Menurut keyakinan masyarakat Sumba, sebelum para Marapu turun ke bumi, hubungan antara manusia dengan Tuhan, sebagai penguasa tertinggi, dapat dilakukan secara langsung. Namun ketika para Marapu memutuskan untuk tinggal di bumi, maka hubungan antara Tuhan dan manusia menjadi terputus.
Hubungan antara Tuhan dengan dengan manusia yang ada di alam dunia hanya dapat dilakukan melalui perantara arwah nenek moyang, yaitu para Marapu. Melalui Marapu inilah manusia dapat memohon pertolongan dan petunjuk kepada Hupu Ina-Hupu Ama. Demikian sebaliknya melalui Marapu pula Hupu Ina-Hupu Ama mengirimkan pesan atau jawaban atas permohonan dan petunjuk yang disampaikan manusia yang masih hidup di dunia.
Melihat peran dan fungsinya bisa dikatakan bahwa Marapu merupakan representasi keberadaan Tuhan (Hupu Ina-Hupu Ama) di alam dunia. Sebagai representasi atau wakil Tuhan di dunia, maka Marapu harus dipuja, karena dengan memuja Marapu maka Dia akan memberikan pertolongan, perlindungan dan keselamatan, kesuburan dan kebahagiaan. Demikian sebaliknya, jika jika Marapu tidak disembah maka akan menimbulkan malapetaka, bencana dan kesusahan serta hal-hal buruk lainnya.
Selain menjelaskan konsep teologi (ketuhanan) pembicaraan senja itu juga membahas kosmologi masyarakat Marapu. Dari penjelasan Bapa Rato telihat bahwa dalam kosmologi adat Marapu alam semesta ini terdiri dari tiga lapisan yaitu: lapisan atas (langit), lapisan tengah (bumi) dan lapisan bawah (bawah bumi).
Penguasa tertinggi dari seluruh alam disebut Anatala yang disebut juga Hupu Ina dan Hupu Ama (Ibu Bapa segala sesuatu) yang tinggal di langit. Dalam konsepsi kepercayaan Marapu, langit terdiri dari delapan petala (lapis) yang berbentuk kerucut. Lapis pertama disebut Awanggu Walu Ndani ( lapis langitkedelapan ) yang disebut dengan Hupu Ina-Hupu Ama yang tinggal bersama para Marapu.
Berdasarkan penjelasan dari Rato Lado, kepercayaan merupakan sistem keyakinan yang berdasarkan kepada arwah para leluhur, hal-hal yang bersifat supra natural dan kekuatan gaib lainnya. Kepercayaan inilah yang membuat Suku Marapu memuja arwah para leluhur melalui berbagai ritus dan upacara adat. Ritual pemujaan ini memiliki keterkiatan dengan kehidupan sehari-hari, seperti dalam berinteraksi dengan alam yang melahirkan tata cara bertani dan menjaga hutan. Semua ada hitungan dan mekanismenya.
Selain upacara kematian, menurut penjelasan Roto, ada dua pacara adat yang utama dari kepercayaan Marapu yaitu Wulla Poddhu dan Pasola. Wulla Poddhu adalah upacara adat yang dilaksanakan pada bulan Suci penurut penanggalan Marapu. Selama bulan ini terdapat sejunlah larangan yang harus dipatuhi. Selama Wulla Poddhu tidak boleh membangun dan memperbaiki rumah, dilarang berhubungan badan dengan pasangan, bahkan jika ada yang meninggal sekalipun dilarang memukul gong dan menangisi.












