Setelah tiga tahun menjadi presiden klub Inter Milan, tepatnya pada 2016, Erick melepas 70 persen saham yang ia kuasai kepada perusahaan asal China, Suning Holdings Group Co.
Meski demikian Erick tetap menjabat sebagai presiden klub hingga 2018. Ini membuat Erick hanya menaungi Persib sebagai pemilik saham, yang itu berlangsung hingga 2019.
Pada 2021, tepatnya pada 21 Maret, Erick resmi membeli 20 persen saham Persis Solo. Pada saat yang sama Kaesang Pangarep, anak Presiden Joko Widodo, membeli 40 persen saham Persis.
Setahun berikutnya, pada 19 September 2022, Erick bersama rekan bisnisnya Anindya Bakrie resmi menguasai saham mayoritas klub kasta ketiga Liga Inggris, Oxford United.
Dengan kata lain saat maju sebagai calon ketua umum PSSI, menteri BUMN ini merupakan pemilik saham klub Solo Persis dan klub Inggris Oxford United. Erick mendaftar sebagai calon pada 15 Januari 2023.
Setelah menjalani serangkaian verifikasi, Erick lolos sebagai calon tetap dan akhirnya terpilih dalam KLB pada 16 Februari. Erick akan memimpin PSSI hingga 2027.
Erick menjadi orang ke-20 yang memimpin PSSI
Dengan terpilihnya Erick menjadi Ketum PSSI maka ia masuk daftar tokoh ke-20 yang memimpin federasi sepak bola Indonesia itu.
Orang pertama yang menjadi pemimpin PSSI adalah Soeratin Sosrosoegondo pada 1930 hingga 1940. Artono Martosewignyo kemudian menjadi orang kedua yang menduduki jabatan PSSI 1.
Setelah Artono lengser pada 1949, Maladi menggantikan posisinya pada 1950-1959. Abdul Wahab Djojohadikoesoemo menjadi Ketua Umum PSSI yang keempat dengan masa kepemimpinan pada 1960-1964.
Mantan kiper Timnas Indonesia, Maulwi Saelan, dipercaya menjadi ketua umum PSSI pada 1964-1967.
Kosasih Poerwanegara memenjadi Ketua Umum PSSI yang keenam dengan masa jabatan tujuh tahun. Selanjutnya Bardosono menduduki jabatan tersebut dalam masa dua tahun hingga 1977.
Mantan Gubernur DKI Ali Sadikin pun pernah menjadi Ketua Umum PSSI pada 1977-1981. Kemudian Sjarnoebi Said pada 1982-1983.
Kardono menjadi Ketua Umum PSSI ke-10 pada 1983-1991. Kardono pula menjadi Ketum PSSI paling sukses karena menghadirkan dua gelar juara SEA Games.
Azwar Anas menggantikan Kardono dan kemudian tampuk kepemimpinan beralih ke Agum Gumelar pada 1999. Setelah Agum lengser, Nurdin Halid menjadi Ketum PSSI pada 2003 – 2011.
Djohar Arifin Husin kemudian menduduki kursi panas PSSI hingga 2015 dan digantikan AA La Nyalla Mahmud Mattalitti dengan durasi satu tahun saja.
Edy Rahmayadi kemudian menjadi Ketum PSSI pada 2016-2019 dan kemudian digantikan Joko Driyono dalam durasi tiga bulan saja sejak Januari hingga Maret 2019.












