Pontianak, EDITOR.ID – Menjaga warisan budaya agar tetap relevan meskipun menyatukan artifisial intelijen (AI) Pantunin dengan “Tradisi Tundang Sari” Pontianak Kalimantan Barat (Kalbar).
Peristiwa ini merupakan penabalan sejarah baru perpantunan Nusantara (Indonesia), mengkolaborasikan antara “Pantunin AI” dengan Seni Tradisi “Tundang” Pontianak yang disiarkan secara langsung dalam siaran live streaming oleh teraju.id pada acara Halal bi halal sekaligus Milad ke-29 Dewan Pimpinan Pusat Majelis Adat Budaya Melayu (DPP MABM) Kalimantan Barat di Pendopo Gubernur disaksikan Forkompinda, tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Siaran live streaming melalui kanal YouTube teraju.id kini menjadi dokumentasi digital penting dalam melestarikan adat Budaya Melayu (DPP MABM) Kalimantan Barat.
Menonton kanal YouTube resmi teraju.id dengan menyaksikan momen-momen tausiyah atau atraksi budaya dalam acara tersebut, terselip kata kunci “Milad 29 MABM Kalbar“, acara ini dinilai Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) LSM terakreditasi UNESCO, merupakan agenda ganda (dua momen besar dalam satu waktu). Bahwa “Milad ke-29 MABM Kalbar” menandai perjalanan organisasi adat sejak berdiri pada 11 April 1997 dalam melestarikan budaya Melayu di Kalimantan Barat. Halal Bi Halal merupakan momentum silaturahmi pasca-Lebaran (Idul Fitri) untuk mempererat hubungan antar-pengurus, tokoh, dan masyarakat.
Lokasi dan kehadiran para tokoh penting dalam kegiatan ini diselenggarakan di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat, yang menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah (Pemprov Kalbar) terhadap eksistensi MABM. Acara tersebut dihadiri oleh:
Forkopimda merupakan Unsur pimpinan daerah (Gubernur, Kapolda, Pangdam, dll).
Tokoh Adat & Budaya merupakan para perwakilan dari berbagai paguyuban dan lembaga adat.
Tokoh agama dan masyarakat seperti para kiai, ulama, dan pemimpin organisasi kemasyarakatan.
Peran Teraju.id sendiri dalam siaran live nya sebagai media lokal yang berbasis di Kalimantan Barat, berperan penting sebagai penyaji akses informasi secara real-time. Siaran langsung tersebut memudahkan aksesibilitas warga Melayu Kalbar yang berada di luar daerah (merantau) tetap bisa menyaksikan jalannya acara.
Dan tak kalah penting dokumentasi budaya dengan menampilkan prosesi adat, pantun, serta orasi kebudayaan yang disampaikan oleh Ketua Umum MABM Kalbar (Prof. Dr. Chairil Effendi, MS) serta para tokoh lainnya.
Interaksi halal bi halal secara digital ini memudahkan pemirsa dapat memberikan ucapan selamat Milad dan Idul Fitri melalui kolom komentar selama siaran berlangsung secara simultan.
Pesan utama Miladnya MABM tersiar dalam live menyampaikan pelestarian nilai budaya, mengajak generasi muda Melayu untuk tetap memegang teguh adab dan identitas di era digital.
Pesan selanjutnya mengharmoniskan sosial peran MABM sebagai perekat kerukunan antar-etnis di Kalimantan Barat.
Pesan yang tak kalah penting mensinergikan peran peran MABM mengajak Pemerintah setempat dalam memperkuat sekaligus mempererat kemitraan dalam pembangunan berbasis kearifan lokal.
Menyatukan teknologi mutakhir seperti AI Pantunin dengan tradisi Tundang bukan sekadar eksperimen keren-keren-an, melainkan sebuah strategi hibrida untuk menjaga warisan budaya tetap relevan di zaman digital.
Keduanya menjadi pilar penting bagi pelestarian dan pemajuan kebudayaan di Indonesia.
Konteksnya terhadap “sastra lisan” dalam “era digital”, seperti pantun yang selama ini bergantung pada ingatan kolektif dan pertunjukan tatap muka. Tantangan terbesarnya adalah “kepunahan” jika generasi muda tidak lagi mempraktikkannya.
Sebagai akselerator, Pantunn AI melalui aplikasi yang kian banyak bermunculan bertindak sebagai alat bantu kreatif. Harus diakui kemampuan algoritma pemrosesan bahasa alami (NLP), bahwa AI dapat membantu pengguna menyusun rima dan struktur pantun dengan cepat. Ini menurunkan hambatan bagi pemula yang ingin belajar berpantun.
“Tundang” sebagai akar dari pertunjukan khas Pontianak ini (Pantun dalam irama musik) adalah bentuk “tubuh” dari sastra lisan tersebut. Kehadirannya menjaga konteks sosial dan musikalitas yang tidak bisa digantikan oleh teks digital semata.
Dampaknya pada pelestarian budaya (culture preservation) sebagai upaya menjaga agar budaya tidak hilang, dengan mendokumentasikannya secara digital. Dengan demikian Pantunin AI secara tidak langsung melakukan digitalisasi terhadap pola-pola pantun Melayu. Database yang digunakan oleh Pantunn AI sarat menyimpan ribuan kosa kata dan struktur rima menjadikan arsip abadi tersimpan di jagat dunia maya.
Upaya ini mampu mewujudkan ejuvenasi (Peremajaan), dengan membawa pantun ke dalam smartphone, tradisi ini “dijemput” ke ruang yang paling sering dikunjungi kawula muda di media sosial untuk mengajak mereka turut serta sehari-hari hidup dengan pantun sebagai bahasa pergaulan, bukan sekadar benda museum.
