Prabowo Panggil Kepala BIN dan Kepala BGN, Ada Apa?

Prabowo Rapat Isu Keamanan, Ketahanan Pangan dengan BIN-BGN

Presiden Prabowo Subianto mendadak memanggil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Herindra dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Prof. Dadan Hindayana ke Istana Merdeka pada Selasa malam. Pertemuan berlangsung tertutup. Foto: Tangkapan Layar Akun Instagram @Seskab

Jakarta, EDITOR.ID,- Presiden Prabowo Subianto mendadak memanggil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Herindra dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Prof. Dadan Hindayana ke Istana Merdeka pada Selasa malam. Pertemuan berlangsung tertutup.

Tak sekadar dua tokoh penting di republik itu, Prabowo juga memanggil sejumlah tokoh diantaranya Wakil Ketua DPR Prof. Sufmi Dasco, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kepala Perum Bulog Rizal Ramdhani. Sedang ada apa Presiden malam memanggil para petinggi negara tersebut. Adakah masalah darurat atau penting?

Terungkap Kantor Sekretariat Kabinet (Setkab) dalam unggahan media sosial resminya di instagram menyebut pertemuan tersebut membahas sejumlah isu-isu strategis, termasuk situasi keamanan dan ketahanan pangan nasional.

Dalam rapat yang sama, Seskab Teddy dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi juga mengikuti rapat terbatas tersebut.

Presiden Prabowo, dalam rapat tersebut, mendengarkan laporan dari jajarannya mengenai situasi keamanan dan ketahanan pangan nasional, serta isu-isu strategis lainnya yang menjadi perhatian pemerintah.

“Pertemuan yang berlangsung tertutup tersebut membahas sejumlah isu strategis, termasuk situasi keamanan dan ketahanan pangan nasional,” kata Seskab Teddy Selasa, 12 Agustus.

Selepas rapat bersama Presiden, Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut dirinya melaporkan perkembangan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis per 11 Agustus 2025. Dadan menyebut realisasi APBN untuk MBG per hari ini mencapai Rp8,2 triliun.

Dari realisasi anggaran untuk MBG itu, BGN telah membentuk 5.103 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh provinsi Indonesia, tepatnya di 38 provinsi, 502 kabupaten, dan 4.770 kecamatan.

“Penerima manfaatnya sudah di atas 15 juta, dan insyaallah akan mendekati angka 20 juta,” kata Dadan.

Dadan kemudian menjelaskan Rp8,2 triliun yang digelontorkan untuk MBG itu difokuskan untuk mengintervensi asupan gizi kepada anak-anak sekolah dan ibu-ibu hamil di berbagai daerah Indonesia.

BGN sendiri menargetkan hingga akhir Agustus 2025 ada 8.000 SPPG beroperasi, terutama yang dibiayai oleh APBN, dengan target penerima sampai dengan mendekati 20 juta.

“Sekarang ini kan para mitra ini sudah mendaftar lama ya, sudah membangun SPPG-nya, hanya kami tinggal percepat verifikasinya. Jadi, kami sudah lebih dari 2 minggu ini mempercepat proses verifikasi, mempersingkat proses administrasi, dan juga termasuk pembiayaan. Jadi, pembiayaannya kami kirim lebih awal supaya penerima manfaat bisa meningkat dalam waktu yang tidak terlalu lama,” kata Dadan mengungkap strateginya untuk mencapai target mendekati 20 juta penerima MBG pada akhir Agustus 2025. (*)

Leave a Reply