Washington, EDITOR.ID – Laporan dari Anadolu Agency mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat mengalami kerugian alutsista yang signifikan dalam fase awal konflik dengan Iran pada Maret 2026. Amerika Serikat dilaporkan kehilangan peralatan militer senilai hampir US$2 miliar atau setara dengan Rp33,7 triliun hanya dalam 4 hari pertama operasi militer melawan Iran.
Serangan gabungan AS dan Israel yang dinamakan Operasi Epic Fury dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan ini menargetkan berbagai infrastruktur strategis dan fasilitas nuklir di Iran.
Besarnya kerugian ini disebabkan oleh balasan masif dari pihak Iran menggunakan gelombang rudal dan drone yang menyasar pangkalan militer AS di wilayah Timur Tengah serta aset-aset di laut.
Kerugian ekonomi di derita Israel selain AS, Israel juga dilaporkan menanggung beban ekonomi yang berat, dengan perkiraan kerugian mencapai 9 miliar shekel (sekitar Rp49 triliun) per pekan akibat eskalasi perang ini.
Dampaknya pada nilai Rupiah di Indonesia terkait konflik ini menyebabkan sentimen negatif di pasar global, yang mendorong pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus angka Rp16.800 per dolar AS.
Rincian utama dari kerugian tersebut meliputi sistem Radar AN/FPS-132. Sedangkan kerugian terbesarnya berasal dari kehancuran radar peringatan dini strategis di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, yang bernilai sekitar 1,1 miliar dolar AS. Radar ini memiliki jangkauan hingga 5.000 km dan berfungsi sebagai “sistem saraf” pertahanan rudal regional.
Sebanyak 3 unit Jet Tempur F-15E Strike Eagle telah hancur dalam insiden friendly fire oleh pertahanan udara Kuwait, dengan estimasi biaya penggantian mencapai 282 juta dolar AS.
Infrastruktur Komunikasi:
Kerusakan infrastruktur pada terminal komunikasi satelit (SATCOM) senilai 20 juta dolar AS di markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Kerusakan juga dilaporkan pada sistem radar AN/TPY-2 di UEA, serta berbagai fasilitas di pangkalan militer di Irak (Erbil) dan Kuwait (Camp Arifjan dan Ali Al Salem).
Hancurnya sistem radar canggih Amerika Serikat (terutama radar peringatan dini AN/FPS-132 Block 5 di Qatar) dalam serangan Iran per awal Maret 2026, dengan total kerugian militer mendekati $2 miliar (Rp33,7 triliun) dalam empat hari, memiliki dampak operasional yang sangat serius terhadap pertahanan udara AS di Timur Tengah.
“Blinking” (Kebutaan) Sistem Pertahanan: Radar AN/FPS-132 di Al Udeid Air Base, Qatar, berfungsi sebagai tulang punggung pertahanan rudal AS di kawasan tersebut dengan jangkauan hingga 5.000 km.
Hancurnya radar ini menciptakan celah besar dalam cakupan pengawasan jarak jauh, membuat sistem pertahanan lain seperti Patriot dan THAAD beroperasi dengan data yang terbatas.
Tanpa radar peringatan dini, waktu yang dimiliki Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk mendeteksi, melacak, dan mencegat rudal balistik atau jelajah yang masuk menjadi jauh lebih singkat, meningkatkan risiko serangan yang berhasil tembus.
Pasukan AS dan sekutu terpaksa mengandalkan sensor yang lebih kecil dan tersebar secara geografis. Hal ini mengurangi redundansi dan menciptakan celah cakupan yang dapat dieksploitasi oleh serangan saturasi (serangan rudal/drone serentak dalam jumlah banyak).
Serangan tersebut juga menghancurkan terminal komunikasi satelit (SATCOM) di markas Armada Kelima di Bahrain, mengganggu komunikasi berkecepatan tinggi dan real-time yang krusial untuk operasi militer.
Kehancuran aset bernilai $1,1 miliar tersebut merupakan pukulan psikologis terhadap payung keamanan AS di Teluk, yang berpotensi menurunkan kepercayaan mitra regional terhadap efektivitas sistem pertahanan AS.
Selain radar, kerugian $2 miliar tersebut mencakup kehancuran tiga jet tempur F-15E Strike Eagles di Kuwait akibat insiden friendly fire (tembakan kawan sendiri) saat mencoba menangkis serangan, dan kehancuran komponen radar THAAD di UEA senilai $500 juta.
Situasi ini menempatkan pangkalan dan kapal AS di kawasan tersebut dalam kondisi yang lebih rentan terhadap serangan lanjutan karena menurunnya kesadaran situasi (situational awareness) secara drastis.
Sementara itu The New York Times melaporkan analisis citra satelit dari penyedia seperti Planet Labs, memverifikasi adanya kerusakan fisik signifikan pada struktur radar dan pusat komunikasi di lokasi-lokasi tersebut. (*)












