Ini Penyebab Kacab Bank BUMN Diculik, Ingin Dapat Duit Besar-Besaran

Curi Duit, Pindahkan Duit di Rekening Dormant atau Rekening Tak Aktif ke Rekening Penampung

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya Triputra dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025). Foto Tangkapan Layar Kompas TV di Kanal Youtube

Jakarta, EDITOR.ID,- Terungkap sudah motif kenapa Kepala Cabang (Kacab) bank BUMN di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Mohamad Ilham Pradipta (37) diculik dan ditemukan tewas. Aksi ini dilakukan untuk mencuri uang dari rekening dormant, rekening milik nasabah yang dinonaktifkan. Otak pelaku menginginkan tanda tangan korban untuk memindahkan uang dari rekening dormant ke rekening penampung milik mereka.

Hal ini disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya Triputra dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025).

“Motif para pelaku yaitu para pelaku tersangka berencana melakukan pemindahan uang dari rekening dormant ke rekening penampungan yang sudah dipersiapkan,” ujar Wira.

Jika mereka bisa memindahkan uang yang ada di rekening dormant ke rekening mereka, maka hasilnya mereka akan bisa mengeruk uang besar-besaran dari puluhan rekening non aktif tersebut.

Rekening dormant adalah rekening tabungan atau giro yang tidak memiliki aktivitas transaksi finansial oleh nasabah selama periode tertentu.

Biasanya 3 hingga 12 bulan, dan dibatasi transaksi debit serta kreditnya mencegah penyalahgunaan dana oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Pertemuan Dwi Hartono dan Ken

Wira pun menjelaskan kronologi atas tewasnya Ilham Pradipta. C alias Ken ternyata sempat bertemu Dwi Hartono sebelum penculikan dan pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta. Dwi dan Ken ternyata berbicara soal rekening sebelum penculikan Ilham di area parkiran swalayan kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur pada Rabu (20/8/2025).

Dwi Hartono merupakan seorang pengusaha. Dalam bio Instagramnya dia menuliskan berprofesi sebagai pengusaha di bidang fashion, skin care, pendidikan, perkubungan dan lainnya.

Dwi Hartono memiliki perusahaan PT Hartono Mandiri Makmur dan PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia (DAI) atau Guruku.com.

Kantor dari perusahaan Hartono berlokasi di rumahnya, Jalan San Fransisco, Blok Q1, Nomor 9, Kompleks Perumahan Kota Wisata, Gunung Putri, Kota Bogor, Jawa Barat.

Pelaku C Punya Sejumlah Rekening Dormant untuk Dibobol dengan IT

Wira mengatakan tersangka C alias Ken memiliki beberapa rekening dormant untuk diambil uangnya atau dibobol. Kejadian diawali pada Juni 2025 dimana terduga pelaku Ken bertemu dengan tersangka pengusaha yang juga motivator Dwi Hartono (DH) untuk mengurus hal tersebut.

Kemudian, C pun memiliki rencana untuk memindahkan uang dari rekening dormant tersebut ke rekening penampungan yang memang telah disiapkan. Tersangka C disebut sudah menyiapkan tim IT untuk melakukan pemindahan hal tersebut.

Namun kegiatan tersebut baru bisa dilaksanakan dengan memerlukan persetujuan atau otoritas kepala cabang bank.
Selanjutnya, C pun mengajak DH untuk mencari kepala cabang atau cabang pembantu yang bisa diajak bekerjasama dalam memindahkan uang dari rekening dormant ke rekening yang sudah disiapkan atau rekening penampungan.

“Namun, untuk melaksanakan hal tersebut, diperlukan persetujuan atau otoritas kepala bank. Sehingga pelaku atas nama C alias K mengajak DH untuk mencari kepala cabang atau cabang pembantu yang bisa diajak bekerja sama dalam rangka pemindahan uang itu,” ujarnya.

Merancang Skenario Kekerasan dan Ancaman Kekerasan Demi Bobol Rekening Dormant

Beberapa minggu kemudian, C melakukan pertemuan dengan DH serta AAM. Hal tersebut dikarenakan C memiliki informasi terkait data rekening dorman yang ada di bank plat merah tersebut.

“Kemudian, C alias K menyampaikan, karena upaya-upaya sebelumnya untuk mendekati kepala cabang tidak pernah berhasil, maka pekerjaan pergeseran dana tersebut akan berhasil apabila dilakukan dengan 2 opsi ataupun 2 metode,” jelasnya.

