Gus Hans: Jika Terjadi Bencana, Jangan Selalu Menyalahkan Alam!

  • Bagikan
Zahrul Azhar Asumta (TIMES Indonesia)
Zahrul Azhar Asumta (TIMES Indonesia)

Ketua Umum Sapa Wana (Santri Pecinta Hutan) Zahrul Azhar Asumta menyoroti komitmen pejabat untuk menjaga lingkungan, khususnya aspek kehutanan.

Apalagi saat ini sudah memasuki musim penghujan yang membutuhkan tindakan preventif agar tidak menjadi bencana.

Seperti banjir bandang yang terjadi di Batu baru-baru ini, setelah diketahui penyebabnya adalah berkurangnya daerah resapan air.

“Pertama, saya turut prihatin dengan musibah banjir yang menimpa masyarakat Batu dan Malang, semoga tidak banyak memakan korban, juga keluarga korban diberikan kesabaran,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Editor, Sabtu (6/11).

Tokoh Muda NU itu menyayangkan pejabat yang selalu menganggap jika bencana selalu disebabkan oleh alam.

Apalagi pejabat yang bersangkutan lepas tangan ketika terjadi bencana tapi sumringah dan merasa paling pantas menerima penghargaan pelestarian lingkungan.

“Kejadian seperti Ini (bencana, red) selalu berulang dan pejabatnya selalu menyalahkan alam untuk lepas tangan karena tangannya lebih ringan untuk menerima berbagai penghargaan, kalau hanya menyalahkan alam siapa yang nggak bisa,” tuturnya.

Ia juga menyayangkan jika penghargaan itu diberikan bukan karena tindakan yang signifikan untuk menanggulangi bencana. Namun hanya pencitraan semata.

“Tanpa dasar tindakan signifikan, yang dikejar hanya pencitraan”, imbuhnya.

Gus Hans menekankan pentingnya mitigasi bencana untuk segera mengevakuasi korban secara taktis dan sistematis.

Ia juga mengharapkan kebijakan yang konkret untuk melindungi hutan baik dari penegakan hukum dan regulasinya.

“Buat regulasi dan terapkan dengan tepat berdasarkan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada sesuai pertaruhan menteri, disitu ada pasal tentang kawasan lindung”, tegas Gus Hans.

Wakil Rektor Unipdu Jombang tersebut mengajak pemerintah untuk tidak terus melakukan pencitraan dengan berbagai agenda-agenda seremonial yang belum tentu eksekusinya optimal.

“Kurangi gerakan gerakan seremonial penanaman-penanaman masal yang hanya layak untuk tayangan instagram dan medsos personal tapi tidak jalan di level operasional,” katanya.

Gus Hans menghimbau agar masalah pelestarian alam ini jangan dibahas setelah ada bencana saja tapi bagaimana bisa menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan