Singapura, EDITOR.ID – Warung Nasi Padang legendaris tertua di Singapura, dengan nama “Pariaman” tutup secara permanen operasinya pada 31 Januari 2026. Kenaikan harga sewa di kawasan Kampong Glam diduga menjadi alasan utama penutupan ikon kuliner yang telah beroperasi selama 78 tahun ini.
Meskipun pihak manajemen Warung Nasi Pariaman tidak memberikan pernyataan resmi mengenai alasan penutupan, spekulasi dari warganet dan laporan media mengarah pada tekanan biaya operasional yang tinggi, terutama biaya sewa yang mahal, sebagai faktor utama. Bisnis kuliner di Singapura secara umum juga sedang mengalami tekanan, dengan banyak kios yang tutup setiap bulannya.
Warong Nasi Pariaman, yang sudah melegenda dikenal sebagai warung nasi padang tertua di Singapura dan telah menjadi bagian penting dari warisan kuliner lokal, bahkan menerima Penghargaan Pahlawan Warisan Budaya pada tahun 2016.
Penutupan Warong Nasi Pariaman di Singapura memang menjadi kabar duka bagi pecinta kuliner legendaris, didirikan pada tahun 1948 oleh Haji Isrin di kawasan Kampong Glam hingga beroperasi selama 78 tahun dan menjadi ikon kuliner lintas generasi.
Dilaporkan bahwa kenaikan biaya sewa tempat di kawasan Kampong Glam menjadi alasan utama, dengan beberapa sewa tenant di sekitarnya dilaporkan naik drastis dari sekitar SGD 3.000 menjadi hampir SGD 10.000 dalam beberapa tahun terakhir.
Haji Isrin adalah perantau asal Kota Pariaman, Sumatera Barat, yang mendirikan Warong Nasi Pariaman di Singapura pada tahun 1948. Kedai ini berlokasi di Jalan Kandahar, kawasan Kampong Glam, dan dikenal sebagai restoran nasi Padang tertua di Singapura yang kini bikin menangis para konsumen penikmatnya.
Haji Isrin merintis usaha ini dari sebuah kios kecil sebelum akhirnya menetap di lokasinya yang ikonik di Jalan Kandahar.
Setelah 78 tahun melayani pelanggan lintas generasi dengan menu autentik seperti rendang, ayam gulai, dan sambal goreng, restoran ini dikelola oleh keturunan generasinya.
Warong Nasi Pariaman secara resmi mengumumkan akan tutup permanen pada 31 Januari 2026.
Menjelang penutupannya, warga Singapura dan wisatawan berbondong-bondong mengantri panjang untuk menikmati rendang, ikan bakar asap, kalio sotong, dan ayam gulai andalan mereka untuk terakhir kalinya.
Warung ini dianggap bukan sekadar tempat makan, melainkan bagian dari tradisi budaya yang otentik dan warisan kuliner Minang di Singapura
Keputusan ini dipicu oleh lonjakan biaya sewa di kawasan Kampong Glam yang meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir serta tantangan ekonomi lainnya.
Penutupan ini menandai berakhirnya salah satu warung nasi Padang paling otentik di Singapura yang dikelola oleh generasi kedua.
Warisan Haji Isrin dianggap sebagai bagian penting dari sejarah kuliner Melayu di Singapura, dan pengumuman penutupannya memicu antrean panjang dari warga yang ingin mencicipi hidangan terakhirnya. (*)












