Kremlin, EDITOR.ID – Pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov seperti diberitakan oleh media PBS, muncul di tengah eskalasi militer yang sangat tinggi setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari hingga awal Maret 2026. (PBS)
Kantor berita IRNA memberitakan, Rusia saat ini berupaya memposisikan diri sebagai mediator perdamaian dan penjaga hukum internasional melalui Dewan Keamanan PBB, namun retorika keras Lavrov menunjukkan bahwa Rusia tidak akan tinggal diam jika stabilitas sekutu strategisnya di Tehran terus digoyang.
Pernyataan Lavrov yang mengeluarkan kecaman keras terhadap gabungan Amerika Serikat dan Israel yang memulai serangan agresi militer ke Iran dan janji memberikan perlindungan strategis bagi Iran.
Lavrov menegaskan bahwa Rusia akan melakukan “segala upaya” untuk membuat operasi militer AS-Israel selanjutnya menjadi mustahil, namun ia menekankan bahwa mekanisme yang akan digunakan adalah politik dan diplomatik.
Rusia menyebut serangan AS-Israel sebagai “agresi bersenjata yang tidak diprovokasi” dan “pengkhianatan terhadap diplomasi” karena serangan dilakukan di tengah proses negosiasi nuklir yang sedang berjalan.
Lavrov menantang pembenaran AS-Israel dengan menyatakan bahwa tidak ada bukti terverifikasi Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.
Media Anadolu Ajansı memberitakan, Lavrov memperingatkan bahwa serangan ini justru bisa mendorong Iran untuk benar-benar membuat bom nuklir karena “AS tidak pernah menyerang negara yang sudah memiliki nuklir”.
Situasi ini lebih condong menjadi potensi titik konflik yang berbahaya dibandingkan sebuah kemajuan, karena beberapa alasan:
Rusia memperingatkan bahwa tindakan AS dan Israel dapat memicu “bencana radiologis, ekonomi, dan kemanusiaan” yang menyeret seluruh Timur Tengah ke dalam perang besar.
Meskipun bersumpah untuk memblokir serangan, laporan menyebutkan bahwa Rusia belum memberikan dukungan militer material secara terbuka. Pengiriman sistem pertahanan udara Rusia ke Iran sebelumnya juga dianggap belum cukup signifikan untuk membendung serangan udara AS-Israel yang masif.
Namun, janji Rusia ini semakin mempertegas “poros perlawanan” bersama Iran dan Cina melawan pengaruh Barat, yang memperdalam polarisasi global mirip era Perang Dingin.
Sementara itu Iran secara resmi meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan segera dan mengadakan rapat darurat terkait serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap negaranya, yang terjadi pada akhir Februari 2026.
Tuduhan Agresi Kriminal
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeed Iravani, menuduh serangan tersebut sebagai agresi kriminal, pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Iran, serta pelanggaran hukum internasional dan Piagam PBB.
Target Serangan
Iran melaporkan bahwa serangan gabungan tersebut menargetkan fasilitas pertahanan dan situs sipil di berbagai kota, yang menurut mereka mengakibatkan korban jiwa sipil, termasuk anak-anak.
Permintaan Tindakan PBB
Iran mendesak Dewan Keamanan untuk “bertindak tegas, jelas, dan tanpa ambiguitas” untuk menghentikan penggunaan kekuatan yang melanggar hukum ini dan meminta pertanggungjawaban dari AS dan Israel.
Hak Iran membela diri dengan menegaskan kembali haknya berdasarkan bunyi Pasal 51 Piagam PBB atas serangan tersebut.
Respons internasional menanggapi hal ini dengan direncanakan rapat darurat yang telah diagendakan oleh Dewan Keamanan PBB di New York untuk membahas eskalasi militer ini. (*)












