Tak Mampu Taklukan Malaysia, Pecinta Bola dan Ketum PSSI Kecewa “Jangan Hanya Bisa Lawan Brunei”

Tak hanya publik bola saja yang kesal dan kecewa, Ketua Umum (Ketum) PSSI Erick Thohir (Etho) pun juga mengaku kecewa berat. Erick merasa lini depan masih belum menunjukkan ketajaman yang dibutuhkan untuk menghadapi babak gugur.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir

Jakarta, EDITOR.ID,- Kegagalan Timnas Indonesia U-23 menaklukan Timnas Malaysia di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada Senin (23/7/2025) mengecewakan jutaan pecinta bola tanah air. Nada kekecewaan ditumpahkan para fans bola di media sosial. Mereka menilai Gerald Vanenburg telah gagal mempersembahkan kemenangan yang sesungguhnya.

Pasalnya, kemenangan telak Indonesia saat melawan Brunei tidak bisa dijadikan ukuran keberhasilan Timnas Garuda Muda dibawah asuhan pelatih asal Belanda tersebut. Namun, hasil yang nyata harus diperlihatkan saat melawan lawan yang sepadan, yakni Malaysia. Seberapa jauh kekuatan Timnas Indonesia U-23 bisa diukur telah mengalami perkembangan pesat.

Ketum PSSI Erick Thohir Kecewa Berat

Tak hanya publik bola saja yang kesal dan kecewa, Ketua Umum (Ketum) PSSI Erick Thohir (Etho) pun juga mengaku kecewa berat. Erick merasa lini depan masih belum menunjukkan ketajaman yang dibutuhkan untuk menghadapi babak gugur.

Erick menyoroti minimnya penyelesaian akhir Timnas U-23 Indonesia yang tidak mampu mencetak gol ke gawang Malaysia pada laga pamungkas Grup A Piala AFF U-23 2025. Terutama jika dibandingkan dengan penampilan dominan saat melumat Brunei Darussalam 8-0 di laga sebelumnya.

“Tadi finishing-nya belum ada. Beberapa kali kesempatan tadi ada bola. Saya bukan striker juga, ini kan teori semua,” ujarnya dengan nada kecewa kepada awak media usia laga di Stadion Utama GBK, Jakarta, Senin (21/7/2025) malam.

“Mereka harus buktiin di semifinal final, jangan hanya bisa lawan Brunei,” tambah Erick.

Ia berharap pemain mampu menunjukkan kapasitas mencetak gol di fase penentu kejuaraan. “Saya berharap mereka mencetak gol di dua game ini sebenarnya,” katanya.

Erick menyoroti sejumlah peluang yang terbuang karena kurangnya ketenangan dalam eksekusi.

“Saya rasa beberapa peluang yang di depan gawang, kalau para penyerang kita sabar, saya rasa kesempatannya ada,” kata Erick.

Peluang emas yang diciptakan Garuda Muda seharusnya bisa dikonversi menjadi gol jika para pemain lebih tenang dan cermat di kotak penalti.

“Soalnya supaya membuktikan mereka siap, dan ada beberapa peluang sebenarnya tadi mustinya bisa,” lanjutnya.

Salah satu peluang yang cukup disayangkan oleh Etho, sapaan akrab Erick Thohir adalah tendangan salto atau bicycle kick yang dilepaskan Jens Raven di awal babak kedua.

Indonesia pada pertandingan ini menguasai bola sebanyak 69 persen, demikian catatan dari Instagram timnas Indonesia.

Saat itu, Raven menerima umpan matang dari sisi kanan, namun penyelesaiannya lewat tendangan salto gagal mengarah tepat ke gawang dan terbuang sia-sia.

“Mestinya ditahan pakai dada, tapi malah tendangan bicycling. Tapi kalau masuk sih luar biasa bagus,” ujar Etho.

“Tapi saya rasa beberapa peluang yang di depan gawang, kalau para penyerang kami sabar, kesempatannya ada. Finishing-nya ada, finishing-nya perlu lebih baik,” sambungnya.

Mereka melesatkan 11 tembakan yang tiga di antaranya tepat sasaran. Namun, tak ada gol yang tercipta.

Ini adalah kali kedua Erick mengkritik penyelesaian akhir tim Garuda Muda setelah pada kedua melawan Filipina pekan lalu, saat mereka menang 1-0 melalui gol bunuh diri pemain lawan.

“Kalau penguasaan bola, dua pertandingan luar biasa tingginya. Lalu umpan hari ini aja, passingnya 89 persen. Saya rasa angka yang baik. Finishing yang mesti ditingkatkan,” kata dia.

Hasil imbang ini memang tidak merugikan Indonesia. Dengan tujuh poin dari tiga laga, Garuda Muda tetap keluar sebagai juara Grup A dan melangkah ke babak semifinal. Mereka dijadwalkan menghadapi juara Grup C, yang kemungkinan besar akan diisi oleh Thailand, pada Jumat (25/7) mendatang di stadion yang sama.

Erick menyatakan bahwa secara keseluruhan ia cukup puas dengan performa tim sejauh ini. Namun ia kembali menekankan bahwa ketajaman di lini depan harus menjadi perhatian utama menjelang laga semifinal. “Secara umum saya puas, tujuh poin, lolos ke semifinal, pola permainan sudah terbentuk. Tapi tetap saja, aspek penyelesaian akhir perlu ditingkatkan lagi,” jelasnya.

Menutup pernyataannya, Erick mengingatkan bahwa kemenangan besar atas Brunei Darussalam dengan skor 8-0 tak seharusnya menjadi tolok ukur utama. Justru laga melawan Filipina dan Malaysia yang minim gol memperlihatkan titik-titik lemah yang perlu dibenahi.

“Saya sudah bilang, skor besar lawan Brunei bukan ukuran. Justru dua laga setelahnya yang harus jadi pelajaran. Pola main sudah bagus, tapi finishing belum optimal,” tandasnya.

Timnas Indonesia U-23 harus puas berbagi angka dalam laga tanpa gol melawan Malaysia dalam laga terakhir Grup A ASEAN U-23 Championship 2025. Laga antara Indonesia vs Malaysia berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Senin (21/7/2025) malam.

Meski hasil akhir 0-0 Indonesia tetap menjadi juara Grup A dengan tujuh poin. Sehingga skuad asuhan Gerald Vanenburg tetap lolos ke babak semifinal sebagai pemuncak grup. (tim)

Leave a Reply