Nyawa PM Israel Netanyahu Jadi Sasaran Rudal Balistik Pasukan Garda Iran

IRGC bersumpah untuk meluncurkan "operasi paling ganas dalam sejarah" terhadap pangkalan AS dan Israel. Target Spesifik RGC mengklaim telah menembakkan rudal balistik Kheibar (Kheybar Shekan) ke kantor Netanyahu dan markas komandan Angkatan Udara Israel. Dalam pernyataannya, IRGC menyebut nasib Netanyahu saat ini "tidak pasti" atau "misterius" setelah serangan tersebut.

Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu

Teheran – Tel Aviv, EDITOR. ID – Situasi di Timur Tengah (Timteng) masih sangat dinamis dengan klaim dan serangan balasan yang terus berlanjut dari kedua belah pihak. Hingga 3 Maret 2026, ketegangan antara Iran dan Israel mencapai titik kritis menyusul klaim Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terkait serangan langsung ke pusat pemerintahan Israel.

Perkembangan situasi di Timur Tengah per awal Maret 2026, klaim mengenai rudal Iran yang menargetkan figur tertentu adalah bagian dari eskalasi konflik yang intens.

Kantor berita Xinhua melaporkan bahwa pada 2 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim telah meluncurkan rudal balistik Kheibar yang secara khusus menargetkan kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Yerusalem, dan lokasi Komandan Angkatan Udara Israel, Tomer Bar, menjadi target utama dalam operasi militer yang IRGC sebut sebagai “gelombang kesepuluh” serangan balasan dalam serangkaian serangan rudal balistik. Ini merupakan bagian dari balasan atas serangan gabungan AS-Israel yang menghancurkan fasilitas nuklir dan rudal Iran.

NBC News memberitakan, Konflik ini merupakan bagian dari rangkaian serangan besar-besaran yang melibatkan ratusan rudal dan drone Iran ke wilayah Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah.

Sumpah Balas Dendam

IRGC bersumpah untuk meluncurkan “operasi paling ganas dalam sejarah” terhadap pangkalan AS dan Israel.

Target Spesifik RGC mengklaim telah menembakkan rudal balistik Kheibar (Kheybar Shekan) ke kantor Netanyahu dan markas komandan Angkatan Udara Israel. Dalam pernyataannya, IRGC menyebut nasib Netanyahu saat ini “tidak pasti” atau “misterius” setelah serangan tersebut.

Ancaman Berkelanjutan

Pihak Pasukan Quds IRGC merilis pesan bahwa mulai saat ini, para pemimpin Israel dan sekutunya “tidak akan aman di mana pun”.

Respons Israel

Militer Israel (IDF) mengonfirmasi adanya aktivasi pertahanan udara terhadap rudal yang masuk, namun beberapa sumber menyebut klaim mengenai kematian Netanyahu belum dapat diverifikasi secara resmi atau dibantah oleh laporan pertemuan pejabat Israel lainnya.

Tel Aviv berada dalam kondisi siaga tinggi menyusul serangan rudal balistik Iran yang diklaim berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel. Rudal Kheibar (atau Kheibar Shekan), khususnya varian terbaru, dilaporkan menjadi salah satu senjata utama yang digunakan untuk melumpuhkan pertahanan Israel karena kemampuannya yang tinggi dalam menghindari intersepsi.

Situasi Keamanan di Tel Aviv (Maret 2026) dari Serangan lanjutan dari Iran

Iran dipastikan akan terus meluncurkan gelombang rudal balistik, termasuk tipe Kheibar, yang menargetkan situs-situs penting di Tel Aviv, termasuk pangkalan militer.

Keamanan Udara.

Meskipun sistem pertahanan Israel (Iron Dome, David’s Sling, Arrow) aktif, beberapa rudal dilaporkan berhasil lolos dan mengenai target.

Siaga Tertinggi

Warga diperintahkan untuk berlindung di tempat, dan situasi keamanan dinilai sangat tidak stabil, dengan peringatan serangan lanjutan yang terus-menerus.

Dilaporkan terjadi kerusakan pada fasilitas militer dan area di sekitar Tel Aviv.

Iran Menggunakan Rudal “Tercanggih”

Iran dilaporkan menggunakan rudal balistik Kheybar Shekan (Khaibar) dalam operasi ini. Rudal ini dikenal memiliki kemampuan manuver tinggi untuk menembus sistem pertahanan udara. Meskipun ada klaim mengenai penggunaan rudal yang mampu menembus bunker, pihak militer Israel (IDF) membantah bahwa kantor tersebut hancur dan menyatakan fasilitas tersebut tetap utuh.

Iran mengklaim rudal-rudalnya memiliki jangkauan dan akurasi untuk menembus pertahanan Israel, dengan waktu tempuh hanya sekitar 12 menit dari wilayah Iran.

Iran secara eksplisit menyebut serangan ini bertujuan untuk “menghabisi” nyawa Netanyahu sebagai balasan atas serangan udara AS-Israel sebelumnya.

