Penantian Panjang, Saatnya Margono Djojohadikusumo Mendapat Gelar Pahlawan Nasional Usulan PWI Jatim

Margono Djojohadikusumo meninggal dunia pada 25 Juli 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Dawuhan, Banyumas.

Di balik lembaran sejarah Indonesia, nama Raden Mas Margono Djojohadikusumo menjadi salah satu figur yang memancarkan makna sejati dari istilah noblesse oblige.

Sebagai seorang bangsawan Jawa yang lahir pada 16 Mei 1894 di Banyumas, Margono bukan hanya seorang tokoh politik dan ekonom, tetapi juga seorang patriot sejati yang rela berjuang tanpa pamrih demi rakyatnya.

Margono memanifestasikan filosofi Jawa manunggaling kawula lan gusti, yaitu persatuan antara pemimpin dan rakyat, dalam setiap aspek kehidupannya (Reid, 2011).

Margono dikenal sebagai sosok yang konsisten dalam menjalankan nilai-nilai kebajikan.

Dalam setiap langkahnya, ia selalu mengutamakan kebermanfaatan bagi banyak orang, menjadikan pengabdian sebagai inti dari kehidupannya (Vickers, 2013).

Filosofi hidupnya tidak hanya tercermin dalam karya dan kebijakan yang ia hasilkan, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari dengan masyarakat.

Namun, perjalanan hidup Margono tidak hanya dihiasi oleh kontribusi besar, tetapi juga oleh cobaan berat.

Kehilangan dua putranya, Kapten Subianto (21 tahun) dan Kadet (Taruna) Sujono, dalam Pertempuran Lengkong tidak membuat Margono surut memperjuangkan cita-cita bangsa (Tirtosudarmo, 2018).

Dalam pertempuran tragis tersebut, yang menyerupai kisah Saving Private Ryan besutan Steven Spielberg, kedua putranya gugur bersama pimpinannya, Mayor Daan Mogot, demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kisah ini menegaskan betapa pengorbanan keluarga Djojohadikusumo bagi nusa dan bangsa begitu besar.

Nama kedua putranya, Subianto dan Sujono, kemudian diabadikan kepada cucunya, Prabowo Subianto dan Hashim Sujono Djojohadikusumo.

Pengorbanan keluarga ini menjadi simbol pengabdian tanpa batas untuk Indonesia.

Dalam konteks ini, Sygma Research and Consulting yang dipimpin Sejarawan Yuristiarso Hidayat, mengusulkan Margono untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, dengan mengkaji secara mendalam kiprahnya dalam sejarah Indonesia.

Sebagai seorang bangsawan Jawa yang lahir pada 16 Mei 1894 di Banyumas, Margono bukan hanya seorang tokoh politik dan ekonom, tetapi juga seorang patriot sejati yang rela berjuang tanpa pamrih demi rakyatnya.

Dengan dukungan dokumen dan penelitian terbaru, kontribusi Margono kini semakin diakui dan dihargai oleh bangsa ini (Sygma Research, 2025).

Meski berasal dari keluarga ningrat, Margono dikenal sebagai seorang yang sederhana dan menjunjung tinggi nilai-nilai ngayomi dan ngayemi (melindungi dan menyejahterakan).

Leave a Reply