Rupiah Pagi ini Menguat ke Level Rp 17.773, Ini Penyebabnya

Presiden menilai laporan tersebut menunjukkan fakta dan data valid meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia, yang tercermin dari tingginya minat dan masuknya investasi ke berbagai sektor strategis nasional.

Ilustrasi Rupiah

Jakarta, EDITOR.ID,- Nilai tukar atau kurs rupiah pagi ini menguat ke level 17.773 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (15/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS kini berada pada level Rp 17.782 atau melemah 0,44% pukul 09.05 WIB.

Tak berselang lama, mata uang Paman Sam terus melemah sekitar pukul 09.08 WIB menjadi Rp 17.773.

Dolar AS bergerak variatif terhadap sejumlah mata uang negara besar lainnya. Dolar AS tercatat menguat terhadap mata uang EUR sebesar 0,27%.

Kemudian terhadap mata uang GBP, dolar AS juga menguat 0,25%. Sedangkan terhadap AUD, dolar AS melemah hingga 0,37%.

Sementara terhadap mata uang JPY, dolar AS bergerak melemah 0,02%. Begitu juga pergerakan dolar AS terhadap mata uang CAD yang melemah 0,10%. Sedangkan terhadap mata uang CHF, dolar AS melemah 0,33%.

Penguatan ini melanjutkan kinerja positif pada perdagangan terakhir pekan lalu. Pada Jumat (12/6/2026), rupiah berhasil ditutup menguat tajam 0,61% ke posisi Rp17.865/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,18% ke level 99,569.

Menurut analis pasar, penguatan rupiah dipicu sentimen positif dari hasil kunjungan kerja Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani ke Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa, dan Asia.

Presiden Prabowo Subianto meminta Rosan agar perkembangan positif terkait investasi yang diraih selama kunjungan disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.

Presiden menilai laporan tersebut menunjukkan fakta dan data valid meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia, yang tercermin dari tingginya minat dan masuknya investasi ke berbagai sektor strategis nasional.

Instruksi tersebut menunjukkan pemerintah ingin memberikan gambaran langsung kepada publik mengenai kondisi investasi terkini di Indonesia. Pemerintah juga berupaya memastikan informasi yang diterima masyarakat terkait perkembangan ekonomi nasional didasarkan pada data dan fakta yang terukur.

Dolar Melemah di Pasar Global

Selain kabar baik dari tanah air, pergerakan rupiah pada awal pekan ini mendapatkan angin segar dari pelemahan dolar AS di pasar global.

DXY melemah seiring kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati kerangka kesepakatan damai. Kabar tersebut membuat harga minyak turun dan mendorong permintaan terhadap aset berisiko.

Pejabat AS dan Iran pada Minggu waktu setempat menyatakan kedua negara telah menyepakati kerangka untuk mengakhiri perang, menghentikan blokade AS terhadap Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak pun ikut turun, dengan Brent terkoreksi lebih dari 4% ke level US$83,82 per barel.

Meski demikian, pelaku pasar masih tetap berhati-hati. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada New York Times pada Minggu bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS, maka Washington dapat kembali melancarkan serangan militer ke Teheran atau menjadikan AS sebagai “penjaga Timur Tengah” dengan imbalan 20% dari pendapatan kawasan tersebut.

Kondisi ini pada akhirnya mengurangi minat pasar terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven. Ketika permintaan terhadap dolar AS menurun, ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbuka.

Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari penguatan kerja sama Bank Indonesia (BI) dengan bank sentral China, People’s Bank of China (PBOC).

BI dan PBOC telah melaksanakan pertemuan tingkat tinggi atau high level meeting Joint Work Program pada Rabu (11/6/2026) di Shanghai, China. Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur PBOC Pan Gongsheng.

Pertemuan tersebut menghasilkan enam poin penting. Salah satunya adalah sinergi untuk memperkuat ketahanan keuangan masing-masing negara sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas keuangan regional yang lebih luas.

Kerja sama ini juga mendukung upaya kedua bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar. ***

Leave a Reply