatakan, karena hal ini disebabkan cuaca buruk seperti ombak besar dan angin kencang melanda perairan Bali, kapal terpaksa melanjutkan pelayaran ke Australia pada Senin (17/7) malam kemarin.
Rupanya Amerika Serikat-Australia akan mengelar latihan pasukan tentara angkatan laut antar negara. Dari Australia, kapal akan berlayar ke Filipina dan Jepang.
“Karena keterbatasan cuaca dan ombak kapal sudah mencoba berkali-kali mencoba docking tapi tidak bisa dan kemarin malam berangkat ke negara selanjutnya,” katanya di Denpasar, Selasa (18/7).
Selanjutnya kapal induk tersebut melanjutkan perjalanannya — sesuai dengan tugasnya menjelajah samudera untuk membela kepentingan Amerika Serikat, termasuk mendukung aliansi, kemitraan, dan kepentingan maritim kolektif di kawasan Indo-Pasifik.
“Alasan datang ke sini karena ingin menunjukkan dukungan kerja sama antara militer Indonesia dan Amerika Serikat,” sambung Patrick.
Patrick menuturkan, kapal ini merupakan kapal kedua terbesar milik Amerika Serikat. Kapal ini mengangkut sekitar 7 ribu tentara angkatan laut Amerika Serikat dan sekitar 75 pesawat tempur. Kapal ini juga memiliki landasan pesawat terbang