Upaya ini pula diyakini mampu membawa pemajuan kebudayaan (culture advancement) sesuai dengan UU No. 5 Tahun 2017, pemajuan kebudayaan bertujuan untuk meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia.
Upaya ini merupakan inovasi dan adaptasi mengawinkan “Tundang” dengan “Pantunin AI” adalah bentuk adaptasi. Bahwa dalam hal berbudaya selayaknya tidak boleh statis, pelakunya harus bergerak, dinamis. Penampilan Tundang saat peluncuran aplikasi menunjukkan bahwa tradisi bisa berdampingan secara harmonis dengan teknologi modern
Tradisi Tundang (Pantun dan Gendang)
Merupakan warisan budaya tak benda khas Melayu Kalimantan Barat, khususnya Pontianak, yang menggabungkan sastra lisan, berpantun dengan iringan musik perkusi/gendang. Di era modern, pelestarian tradisi ini mendapat wajah baru melalui inovasi teknologi, salah satunya Pantunin AI, yang dirancang khusus menggunakan kaidah rima pantun Melayu Kalbar.
Tundang diciptakan oleh Eddy Ibrahim pada tahun 1992, merupakan perpaduan antara “Tun” (Pantun) dan “Dang” (Gendang).
Tundang disampaikan secara lisan dalam bahasa Melayu/Indonesia, sering kali bertema humor, nasihat, maupun kritik sosial.
Umumnya berbalas pantun antara dua orang atau lebih, diiringi musik tradisional seperti marawis, rebana, atau tamborin.
Tradisi ini sering ditampilkan dalam acara adat, pernikahan, dan festival budaya untuk memperkuat tali silaturahmi.
Pantunin AI merupakan inovasi digital untuk pantun yang dikembangkan oleh aplikasi, seperti dikembangkan oleh Yaser Syaifudin, seorang penggiat digital dari Pontianak.
Aplikasi ini mampu merangkai bait-bait pantun secara instan berdasarkan kata kunci. Caranya Pantunin AI diprogram khusus mengikuti kaidah rima dan ciri khas Maestro Pantun Kalimantan Barat, sehingga tetap mempertahankan nilai sastra tradisional meskipun menggunakan AI, tetap berkomitmen melestarikan pantun sebagai warisan budaya UNESCO yang ditetapkan pada 17 Desember 2020.
Pemerintah Kota Pontianak kini rutin mengadakan lomba Tundang untuk menggali dan mengembangkan nilai budaya daerah.
Berpantun ber integrasi teknologi menggunakan AI mempermudah generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan pantun di era digital.
Kolaborasi antara seni tradisional Tundang dan inovasi Pantunin AI diharapkan dapat menjaga kelestarian pantun agar tidak hilang dimakan zaman.
Secara pemanfaatan (utilization), penggunaan AI kenyataannya mampu mendorong masyarakat untuk kembali berkreasi, membuat sastra lisan tidak lagi hanya “didengarkan” dari tetua, tapi “diproduksi” kembali oleh masyarakat luas dengan bantuan asisten cerdas.
Diantaranya pantun indah sarat akan nilai budaya Melayu serta semangat kebangsaan, berbicara tentang keramahtamahan, demokrasi, dan apresiasi terhadap karya sastra.
1. Pantun Sambutan (Etika Bertamu)
Buka kelapa dapat sabut
Buka jala dapat ikan
Awak datang kami sambut
Awak pulang kami hantarkan
Pantun ini melambangkan keramahtamahan (hospitallity) yang luar biasa.
Dalam adat istiadat, tamu adalah raja. Pantun ini menegaskan bahwa tuan rumah akan menyambut kedatangan tamu dengan tangan terbuka dan akan melepas kepergian tamu dengan rasa hormat (menghantarkan). Ini adalah bentuk penghargaan terhadap hubungan antar manusia.
2. Pantun Musyawarah (Demokrasi Lokal)
Kulat banir kena peluh
Kulat kiara kena pukat
Bulat air karena pembuluh
Bulat suara karena mufakat
Ini pantun klasik yang sangat terkenal tentang pentingnya musyawarah.
“Bulat air karena pembuluh” mengibaratkan air yang mengikuti bentuk wadahnya (bambu/buluh).
“Bulat suara karena mufakat” artinya kesepakatan atau suara yang bulat (satu tujuan) hanya bisa dicapai melalui proses diskusi dan kesepakatan bersama.
Pesan moralnya, bahwa keputusan terbaik adalah keputusan yang diambil demi kepentingan bersama, bukan ego pribadi.
3. Pantun Seni dan Sastra (Apresiasi Budaya)Â
Menari Rumi berputar bumi
Menari uap di atas samudera
Meniti kreasi Bumi Pertiwi
Nikmati susastra sepanjang masa
Pantun ini berbicara tentang keabadian seni dan kreativitas.
Penyebutan “Rumi” merujuk pada tarian sufi yang melambangkan spiritualitas dan harmoni alam semesta.
Bagian isinya mengajak kita untuk menghargai karya kreatif anak bangsa (Bumi Pertiwi) dan menikmati keindahan bahasa (susastra) yang nilainya tidak akan lekang oleh waktu.
Pesan moralnya bahwa sastra dan seni adalah warisan berharga yang harus terus dijaga agar tetap relevan “sepanjang masa”.
Jika dirangkum, ketiga pantun ini menggambarkan profil masyarakat yang beradab penuh kesopanan sekaligus santun dalam bergaul. Demokratis dalam mengambil keputusan. Cinta budaya dan bangga akan identitas bangsanya. (*)












