Telur Diduga Jadi Biang Kerok Ratusan Siswa di Batang Keracunan MBG, Dapur Distop

Berdasarkan pemantauan belasan ambulans keluar masuk RSUD Kalisari Batang sejak pukul 19.13 WIB hingga menjelang pukul 21.00 WIB. Hingga pukul 21.00 WIB, terdapat 20 pasien dari Bawang yang menjalani perawatan akibat dugaan keracunan.

Batang, Jawa Tengah, EDITOR.ID,- Ratusan siswa dan warga mengalami keracunan usai menyantap makan gratis dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) olahan dari Dapur MBG di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sumber penyebab keracunan diduga dari menu telur olahan.

Sebanyak 276 korban baik siswa maupun orang tuanya mengalami keluhan mual dan pusing usai menyantap menu olahan Dapur MBG Kecamatan Bawang.

Wakil Bupati Batang, Suyono, menjelaskan dugaan awal makanan yang menjadi penyebab keracunan adalah telur. Namun, dia belum bisa memastikannya sebelum hasil laboratorium keluar.

“Telur, makan telur, rasanya beda. Setelahnya menjadi mual. Tadi saya tanya pusing dan mual,” ujar Suyono saat ditemui di RSUD Kalisari, Rabu (23/9/2026) malam.

Ia melanjutkan sejumlah orang tua ternyata juga menderita keluhan setelah mencicipi MBG yang dibawa pulang anak mereka. Gejala yang dirasakan seperti mual dan pusing.

276 Warga Keracunan dari Dapur SPPG

Sebanyak 276 warga tersebut diketahui menerima MBG dari SPPG atau dapur MBG yang sama. Dapur tersebut melayani 11 titik penerima manfaat di Kecamatan Bawang dengan total 2.700 penerima manfaat.

Titik penerima manfaat tersebut meliputi TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.

Ambulan Keluar Masuk Bawa Korban Keracunan

Berdasarkan pemantauan belasan ambulans keluar masuk RSUD Kalisari Batang sejak pukul 19.13 WIB hingga menjelang pukul 21.00 WIB. Hingga pukul 21.00 WIB, terdapat 20 pasien dari Bawang yang menjalani perawatan akibat dugaan keracunan.

Korban yang menjalani perawatan tidak hanya pelajar, tetapi juga orang tua murid. Suyono mengatakan jumlah tersebut masih bisa berubah seiring pendataan dan pemeriksaan yang dilakukan di lapangan.

SPPG dihentikan sementara

SPPG yang menyediakan MBG untuk warga terdampak dihentikan sementara setelah ratusan orang mengalami keluhan. Suyono mengatakan pemerintah akan memanggil koordinator wilayah dan pengelola dapur untuk dimintai keterangan serta pertanggungjawaban.

“Ya diberhentikan sementara ini SPPG yang itu. Yang bersangkutan berhenti,” tegasnya.

Penghentian tersebut dilakukan sebagai langkah kehati-hatian sembari menunggu hasil pemeriksaan. Suyono mengatakan tindakan lebih lanjut dapat diambil jika ditemukan pelanggaran dan tidak ada pertanggungjawaban dari pengelola dapur.

Dia juga meminta seluruh pengelola dapur MBG menjalankan standar operasional prosedur (SOP), khususnya dalam proses pengolahan dan penyajian makanan.

“Ini rawan sekali. Sekali lagi, yang mempunyai SPBG, hati-hati. SOP dipegang teguh, jangan sampai menimbulkan keracunan berikutnya yang bahkan bisa mengancam nyawa manusia,” kata dia menegaskan.

Pemkab Siapkan Empat Layanan Kesehatan Bagi Korban Keracunan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang menyiapkan 4 layanan kesehatan (yankes) untuk merawat para korban.

“Kita berikan layanan di sejumlah tempat layanan kesehatan, seperti Puskesmas Batang, RSU Limpung, Puskesmas Subah, dan RSUD Kalisari Batang,” ujar Suyono.

“Update jam 20.38 WIB, total 276 (orang) yang terdampak di Bawang. Jadi perkembangan nantinya kita tunggu, saat ini kita perhatian bersama,” lanjut Suyono.

Ia menyatakan sudah menghubungi dinas kesehatan untuk mengambil sampel MBG dan memeriksanya di laboratorium.

“Kita tunggu bersama, sambil menunggu hasil lab. Tadi saya sudah telepon Dinas Kesehatan agar mengambil sampel,” tuturnya.

Dikatakan Suyono, para korban merasakan gejala keracunan setelah menyantap MBG yang dibagikan pada Selasa (22/9). Keluhan dirasakan beberapa jam setelah dikonsumsi.

“Yang anak sekolah makan jam 11.00 WIB, tapi terasanya sore, jam 01.00 (13.00 WIB) atau jam 02.00 (14.00 WIB),” ujarnya.

Terkait kemungkinan kejadian tersebut ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), Suyono mengatakan pemerintah belum mengambil keputusan.

“Saya belum bisa mengambil bahasa KLB, Kejadian Luar Biasa. Karena nanti harus ada rapat tersendiri kalau itu,” katanya.

Pemkab Batang masih menunggu perkembangan kondisi para penerima manfaat dan hasil pemeriksaan sampel makanan. Suyono berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dan pengawasan terhadap keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG ditingkatkan.

“Sekali lagi ini menjadi keprihatinan kita bersama. Semoga kejadian ini menjadi kejadian yang terakhir,” katanya. ***

Leave a Reply