Spesifikasi Rudal Kheibar (Kheibar Shekan)

Berdasarkan laporan dari Türkiye Today, Rudal Kheibar Shekan adalah rudal balistik jarak menengah generasi keempat yang dikembangkan oleh IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps) Iran.

Rudal ini mampu mencapai target hingga jarak 1.450 km bahkan 2.000 km.

Kecepatan Rudal Kheibar dianggap hipersonik di fase tertentu, dengan kecepatan tinggi yang menyulitkan intersepsi (lebih dari Mach 11 saat memasuki atmosfer).

Rudal Kheibar menggunakan bahan bakar padat sehingga memberikan mobilitas tinggi dan waktu persiapan peluncuran yang sangat cepat.

Kemampuan manuvernya mampu bermanuver dan mengubah lintasan untuk menghindari sistem pertahanan udara dan hulu ledaknya tak diragukan lagi membawa bahan peledak seberat 1.500 kg.

Desain Kheibar aerodinamis khusus (kurang sirip tradisional) mengurangi visibilitas radar.

Tingkat akurasinya dilengkapi dengan sistem pemanduan canggih dengan akurasi 10-30 meter.

Mengapa Kheibar Mampu Lolos dari Iron Dome?

Mengulik dari Euronews.com, Iron Dome sebenarnya dirancang untuk roket jarak pendek (kurang dari 70 km). Serangan Iran menggunakan taktik saturasi (banyak rudal sekaligus) yang membuat sistem pertahanan Israel kewalahan.

Kecepatan rudal Kheibar jauh di atas kemampuan intersepsi Iron Dome.

Kecanggihan Kheibar pada kemampuan manuvernya saat mendekati target (terminal phase) membuatnya tidak dapat diprediksi oleh radar pertahanan manapun.

Saai ini IRGC meng-klaim telah mengamankan varian terbaru (Kheibar Shekan 2) bahkan diklaim mampu mengecoh sistem pertahanan tingkat tinggi seperti THAAD, WION.

Serangan ini menunjukkan pergeseran kemampuan, di mana rudal balistik Iran yang lebih cepat dan lebih akurat semakin menantang sistem pertahanan berlapis Israel.

Keberadaan di Bunker

Beberapa laporan menyebutkan pejabat tinggi Israel sempat dipaksa berlindung di bunker bawah tanah selama serangan berlangsung.

Laporan media menyebutkan Netanyahu dan pejabat senior Israel berlindung di bunker bawah tanah atau “bunker kiamat” selama gelombang serangan rudal berlangsung.

Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Israel maupun verifikasi independen mengenai kondisi keselamatan Netanyahu atau apakah rudal tersebut benar-benar berhasil menjangkau bunker tersebut.

Konteks Eskalasi

Serangan balasan Iran ini dipicu oleh operasi militer gabungan AS dan Israel (termasuk klaim tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei) yang terjadi pada akhir Februari 2026.

Serangan balasan Iran menggunakan rudal Kheibar merupakan bagian dari eskalasi besar setelah operasi gabungan AS-Israel pada akhir Februari 2026.

Kantor berita Al Jazeera melaporkan, meskipun Iran mengeklaim rudal-rudalnha berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa sebagian besar ancaman berhasil dicegat.

Target AS dan Trump

Selain menargetkan Benyamin Netanyahu, Iran juga menargetkan pangkalan militer AS di wilayah tersebut (UEA, Bahrain, Qatar, Irak, Kuwait) sebagai balasan atas keterlibatan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump bersama Netanyahu dipandang sebagai arsitek serangan terhadap Iran, dengan tujuan awal untuk menjatuhkan rezim di Teheran.

Serangan Iran ini terjadi setelah serangan udara masif yang dipimpin AS dan Israel menghancurkan banyak situs rudal Iran. Iran menargetkan situs pemerintah di Tel Aviv, pusat militer di Haifa, dan Yerusalem Timur.

Respons Israel

Kantor Perdana Menteri Israel membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai “berita bohong” (fake news).

Pihak Israel menegaskan bahwa kantor tersebut tetap utuh dan Netanyahu kemudian terlihat mengunjungi lokasi serangan rudal lain di Beit Shemesh untuk meninjau kerusakan.

Situasi Terkini

Situasi di kawasan tetap tegang dengan saling serang yang terus berlanjut antara Iran, Israel, dan aset-aset AS di Timur Tengah.

Eskalasi ini menyebabkan kepanikan besar dengan sirine berbunyi di seluruh Israel dan target infrastruktur sipil/energi di negara-negara Teluk juga terkena dampak. Netanyahu menekankan bahwa operasi melawan Iran akan terus berlanjut.

Klaim mengenai target spesifik ini mencerminkan taktik “balasan langsung” Iran terhadap pemimpin politik dan militer yang dianggap bertanggung jawab atas serangan terhadap mereka, baik dari Israel maupun AS. (*)

Leave a Reply