Jakarta, EDITOR.ID,- Mayoritas rakyat Indonesia menginginkan Presiden Prabowo Subianto menjabat dua periode atau dipilih lagi. Keinginan tersebut terungkap dari hasil Survei yang digelar lembaga Survei Adidaya Institute.
Berdasarkan hasil survei Adidaya Institute, mayoritas atau 73,6 persen responden justru mendukung Presiden Prabowo untuk memimpin Indonesia selama dua periode. Hanya sekitar 16,4 persen responden yang tidak mendukung Presiden Prabowo memimpin Indonesia selama dua periode.
Sekitar 10,1 persen responden tampak belum memutuskan dukungan atas kepemimpinan Presiden Prabowo selama dua periode.
Managing Director Public Policy and Politics Adidaya Institute Ahmad Fadhli mengungkapkan hasil survei ini menggambarkan angka kepercayaan responden terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo selama dua periode justru jauh lebih tinggi.
“Angka ini (kepercayaan kepemimpinan Presiden Prabowo dua periode) jauh lebih besar dari pemilih Prabowo-Gibran di pilpres 2024 sebesar 58,59 persen. Angka ini tentu bisa dimaknai sebagai bentuk meluasnya dukungan masyarakat kepada Presiden Prabowo,” ujar Fadhli dalam jumpa pers bersama Dr Bramastyo Bontas Prastowo dan Rahman Toha Budiharto di kantor Survei Adidaya Institute, Kamis (20/11/2025).
Selain itu hasil survei Adidaya Institute menyimpulkan tingkat kepercayaan publik yang tinggi terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo dalam membawa perubahan besar bagi negara Indonesia.
Survei dengan pendekatan baru tersebut menjelaskan sebanyak 91,1 persen responden menyatakan kepercayaannya kepada pemerintahan Presiden Prabowo dalam membawa perubahan dan perbaikan bagi bangsa Indonesia.
“Di luar perkiraan kami, angka kepercayaan publik ternyata sangat tinggi kepada agenda Presiden Prabowo. Sebanyak 91,1 persen responden percaya Presiden Prabowo bisa membawa perubahan besar. Mood publik di Era Presiden Prabowo tampak sangat baik,” papar Ahmad Fadhli.
Fadhli menyatakan tingkat kepercayaan publik yang tinggi tersebut juga sejalan dengan optimisme publik terhadap level pertumbuhan ekonomi yang bakal mencapai angka 8 persen pada tahun depan. Menurut dia, public mood responden sangat optimis dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi di tahun depan.
“Public mood responden kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sangat tinggi. Sekitar 82,3 persen. Ini luar biasa,” tegas dia.
Dalam survei public mood, sambung Fadhli, 97,5 persen responden juga mengaku hidup bahagia di era pemerintahan Presiden Prabowo. Sebanyak 85,0 persen responden juga meyakini mampun memenuhi kebutuhan hidup keluarga di masa Presiden Prabowo.
“Kesimpulannya, survei kita menunjukkan publik punya harapan dan optimisme yang besar terhadap kinerja Presiden Prabowo,” tegasnya.
Survei Adidaya Institute dilakukan dengan metode tatap muka (offline) selama delapan hari pada 27 Oktober-3 November 2025. Survei diselenggarakan pada 19 provinsi dengan melibatkan 1.240 orang responden.
Survei ini dilakukan dengan menggunakan metode probability sampling yang memberi toleransi kesalahan (margin of error) sebesar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Khusus pada bagian public mood, para surveyor melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) kepada setiap responden.
Survei Adidaya Institute ini menggambarkan suasana hati masyarakat atau public mood atas sejumlah isu sosial yang muncul selama sebulan belakangan. Antara lain, kinerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Rakka, ijazah Presiden Jokowi dan rumor Prabowo-Gibran dua periode.
Pada ketiga isu itu, mood public tampak sangat dinamis menyikapi isu-isu yang paling mengundang polemik tersebut.
Pada isu ijazah Presiden Jokowi, sebagian responden tampak masih percaya Presiden Jokowi memiliki ijazah UGM seperti yang digaungkan selama ini.
Setali tiga uang, publik juga sangat percaya Gibran Rakabuming Raka dapat menjalani tugas dan fungsi sebagai Wakil Presiden. Di tengah keraguan sejumlah pihak, survei public mood Adidaya Institute justru menampilkan fakta 75,2 persen responden percaya Wakil Presiden Gibran dapat menjalankan amanahnya.
“Ini bukan anomali. Ini justru gambaran sikap responden kita. Alih-alih muncul keraguan dan cemoohan, namun sesungguhnya sebagian besar publik justru percaya Gibran bisa bekerja sebagai Wakil Presiden,” kata Fadhli.
Namun sayangnya, tingkat kepercayaan tersebut tak berbanding lurus dengan keinginan untuk memadukan duet Prabowo-Gibran selama dua periode. Sebab, merujuk survei, hanya sekitar 59,9 persen responden yang menginginkan duet Prabowo-Gibran berlangsung dua periode. Sebanyak 28,8 persen justru berharap kedua tokoh ini tak lagi dipasangkan pada periode pemilu berikutnya.
“Nah disini lah kebijaksanaan masyarakat Indonesia. Meski mereka percaya bahwa Wapres Gibran akan bekerja dengan baik, namun sebagian mereka ingin ada figur lain yang bisa menjadi kandidat yang mendampingi Presiden Prabowo,” kata Fadhli.
Lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menegaskan survei mood politik Adidaya Institute akan dilakukan secara periodik dan berkelanjutan. Menurutnya, Adidaya Institute berkomitmen untuk menjadi lembaga thinkthank strategis yang memberi literasi dan membangun kecerdasan politik kepada publik selama era pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Tapi perlu ada statement lanjutan jika survei mood publik memang harus dilakukan secara terus menerus secara periodik. Kita akan tracking per kuartal. Dan angka survey mood publik kali ini menjadi temuan awal dari rencana strategis lembaga adidaya institute. Tentunya dengan beberapa penyempurnaan yang terus menerus akan dilakukan. Baik dari sisi metodologi maupun kuesioner pertanyaan terhadap responden,” tuturnya.
Isu Kinerja Wapres Gibran
Menurut hasil survei Adidaya Institute, publik juga sangat percaya Gibran Rakabuming Rakka dapat menjalani tugas dan fungsi sebagai Wakil Presiden. Survei public mood Adidaya Institute menampilkan fakta 75,2 persen responden percaya Wakil Presiden Gibran dapat menjalankan amanahnya.
Namun tingkat kepercayaan tersebut tak berbanding lurus dengan keinginan untuk memadukan duet Prabowo-Gibran selama dua periode. Karena merujuk survei, hanya sekitar 59,9 persen responden yang menginginkan duet Prabowo-Gibran berlangsung dua periode.
Sebanyak 28,8 persen justru berharap kedua tokoh ini tak lagi dipasangkan pada periode pemilu berikutnya. ***












