EDITOR.ID-JAKARTA– Rupiah tampil perkasa pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026). Mata uang Garuda berhasil menguat 93 poin ke level Rp17.934 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sebelumnya sempat menguat hingga 115 poin. Di balik penguatan ini, pelemahan dolar AS dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui ekspektasi menjadi dua katalis utama yang membangkitkan optimisme pasar.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kombinasi sentimen global dan domestik berhasil mengangkat kepercayaan investor terhadap aset-aset Indonesia.
Dolar AS Melemah, Pasar Sambut Harapan Perdamaian
Tekanan terhadap dolar AS dipicu oleh meningkatnya harapan penyelesaian konflik di Timur Tengah. Qatar menyebut proses mediasi menunjukkan perkembangan positif, sehingga memicu penurunan harga minyak dunia.
Harga minyak Brent bahkan ditutup di bawah US$80 per barel, level terendah sejak pertengahan Juli. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani disebut membahas peluang penyelesaian konflik antara Washington dan Teheran. Meski Iran masih membantah adanya negosiasi resmi, optimisme pasar telanjur terbentuk.
Ekonomi Indonesia Bikin Kejutan
Dari dalam negeri, kabar yang paling menyita perhatian datang dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat 5,29 persen secara tahunan (year on year/YoY). Angka ini jauh melampaui perkiraan banyak ekonom yang sebelumnya hanya memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 4,8–4,9 persen.
Capaian tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi nasional masih solid meski dibayangi perlambatan ekonomi global, tingginya biaya produksi, dan ketidakpastian geopolitik.
Selain itu, BPS juga mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 3,73 persen dibanding kuartal sebelumnya, sementara pertumbuhan kumulatif semester pertama 2026 mencapai 5,45 persen.
Deflasi Jadi Angin Segar
Sentimen positif juga datang dari inflasi yang tetap terkendali.
Indonesia mengalami deflasi 0,14 persen pada Juli 2026, terutama didorong oleh penurunan harga pangan. Kondisi tersebut membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat keyakinan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Ibrahim Assuaibi, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari perkiraan dan inflasi yang terkendali menjadi modal penting bagi rupiah untuk tetap kompetitif di tengah tekanan global.
Pasar Kini Menunggu Data AS
Meski rupiah menguat, Ibrahim mengingatkan bahwa volatilitas masih berpotensi terjadi.
Fokus investor kini beralih pada rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, termasuk ADP Employment Change dan Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Jika data ketenagakerjaan AS melemah, peluang The Fed mempertahankan suku bunga semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang pelemahan dolar AS sekaligus memberi ruang bagi rupiah untuk bertahan di jalur penguatan.
Rupiah Diprediksi Bergerak Terbatas
Untuk perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.930 hingga Rp17.980 per dolar AS.
Pergerakan pasar diperkirakan tetap dipengaruhi perkembangan geopolitik global, arah kebijakan The Fed, serta respons investor terhadap data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.**












