Harga Lebih Mahal, Beras Bulog Tak Laku Dijual

Img 20201211 Wa0063

EDITOR.ID, Indramayu – Program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH), dulu biasa disebut Operasi Pasar, yang diselenggarakan Bulog Cabang Indramayu kurang diminati masyarakat. Lantaran harga KPSH dibanderol lebih tinggi yakni Rp.8.100 / kg untuk beras medium standar. Sedangkan di pasaran, jenis beras serupa harganya pada kisaran Rp.7.600 – Rp.8.000 / kg. Disparitas harga ini yang membuat beras milik Bulog tak laku dijual..

Kepala Bulog Indramayu, Dadan Irawan, mengatakan program KPSH yang dijalankan tidak mampu mendongkrak neraca penjualan akibat disparitas harga. Keadaannya diperparah sejak maraknya bantuan sosial (bansos) pemerintah selama masa pandemi covid-19. “Beras kami sulit dijual karena harganya lebih mahal. Masyarakat lebih memilih beras di pasaran karena harga lebih murah,” ungkap Dadan, di kantornya Jumat (11/12).

Hingga menjelang akhir tahun 2020 ini, kata Dadan, penjualan beras lewat program KPSH hanya tercapai sebesar 49% dari target sebanyak 56 ribu ton. Akibatnya stok beras milik Bulog Indramayu mengalami surplus besar. Saat ini, stok di 8 gudang beras di Indramayu sudah mencapai 37 ribu ton. Jumlah stok sebanyak itu malah merupakan akumulasi stok sejak tahun 2018 lalu. “Beras keluarnya seret, Oktober dan November 2020 ini malah nol sama sekali,” ujar dia.

Di pasar baru Indramayu, seorang pemilik kios beras ‘Campur Jaya’, Warto, mengungkapkan, harga beras saat ini stabil namun cenderung turun. Pasalnya, permintaan beras dari masyarakat juga menurun seiring banyaknya skenario bansos berupa beras yang dikucurkan pemerintah di masa pandemi Covid-19.
“Harga beras menurun sejak adanya bansos. Penjualan beras juga lesu,” kata Warto.

Ia juga mengaku menjual beras KPSH dari Bulog. Namun, beras tersebut selama ini tak mendapat sambutan dari masyarakat.
“Beras sulit dijual, bahkan sama sekali gak laku,?? tukas Warto.

Warto mengatakan, masyarakat yang membeli berasnya selama ini lebih memilih beras premium dibandingkan beras medium. Pasalnya, dengan selisih harga yang tidak terlalu besar, mereka bisa memperoleh kualitas beras yang lebih bagus.

Warto menyebutkan, penjualan beras premium di kiosnya bisa mencapai dua ton sampai tiga ton per hari. Namun untuk beras medium, hanya kurang dari satu ton per hari. (Hendra Sumiarsa)

Leave a Reply