Cuma Rp 6.000! Rahasia Eks TKW TimTeng ‘Saingi’ Kopi Mahal di Tengah Gedung Pencakar Langit Jakarta

Dulu dengar suara dentuman bom di Libya, sekarang Ibu Komariah cuma takut satu hal: Es batu cair sebelum mas-mas di kawasan Senen Jakarta Pusat borong 'Starbucks 6 Ribuan' miliknya! Begini kisah mantan TKW yang kini jadi Ratu Starling Jakarta. Orang kantoran gaji jutaan ngantri di depan Sepeda Listrik, wanita setengah tua ini. Apa sih rahasia racikan mantan TKW Abu Dhabi, Libya dan Suriah ini sampai pelanggan ogah berpaling?

JAKARTA — EDITOR.ID Matahari pagi belum sepenuhnya membakar aspal Jalan kawasan Pasar Senen pada hari Minggu, 27 September 2026, tetapi Ibu Komariah sudah siap menantang hari. Dengan kebaya rambut ditutupi jilbab, selalu tersenyum yang tak pernah absen, tangan legamnya dengan tangkas meracik kopi dilengkapi berkeliling menyusuri tempat keramaian Kota Jakarta.

Gerobak sepeda listrik berisi puluhan gelas pelastik menjadi “kasur rezeki”-nya berada: bertumpuk-tumpuk gelas pelastik minuman instan yang akan ditambahkan es batu, berkode logo “Haus” bagi siapapun warga Jakarta mengenalnya sebagai Starling (Starbucks Keliling)—sang pahlawan pereda dahaga kaum pekerja ibu kota dengan harga merakyat, cukup Rp6.000 per gelas.

Namun, beberapa tahun lalu, ruang gerak Komariah jauh dari riuk pikuk jalanan Jakarta. Ia adalah mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang pernah merantau belasan tahun di garis depan Timur Tengah, mulai dari riuhnya kota Abu Dhabi di Uni Emirat Arab, Libya hingga Suriah memanasnya konflik geopolitik di Tripoli, Libya.

Dari Debu Abu Dhabi hingga Gejolak Libya

Komariah kini menetap di rumah kontrakan di bilangan Kemayoran semenjak kepulang nya dari TimTeng 3 tahun lalu demi membiayai anak-anaknya dan berniat ingin memiliki rumah sendiri tapi hingga sekarang belum juga kesampaian. Pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di Abu Dhabi dijalaninya selama lebih dari empat tahun. Mengurus rumah besar, menghadapi perbedaan budaya, serta rasa rindu yang membuncah menjadi makanan sehari-hari.

Rejeki kemudian membawanya berpindah ke Libya. Di sana, kompensasi yang dijanjikan jauh lebih besar. Namun, takdir berkata lain ketika konflik saudara pecah di negeri itu.

“Di Libya, saya pernah dengar suara dentuman bom dari balik jendela dapur. Takutnya setengah mati. Di sana saya belajar, selagi bisa berkumpul dengan keluarga dalam keadaan selamat dan kenyang, tidak ada rasa syukur yang lebih besar dari itu,” kenang Komariah.

Setelah dievakuasi kembali ke Indonesia dengan tabungan yang tersisa, Komariah berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan pernah lagi pergi jauh meninggalkan anak-anaknya.

Keliling Bersepeda Listrik Menyusuri Beton Jakarta

Kembali ke tanah air di usia yang tak lagi muda membuat pilihan pekerjaan Komariah terbatas. Modal yang terkumpul dari merantau habis untuk biaya pendidikan anak-anak dan kebutuhan mendesak saat masa pandemi. Tak mau menyerah pada keadaan, Komariah memutar otak.

Melihat maraknya pedagang kopi keliling yang didominasi pria di kawasan perkantoran Jakarta, ia melihat peluang. Dengan sisa tabungan beberapa ratus ribu rupiah, ia mendaftarkan diri sebagai mitra pedagang minuman “Starling- HAUS“.
Saban hari, mulai pukul 06.00 WIB, Komariah sudah bersiap di sekitar kawasan Pasar Senen, Pasar Baru, Kemayoran dan sekitarnya terutama kawasan ramai berkeliling dengan bersepeda listrik bermuatan kopi instan racikan dan es batu bukanlah hal mudah bagi seorang wanita paruh baya.

Di tengah barisan beton-beton kini berdiri kokoh, suara khas denting sendok dan es batu dari sepedanya menjadi pemanggil setia para pelanggan: dari petugas kebersihan, sopir ojek online, hingga pekerja kantoran berdasi yang butuh penyegar cepat sebelum masuk ruang rapat.

Sajian Rp 6.000 dan Arti Sebuah Kemandirian

Di atas sepeda listrik nya, Komariah meracik minuman dengan cekatan. Dari cappucino dingin, taro, hingga rasa cokelat khas. Cukup Rp6.000 per gelas, segelas rasa manis dan dingin berpindah tangan, lengkap dengan obrolan singkat yang menghangatkan suasana pagi Jakarta.

Kopi Haus! (brand minuman Haus!), penyebutan “Starling Haus” atau “Haus! Keliling” merujuk pada layanan armada sepeda listrik/sepeda keliling modern resmi dari Haus! yang menyajikan kopi espresso-based dan minuman kekinian dengan harga terjangkau.

​Menu minuman kopi yang dijual oleh armada keliling ini terbagi menjadi beberapa kategori utama:

​ Kopi Susu Kekinian (Best Seller)

​Kopi Susu Gula Aren: Perpaduan espresso, susu segar, dan sirup gula aren asli.

​Kopi Susu Hazelnut: Kopi susu dengan rasa manis dan aroma hazelnut yang gurih.

​Kopi Susu Caramel: Kopi susu dengan tambahan rasa karamel yang lembut.

​ Kopi Espresso & Klasik

​Americano / Kopi Hitam: Seduhan espresso dengan air, disajikan dingin (atau hangat jika tersedia), dengan rasa kopi yang lebih mantap dan segar.

​Caffe Latte: Kombinasi espresso dan susu murni tanpa tambahan perisa.

​Minuman Non-Kopi & Seri Segar (Pelengkap Armada)

​Selain varian kopi, pedagang keliling ini biasanya juga membawa beberapa pilihan minuman populer lainnya untuk melayani pembeli yang tidak minum kopi:

​Choco / Cokelat: Minuman cokelat manis dan gurih.

​Thai Tea / Green Tea: Teh khas Thailand dan teh hijau bersusu.

​Matcha Latte: Minuman teh hijau khas Jepang berbasis susu

Bagi Komariah, profesi Starling bukan sekadar usaha bertahan hidup, melainkan bentuk kemerdekaan.

“Waktu jadi TKW di negeri orang, saya dapat uang tapi rasanya terkurung. Sekarang di Jakarta, walau hasilnya Rp6.000 per gelas dan harus ngayuh sepeda panas-panasan, hatinya tenang. Saya bos buat diri saya sendiri, dan tiap sore bisa pulang ketemu anak.”

Kini, di atas kerasnya aspal Jakarta, Komariah membuktikan bahwa ketangguhan seorang ibu tidak pernah padam. Dari gurun pasir Timur Tengah hingga belantara beton Jakarta, Komariah terus mengayuh harapannya—gelas demi gelas, senyum demi senyum. (*)

Leave a Reply