Tarian Bocah Gunung Boneng Flores Timur NTT Jaga Warisan Leluhur yang Nyaris Punah

Dikira Cuma Main-Main, Ternyata Anak-Anak di Lereng Gunung Boleng Ini Sedang Menjaga Tradisi Lisan yang Nyaris Punah

Tarian Namang Anak-Anak Adonara

Pukaone, NTT, EDITOR.ID — Saat gadget mulai menjajah, anak-anak di Desa ini malah sibuk kuasai tradisi lisan lewat tarian ekstrem. Anak-anak Adonara di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan main game online, anak-anak khususnya di Pukaone ini malah justru candu warisi tradisi lisan lewat ritual ini!

Lantunan sastra lisan yang anak-anak nyanyikan pemberian leluhur, mereka bawakan sambil bergandengan tangan erat-erat bikin kita melihatnya merinding, mengintip cara anak-anak Pukaone merawat tradisi lisan sejak dini.

Bukan sekadar hentakan kaki, ada rahasia tradisi lisan di balik tarian anak-Anak Pukaone yang bikin merinding! Mereka menari tarian ‘Ngamang’ merujuk pada tradisi budaya masyarakat di wilayah (paroki/desa) yang terletak di Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT.

Untuk memahami tradisi ini sering dikira ‘Ngamang’, ternyata ini arti asli Namang: Tradisi lisan Flores Timur yang bikin kagum, secara utuh yang terkandung unsur budayanya. Arti dari tradisi Namang (Ngamang) dalam budaya Lamaholot (suku bangsa asli di Flores Timur, Lembata, dan Alor), kata aslinya adalah Namang (sering dilafalkan atau ditulis Ngamang oleh masyarakat awam atau dalam pencarian digital).

Namang adalah sejenis tarian adat, pantun bersahut-sahutan, atau ritual berkumpul yang sangat erat kaitannya dengan tarian Sole Oha (tarian melingkar khas Adonara).

Tradisi ini biasanya dipentaskan dalam acara-acara besar, seperti syukuran panen, pembangunan rumah adat (Rumah Liko), upacara menyambut tamu, hingga ritual adat pasca-pendakian Gunung (Ile) Boleng seperti ritual Lepat Lait.

Anak-Anak dalam Tradisi

Ketika disebut “Anak-anak Pukaone”, ini merujuk pada keterlibatan generasi muda atau anak-anak di Desa Pukaone dalam melestarikan tarian adat tersebut.

Rupanya ada pesan rahasia untuk leluhur mereka, sebagaimana anak-anak Adonara menghidupkan kembali tradisi lisan warisan leluhurnya lewat tarian ini.

Di Adonara, pengenalan tarian Namang atau Sole Oha sudah ditanamkan sejak dini. Anak-anak diajarkan cara menghentakkan kaki, mengikuti irama lantunan sastra lisan (bura), dan bergerak harmonis dalam lingkaran.

Pementasan oleh anak-anak biasanya dilakukan dalam acara budaya sekolah (seperti di SD Katolik Pukaone), festival budaya daerah, atau acara internal keagamaan gereja (Paroki Santa Bernadette Soubirous Pukaone).

Pukaone sebagai Pusat Budaya

Pukaone berada di lereng Gunung Boleng, sebuah kawasan yang sangat memegang teguh adat istiadat Lamaholot.

Setiap tarian Namang yang dibawakan oleh masyarakat setempat (termasuk anak-anak) bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah media pendidikan karakter: Mengajarkan anak-anak tentang nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa hormat kepada leluhur.

Komunikasi Sosial

Sastra lisan yang dinyanyikan saat menari biasanya berisi nasihat kehidupan, sejarah asal-usul, atau ungkapan rasa syukur kepada Tuhan (Lera Wulan Tanah Tukan). (*)

Leave a Reply