“Opsi pertama, melakukan pemaksaan dengan kekerasan dan ancaman kekerasan. Setelah itu, korban akan dilepaskan. Kemudian, opsi yang kedua, melakukan pemaksaan dengan kekerasan dan atau ancaman kekerasan. Dan apabila berhasil, maka korban akan dihilangkan atau dalam arti kata, korban akan dibunuh,” sambungnya.
Kronologi Selanjutnya

Selanjutnya, pada 31 Juli 2025, C bersama dengan DW dan AAM kembali melakukan pertemuan untuk membahas apakah bisa dilaksanakan opsi satu ataupun opsi dua. Kemudian, pada 12 Agustus 2025, C bersama dengan DH berkomunikasi melalui WhatsApp dan di dalam komunikasi tersebut, mereka memutuskan untuk memilih opsi satu.

Opsi satu itu yakni melakukan pemaksaan dengan kekerasan ataupun ancaman kekerasan. Setelah itu, korban pun dilepaskan. Lalu, pada 16 Agustus 2025, DH mengajak JP bertemu di salah satu tempat di sekitar Kota Wisata Cibubur.

Sewa Preman untuk Pekerjaan Menculik Korban

Pada saat itu juga menanyakan apakah memiliki kenalan dari kelompok preman atau orang yang bisa membantu mereka dalam melaksanakan pekerjaan pada opsi pertama, boleh dari sipil ataupun dari aparat.

“Selanjutnya, pada tanggal 17 Agustus 2025, sekitar pukul 09.00, pelaku atas nama JP menindaklanjuti permintaan saudara DH untuk mendatangi rumah saudara M. Setelah itu, sekitar pukul 20.00 Wib, di salah satu kafe di daerah Kota Wisata Cibubur, dilakukan pertemuan kembali yang dihadiri oleh saudara DH, saudara JP, saudara AAM, dan saudara M,” paparnya.

“Jadi dalam pertemuan tersebut ada empat orang yang hadir, dengan tujuan untuk membahas terkait persiapan untuk dilakukan penculikan terhadap korban,” tambahnya.

Para Pelaku Siapkan Tim Cari Alamat Calon Korban dan Ikuti

Selanjutnya, pada 18 Agustus 2025, dilaksanakan pertemuan kembali yang dihadiri oleh DH, AAM, JP, dan N di salah satu kafe di Kota Wisata di daerah Cibubur untuk membahas persiapan penculikan.

Di dalam pertemuan itu, DH dan AAM bertugas untuk menyiapkan tim yang akan mencari alamat korban, serta mengikuti korban, di mana dalam tim tersebut terdiri dari tiga orang. Untuk yang pertama adalah R, E, dan B.

“Kemudian, saudara JP, menyiapkan tim untuk membantu membuntuti korban, yaitu dengan inisial saudara AW, serta menyiapkan tim yang akan melakukan penculikan terhadap korban,” ungkapnya.

“Setelah itu, saudara N menghubungi saudara FH, yang bertugas ataupun yang disiapkan untuk tim yang akan melakukan penculikan terhadap korban,” sambungnya.

Kemudian, pada 19 Agustus 2025, sekitar pukul 10.00 Wib, F menghubungi E, dan mereka sepakat bertemu di seputar daerah di Cijantung, Jakarta Timur. Tidak lama setelah itu, E datang bersama B, R, dan A.

Berikutnya, F menunjukkan foto kepada tim E dan lalu memberitahukan untuk menjemput paksa orang tersebut dan mengantarkannya kepada tim yang disiapkan oleh JP.

Selain itu, tim yang memiliki tugas untuk membuntuti dan tim yang bertugas melakukan penculik terhadap korban yakni D dan AAM. Untuk JP diungkapkannya memiliki safe house yang diharapkan untuk bisa memaksa korban melakukan kegiatan pemindahan dana.

“Selanjutnya pada tanggal 20 Agustus 2025, setelah dilakukan pembuntutan terhadap korban, kemudian sekitar pukul 15.30 WIB di parkiran Lotte Mart Pasar Rebo, Jakarta Timur, korban berhasil diculik oleh tim yang berisi pelaku E, R, B, R, dan A,” ungkapnya.

“Di mana dalam penculikan tersebut, kelima orang pelaku menggunakan kendaraan Avanza putih. Ini yang terekam di CCTV. Dan selanjutnya setelah melakukan penculikan dibawa pergi untuk diserahkan kepada tim lain, yaitu pelaku JP, N, U, dan D,” tambahnya.

