Settia

Pemukul Perawat Diminta Tes Kejiwaan, Didampingi LBH Rupadi

Semarang – Penyidik Polrestabes Semarang menetapkan Budi Cahyono (43) sebagai tersangka kasus dugaan pemukulan perawat Klinik Pratama Dwi Puspita, Hidayatul Munawaroh (30).

Tersangka didampingi tim pengacara Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Rumah Pejuang Keadilan Indonesia (Rupadi), Muhammad Nastain cs. Nastain kini meminta kliennya, Budi, tak lain satpam sebuah sekolah di Semarang, untuk tes kejiwaan.

Permohonan disampaikan lewat surat ke Polrestabes Semarang dengan tembusan ke Ditreskrimum Polda Jateng, Kejaksaan Negeri Semarang, dan pihak terkait lainnya.

“Klien kami (Budi Cahyono-) memiliki emosional yang tidak stabil atau ada dugaan gangguan kejiwaannya, sehingga permohonan tes kejiwaan diajukan. Ini mendasari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2014, serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 77 Tahun 2015,” ungkap Nastain kepada wartawan di Semarang, Rabu (15/4).

Pemukulan yang dilakukan tersangka di Klinik Pratama Dwi Puspita pada 9 April 2020 lalu, sempat viral di media massa dan medsos (media sosial). Apalagi itu gara-gara Budi emosi diingatkan korban agar memakai masker, sebagai upaya pencegahan virus Korona atau Coronavirus Disease (Covid-19).

Menurut Nastain, tes kejiwaan penting untuk mengetahui apa pemukulan itu tidak disengaja atau dalam keadaan normal.

Terlebih lagi, pihak keluarga tersangka, Haris Sujatmiko membenarkan, tersangka punya permasalahan mental atau psikisnya. “Kalau itu terbukti, maka kami minta tersangka direhabilitasi di rumah sakit jiwa. Ini sejalan pasal 44 KUHP, seseorang yang kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akalnya, maka tidak dapat dikenakan pidana,” jelas Nastain. Di sisi lain, Haris berharap, perkara bisa selesai secara bijak.

Kondisi tersangka yang juga warga Kemijen, Semarang Timur itu tidak dalam keadaan sehat seutuhnya. Atas pemukulan Budi terhadap perawat, pihaknya meminta maaf kepada korban. Selain itu permohonan maaf juga diutarakan terhadap masyarakat, mengingat peristiwa ini telah membuat gaduh saat pandemi virus Korona.

“Kami harap pihak kepolisian memaklumi, dengan memberi kelonggaran rehabilitasi medik,” ujarnya.

Sementara itu, pengacara tim LBH Rupadi, Chyntya Alena Gaby tak memungkiri tindakan tersangka, keliru. Namun, semua tersangka punya hak didampingi kuasa hukum. Pendampingan terhadap tersangka ini gratis, LBH Rupadi punya alasan memperjuangkan keadilan dan hak dari tersangka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *