Riza Chalid Saudagar Besar di Pusaran Minyak Mentah, Siapa Dia Sebenarnya?

Namun "kekuatan" Riza Chalid yang disebut-sebut sulit terjamah hukum kini mulai redup. Jaringan koleganya kalangan atas, tak mampu mempengaruhi penegakan hukum di era Pemerintahan Prabowo-Gibran. Prabowo Subianto sangat tegas dalam memerangi korupsi.

Jakarta, EDITOR.ID,- Raja minyak sekaligus orang kaya raya Riza Chalid terseret dalam pusaran permainan mafia tata kelola minyak tanah di Pertamina. Nama Riza Chalid sebenarnya telah menjadi gunjingan publik terkait sepak terjangnya. Bahkan dia sempat dijuluki “The Gasoline Godfather” berkat kekuasaannya di dunia bisnis minyak mentah.

Namun “kekuatan” Riza Chalid yang disebut-sebut sulit terjamah hukum kini mulai redup. Jaringan koleganya kalangan atas, tak mampu mempengaruhi penegakan hukum di era Pemerintahan Prabowo-Gibran. Prabowo Subianto sangat tegas dalam memerangi korupsi.

Semangat dan dukungan Presiden Prabowo inilah yang memotivasi dan mendorong Kejaksaan Agung (Kejagung) lebih nyaman, lepas dan independen dalam meringkus para koruptor negeri ini. Maka dengan gerak cepat Kejagung berani menetapkan Riza Chalid sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina (Persero), Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) periode 2018–2023.

Penetapan Riza Chalid ini membuat heboh publik. Pasalnya saudagar minyak itu jarang tersentuh hukum di Indonesia karena dikenal “orang kuat”. Namun kali ini Kejagung membuktikan keberaniannya dengan meringkus Riza di kasus minyak yang merugikan negara triliunan.

Keterlibatan Riza Chalid alias MRC dalam kasus korupsi minyak mentah terungkap karena dia disebut-sebut sebagai beneficial owner dari perusahaan Orbit.

Dalam konferensi pers yang digelar mendadak malam ini, Direktur Penyidikan (Dirdik) Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung, Abdul Qohar menegaskan dari hasil penyelidikan, ada sembilan yang ditetapkan jadi tersangka dalam kasus tata kelola minyak mentah ini. Salah satunya Raja Minyak, Riza Chalid.

Lantas siapakah sebenarnya sosok Riza Chalid?

Sosok Riza Chalid, Saudagar Minyak Kaya Raya

Mohammad Riza Chalid, atau yang lebih dikenal sebagai Reza Chalid, adalah seorang pengusaha Indonesia yang menjalankan bisnis di berbagai sektor, mulai dari ritel mode, perkebunan sawit, industri minuman, hingga perdagangan minyak bumi.

Berkat dominasinya dalam impor minyak, ia mendapat julukan “Saudagar Minyak” atau “The Gasoline Godfather.”

Lahir pada tahun 1960, Riza aktif dalam bisnis impor minyak melalui anak perusahaan PT Pertamina, yaitu Pertamina Energy Trading Limited (Petral). Pada tahun 1985, ia menikah dengan Roestriana Adrianti atau yang akrab disapa Uchu Riza.

Selama menjalani kehidupan rumah tangga, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di Singapura. Pada 2004, pasangan ini mendirikan sebuah sekolah di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Kemudian, pada November 2007, mereka juga membangun tempat bermain anak. Dari pernikahan tersebut, Riza dan Uchu dikaruniai dua anak, yakni Muhammad Kerry Adrianto dan Kenesa Ilona Rina.

Nama Riza Chalid kerap dikaitkan dengan berbagai kontroversi bisnis perminyakan, khususnya terkait Petral yang berbasis di Singapura.

Bisnis minyak Riza konon diperkirakan menghasilkan sekitar US$30 miliar per tahun, sementara kekayaannya ditaksir mencapai US$415 juta. Angka tersebut menjadikannya sebagai orang terkaya ke-88 dalam daftar Globe Asia tahun 2015.

Di dunia perminyakan, Riza memiliki sejumlah perusahaan yang beroperasi di Singapura, seperti Supreme Energy, Paramount Petroleum, Straits Oil, dan Cosmic Petroleum.

Selain itu, pada tahun 1997, ia pernah mewakili PT Dwipangga Sakti Prima perusahaan milik Mamiek Soeharto dan Bambang Trihatmodjo dalam pembelian pesawat Sukhoi di Rusia. Perusahaan ini sebelumnya terseret kasus mark-up pengadaan pesawat Hercules pada 1996.

Dalam perjalanan tersebut, Riza didampingi sejumlah tokoh, termasuk Ginandjar Kartasasmita dan Jenderal Wiranto. Nama Riza juga sempat mencuat dalam kasus yang menyeret Ketua DPR RI, Setya Novanto, terkait polemik perpanjangan izin operasi PT Freeport Indonesia, perusahaan tambang emas besar yang telah beroperasi di Papua sejak 1966.

Selain itu, ia disebut-sebut memiliki peran dalam Pemilu 2014 sebagai salah satu pendukung dan penyokong dana untuk Prabowo Subianto. Bahkan, ia diduga terlibat dalam pendanaan tabloid kontroversial Obor Rakyat serta pembelian Rumah Polonia, yang menjadi markas tim sukses pasangan Prabowo-Hatta.

Keterlibatan-nya dalam berbagai isu strategis, terutama yang berkaitan dengan politik dan bisnis energi, membuat Riza Chalid menjadi sosok yang kerap dibicarakan.

Meskipun jarang muncul di hadapan publik, pengaruhnya dalam dunia perdagangan minyak serta jejaring politiknya tetap menjadi perhatian banyak pihak. Hingga kini, namanya terus dikaitkan dengan berbagai manuver bisnis yang melibatkan kepentingan besar, baik di dalam negeri maupun di lingkup internasional.(*)

Nama Riza Chalid mengingatkan kembali dalam kasus “Papa Minta Saham” oleh mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto.

Dalam sebuah rekaman beredar, ucapan Riza dalam pembicaraannya dengan Ketua DPR Setya Novanto dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, yang saat ini tengah menjadi perbincangan publik.

Dalam salah satu potongan percakapan, Riza sempat menyebut daerah Padang dengan istilah “dajal”.

Sebagaimana dipahami, istilah dajal memiliki pengertian orang yang paling berdusta, paling pembohong, sampai-sampai dajal itu menyebut dirinya Tuhan.

Pernyataan itu sempat membuat masyarakat Minangkabau berang. Kemudian melaporkannya ke Mabes Polri. Sampai kini tak ada ujungnya. (tim)

Leave a Reply