Kronologi Pembunuhan

Dalam serah terima tersebut, korban yang tadinya di Avanza warna putih digeser ke mobil Fortuner warna hitam, tepatnya di Kemayoran, Jakarta Pusat sekitar pukul 21.00. Berikutnya, dari pukul 21.00, setelah dipenguasaan JT, N, U, dan D, untuk menunggu tim penjemput yang dipersiapkan oleh C yang rencananya akan dibawa ke safehouse yang telah disiapkan.

Akan tetapi, tim penjemput tidak kunjung datang, sedangkan korban kondisinya sudah agak lemas. Akhirnya, korban pun dibuang di daerah Cikarang dalam keadaan kondisi kaki dan tangan masih terikat dan mulut dalam kondisi terlakban atau dilakban.

Pada 21 Agustus 2025, sekira pukul 05.30 Wib, Polsek Cikarang mendapatkan laporan tentang penemuan mayat dari warga sekitar dan dilakukan penanganan dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Setelah dilakukan visum, kami sudah mendapatkan hasil sementara hasil visum et repertum di mana korban meninggal diakibatkan karena kekerasan benda tumpul pada leher yang menekan jalannya nafas dan pembulu nadi besar. Sehingga menimbulkan atau menyebabkan mati lemas,” ucapnya.

“Namun Hasil tersebut belum final karena masih nunggu hasil pemeriksaan toksikologi. Selanjutnya Tim gabungan dari Subdit Resmob dan Jatanras setelah melakukan serangkaian penyelidikan dan pendalaman dengan keterangan saksi-saksi maupun alat bukti yang ada, Alhamdulillah akhirnya kami berhasil mengamamkan sebanyak 15 orang tersangka di mana dari 15 tersangka tersebut kami membagikan menjadi 4 kategori klastering,” pungkasnya.

Diketahui, korban lebih dulu dilakukan penculikan dan kemudian dibunuh di sebuah pusat perbelanjaan di Ciracas, Jakarta Timur, pada 20 Agustus 2025, sekira pukul 14.00 Wib.

Polisi Tetapkan 15 Tersangka Dalam Kasus Penculikan Bos Bank BUMN

Diketahui, polisi telah menangkap 15 tersangka terkait kasus penculikan dan pembunuhan Ilham. Termasuk dua oknum prajurit TNI Angkatan Darat terlibat kasus penculikan yang berujung pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN di Cempaka Putih, Mohamad Ilham Pradipta (37).

Komandan Pomdam Jaya, Kolonel CPM Donny Agus Priyanto, mengatakan, dua oknum prajurit TNI itu adalah Sersan Kepala (Serka) N dan Kopral Dua (Kopda) FH. Dua oknum prajurit TNI itu telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Sudah ditetapkan dua tersangka dan telah dilakukan penahanan atas nama Sersan Kepala N dan Kopral Dua FH,” kata Donny Agus Priyanto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025).

Dalam kasus tersebut, tim penyelidik dari Pomdam Jaya telah memeriksa 17 saksi. Penyidik juga menyita uang tunai Rp 40 juta dari Kopda FH yang diduga hasil tindak pidana tersebut.

“Uang tersebut diduga dari hasil tindak pidana yang dilakukan,” katanya.

Saat ini, seluruh tersangka telah resmi ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka.

“Terduga pelaku dengan inisial Kopda FH, terhadap yang bersangkutan sudah dilakukan penahanan dan ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Donny Agus Priyanto.

Saat ditanya pasal yang menjerat Kopda FH serta dugaan keterlibatan oknum prajurit TNI lain, Agus belum dapat mengungkapkannya.

“Masih dikembangkan, ya, nanti kami update lagi,” tuturnya.

Dwi Hartono ditangkap bersama YJ dan AA di Solo, Jawa Tengah pada Sabtu (23/8/2025).

Keesokan harinya polisi menangkap C alias Ken di rumah kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara pada Minggu (24/8/2025).

Mohamad Ilham Pradipta diculik di area parkir swalayan kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur pada Rabu (20/8/2025).

Ia ditemukan tewas dengan kondisi kaki tangan terikat serta mata dililit lakban di area persawahan Desa Nagasari, Serang Baru, Bekasi pada Kamis (21/8/2025). (*)

Leave a Reply