Settia

Seperti Apa Sosok Abu Umar, Pemimpin JAD Jawa Timur? Ini

EDITOR.ID, Malang,- Usai peristiwa bom bunuh diri di Gereja Surabaya, Tim Detasemen Khusus Anti Teror 88 (Densus 88) berhasil menangkap salah satu pentolan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur. Namanya, Syamsul Arifin alias Abu Umar.

Berdasarkan keterangan warga, Abu Umar tinggal di sebuah rumah bercat coklat di Dusun Jatinom, Kanigoro, Kabupaten Blitar. Rumah ini merupakan rumah keluarga Abu Umar. Disana tinggal ibunya dan istri tuanya.

Seorang perempuan berdiri di pinggir jalan depan rumah itu. Dia membenarkan, jika ini adalah rumah orang tua Abu Umar.

Pria muda berusia 35 tahun ini ternyata berasal dari keluarga terpandang dan berhasil dalam usaha. Namun ia punya sifat buruk. Keras kepala dan tidak suka menerima nasehat orang lain. Bahkan ibu kandungnya sendiri sering dilawan jika ia berbeda pendapat atau mempertahankan keyakinannya.

Sang ibunda Abu Umar yang hingga kini masih tinggal di Blitar mengatakan, putranya itu memang punya karakter keras kepala jika diajak bicara sikapnya akhir-akhir ini yang punya paham aliran keras.

“Iya saya ibunya. Sudah saya bilangin ndak usah ikut begitu itu tapi ngeyel. Ada kok istrinya kalau mau ketemu,” ucap ibu Abu Umar di rumahnya Blitar.

Rupanya berita penangkapan anaknya, telah diketahui keluarganya. Pihak kepolisian dan beberapa pihak lain telah mendatangi rumah itu untuk konfirmasi.

Tak lama kemudian, keluarlah wanita berbaju dan mengenakan cadar coklat. Pandangannya sangat tajam.

“Saya gak tahu apa-apa. Jangan bertanya ke saya. Nanti saja kalau orangnya (Abu Umar) sudah pulang, silahkan tanya sendiri ke yang bersangkutan,” kata istri Abu Umar.

Namun tak lama kemudian istri Abu Umar bercerita jika Senin (14/5) pagi, suaminya pamit pergi ke Malang. Senin malam suaminya masih mengirim SMS menanyakan kondisinya dan dua anaknya.

“Setelah itu gak bisa ditelpon lagi sampai sekarang. Sudah gak usah ditulis macam-macam. Toh belum ada keterangan resmi dari polisi atau Densus 88 kan,” pungkasnya sambil berlalu menutup pintu.

Seorang warga yang rumahnya tak jauh dari rumah Abu Umar, Sugilah mengatakan bahwa keluarga Abu Umar merupakan keluarga terpandang namun tertutup.

“Mas Apin itu keluarga terpandang disini. Ya hanya dia yang kata ibunya aliran keras. Ibunya sering mengeluh ke saya karena susah dibilangin supaya sama seperti saudaranya yang lain,” tutur Sugilah.

Yang dikeluhkan ibu Abu Umar, kata Sugilah, adalah terkait kekerasan hati anaknya mengikuti ajaran agama yang berbeda dengan keluarga besarnya. Di Blitar ternyata Abu Umar juga mempunyai istri. Padahal di Malang, Abu Umar juga beristri.

Kini Abu Umar telah diamankan Densus 88 bersama istri mudanya Wahyu Mega Wijayanti (40) di rumah kontrakannya di Perum Banjararum Blok BB, Singosari, Kabupaten Malang.

Di rumah itu, mereka tinggal baru dua bulan bersama satu anak mereka. Umar sendiri tercatat sebagai warga yang beralamat di Dusun Jatinom, Kanigoro, Kabupaten Blitar. Sementara Wahyu beralamat di Jalan Ir Rais, Klojen, Kota Malang.

Dari situ warga Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro meyakini Abu Umar yang diamankan Densus 88 di Singosari adalah tetangga mereka. Walaupun belum ada keterangan resmi dari pihak terkait, namun beberapa tetangga yakin SA adalah Syamsul Arifin (Abu Umar), warga Kabupaten Blitar.

Ketua RT 3 RW 2 Kelurahan Jatinom Sutikno menunjukkan kartu keluarga Abu Umar. Di situ tercantum nama istri dan dua anak laki-lakinya. “Yang di sini istri sah, yang tinggal di Singosari itu mungkin istri sirinya,” kata Sutikno.

“Yakin itu bener Mas Apin (panggilan Syamsul Arifin/Abu Umar). Karena semua ciri-ciri pelaku pengeboman, ya seperti keseharian dia,” tuturnya. (tim)

Leave a Reply