Harga Emas Dunia Diproyeksi Tembus 6.000 pada 2026, Dolar Melemah dan Geopolitik Jadi Penggerak

Dalam skenario bullish, penguatan emas diperkirakan tidak berhenti pada level saat ini

ilustrasi logam mulia
pixabay akun LensPulse

EDITOR.ID-JAKARTA– Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan hingga akhir 2026. Pelemahan dolar AS, ketidakpastian kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta dinamika geopolitik Timur Tengah menjadi sejumlah faktor yang dinilai dapat menopang permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Dalam analisis pasar yang menjadi dasar artikel ini, harga emas disebut berada di sekitar level 4.120 dan berpotensi melanjutkan reli dalam beberapa bulan mendatang. Bahkan, terdapat proyeksi harga emas dapat bergerak menuju 5.200 pada kuartal III dan berlanjut ke kisaran 5.500–6.000 pada akhir 2026 apabila momentum penguatan tetap terjaga.

Namun, proyeksi tersebut merupakan skenario pasar dan bukan kepastian harga. Pergerakan emas tetap sangat bergantung pada kebijakan moneter AS, nilai dolar, data ekonomi global, serta perkembangan geopolitik.

Pelemahan Dolar Jadi Angin Segar bagi Emas

Salah satu faktor utama yang mendukung prospek emas adalah tekanan terhadap indeks dolar AS.

Dalam kondisi dolar melemah, emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar cenderung menjadi lebih menarik bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap logam mulia.

Pelemahan dolar juga memperkuat spekulasi bahwa kebijakan moneter AS berpotensi bergerak lebih longgar apabila tekanan inflasi terus mereda.

Harga Emas Diproyeksi Menguat hingga Akhir 2026

Dalam skenario bullish, penguatan emas diperkirakan tidak berhenti pada level saat ini.

Proyeksi yang beredar menyebut harga emas berpotensi menembus 5.200 pada kuartal III. Jika tren tersebut berlanjut hingga akhir tahun, emas bahkan diperkirakan dapat bergerak menuju kisaran 5.500 hingga 6.000.

Target tersebut tentu memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi. Investor perlu memperhatikan bahwa harga emas dapat mengalami koreksi tajam setelah kenaikan dalam waktu singkat.

Geopolitik Timur Tengah Masih Jadi Perhatian Pasar

Selain faktor moneter, perkembangan geopolitik Timur Tengah turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran, ketegangan Israel-Iran, serta keamanan jalur perdagangan di Selat Hormuz menjadi faktor yang dapat memengaruhi sentimen terhadap aset safe haven.

Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi dunia. Karena itu, setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan meningkatkan volatilitas pasar global.

Di sisi lain, perkembangan yang mengarah pada pengelolaan keamanan dan kelancaran pelayaran di kawasan tersebut dapat mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi berkepanjangan.

Arah Kebijakan The Fed Jadi Kunci

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah arah kebijakan The Fed.

Jika inflasi Amerika Serikat terus mengalami penurunan dan semakin mendekati target 2 persen, peluang perubahan kebijakan moneter menjadi salah satu perhatian utama pasar.

Suku bunga yang lebih rendah umumnya dapat meningkatkan daya tarik emas karena biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga menjadi lebih rendah.

Karena itu, investor akan mencermati data inflasi, tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, serta pernyataan para pejabat The Fed untuk membaca arah kebijakan berikutnya.

Bank Sentral Disebut Terus Menambah Kepemilikan Emas

Permintaan emas dari sektor resmi juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar.

Tiongkok disebut meningkatkan pembelian emas dalam jumlah besar pada Juli. Fenomena tersebut dinilai mencerminkan kecenderungan sejumlah bank sentral untuk melakukan diversifikasi cadangan devisa.

Perubahan komposisi aset cadangan tersebut dapat memberikan dukungan struktural terhadap permintaan emas dalam jangka panjang.

Investor Mulai Melirik Emas sebagai Safe Haven

Ketidakpastian ekonomi, volatilitas mata uang, potensi perubahan suku bunga, dan ketegangan geopolitik membuat emas kembali mendapat perhatian sebagai instrumen diversifikasi portofolio.

Perpindahan dana atau switching dari aset tertentu menuju emas juga disebut menjadi bagian dari perubahan strategi sebagian pelaku pasar.

Meski demikian, penguatan harga emas tidak berlangsung tanpa risiko. Jika dolar kembali menguat, suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, atau tensi geopolitik mereda secara signifikan, harga emas berpotensi menghadapi tekanan.

Emas Masih Menjadi Aset yang Patut Dicermati

Dengan kombinasi pelemahan dolar AS, ekspektasi perubahan kebijakan The Fed, pembelian oleh bank sentral, serta ketidakpastian geopolitik, emas masih memiliki sejumlah katalis positif.

Proyeksi menuju level 6.000 pada akhir 2026 dapat menjadi skenario bullish yang menarik untuk diperhatikan. Namun, level tersebut bukan jaminan dan tetap bergantung pada perkembangan fundamental global.

Bagi pelaku pasar, perkembangan indeks dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, data inflasi, kebijakan The Fed, pembelian bank sentral, dan kondisi geopolitik Timur Tengah akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah harga emas berikutnya.**

Leave a Reply