Settia

Menjual dan Membeli Harapan Dengan Imajinasi

Oleh: Riyanto

Dosen Stikom InterStudi

Tahun baru 2020 ditandai dengan peristiwa – peristiwa yang membuat pikiran kita untuk mengkaji ulang terhadap apa yang sudah dilakukan dana pa rencana kedepan, baik sebagai pribadi, maupun anggota masyarakat, maupun penyelenggara pemerintahan.

Peristiwa banjir awal tahun di Ibu kota dan daerah penyangga di sekitar ibu kota melahirkan pro kontra yang belum juga terselesaikan, di satu sisi ada alasan – alasan yang dibangun untuk menyelematkan citra diri dari sebuah reputasi, di sisi yang lain adanya pembenaran logika yang bisa dikembangkan untuk menjawab sebuah kemasivan.

Banjir sudah menjadi agenda setiap memasuki musin penghujan, sehingga sudah selayaknya sebuah manajemen yang dipersiapkan untuk menjawab kemungkinan – kemungkinan yang terjadi bila makhluk banjir itu datang.

Tentu saja dengan kegiatan rutinitas memperbanyak jumlah resapan yang sudah dimiliki dengan membangun resapan – resapan baru, atau membuat biopori – biopori agar dapat membantu penyerapan air kedalam tanah, sebagai cadangan air bagi masyarakat.

Memang resapan dan biopori tidak dapat menjawab langsung terhadap banjir itu, namun setidaknya harapan memiliki cadangan air masih ada atau terhindar dari rutinitas penurunan permukaan tanah di Daerah Khusus Ibokota Jakarta dan sekitarnya, selain upaya – upaya untuk memperlancar jalannya air sungai – sungai yang melintasi Jakarta dan sekitarnya, untuk memperlancar jalannya air agar tidak terlalu lama menggenang.

Di waktu yang tidak lama berselang, di sejumlah daerah bermunculan berdirinya organisasi yang mirip dengan pemerintahan baru, seperti: Kerajaan Agung Sejagat (KAS), Sunda Empire, Kesultanan Pajang, Kesultanan Salaco, Kerajaan Jipang, sejumlah orang atau tokoh yang mengaku nabi atau titisan tertentu yang diyakini orang sakti atau terpandang, dan lain sebagainya, yang lebih merupakan refleksi yang kurang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Karena pendirian organisai – organisasi itu juga terkesan pada pendapat atau niatan – niatan dari seseorang sebagai pencetus ide atau gerakan akan melahirkan pemahaman – pemahaman baru dan mengaburkan catatan-catatan sejarah bagi generasi muda di masa mendatang.

Sehingga dengan mudah bangsa ini untuk dipecah belah dengan berbagai alasan, karena persatuan dan kesatuan bangsa sudah rapuh dari dalam.

Konsistensi sistem kepemimpinan bangsa yang mengadopsi” Ing Ngarso sun tulodho, ing madya mangun karso, Tut Wuri Handayani” atau “silih asih, silih asah, silih asuh” menjadi sesuatu yang tidak memiliki makna (mandul).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *