Mbah Kholil Madura, Guru Agung dari KH Hasyim Asy’ari Pendiri NU Kini Jadi Pahlawan Nasional

Sosok Kiai Karismatik Bangkalan Gurunya Mbah Hasyim Pendiri NU Resmi Sandang Gelar Pahlawan Nasional

Syaikhona Muhammad Kholil atau Mbah Kholil adalah guru ilmu agama dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang juga kakek dari Presiden ke-3 Republik Indonesia KH Abdurachman Wahid atau Gus Dur.

Jakarta, EDITOR.ID,- Warga Madura di seantero jagad boleh berbangga hati. Masyaikh atau guru agung, tetua, pemimpin spiritual muslim, Syaikhona Muhammad Kholil atau Mbah Kholil resmi mendapat gelar sebagai pahlawan nasional Indonesia tahun 2025.

Syaikhona Muhammad Kholil atau Mbah Kholil adalah guru ilmu agama dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang juga kakek dari Presiden ke-3 Republik Indonesia KH Abdurachman Wahid atau Gus Dur.

Masyaikh adalah sosok ulama atau pemimpin yang dihormati karena kematangan ilmu, usia, dan kedudukan.

KH. Kholil Bangkalan atau Mbah Kholil adalah seorang ulama besar asal Madura yang lahir sekitar tahun 1835 di Bangkalan, Madura.

Beliau dikenal bukan hanya karena keilmuannya yang mendalam, tetapi sebagai gurunya para guru agung, yang melahirkan ulama berpengaruh di tanah air, termasuk para pendiri Nahdlatul Ulama (NU), karena keluasan ilmunya di bidang fiqih dan nahwu.

Beliau menghabiskan masa mudanya dengan menimba ilmu di berbagai pesantren, bahkan seringkali dengan hidup sederhana untuk tidak membebani orang tuanya.

Belajar di berbagai pesantren seperti Langitan, Sidogiri, dan Keboncandi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama belajar, beliau menjadi buruh batik dan pekerja lainnya.

Sejak muda, beliau sudah menguasai ilmu nahwu dan mampu membaca Al-Qur’an dalam tujuh cara baca (Qira’at Sab’ah).

Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional 2025

Dalam upacara penganugerahan di Istana Negara, Jakarta, Senin, 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh, termasuk Syaikhona Kholil.

Beliau dinilai berjasa besar dalam bidang pendidikan Islam dan pembentukan karakter bangsa melalui jalur pesantren.

Gelar ini menjadi bentuk penghargaan terhadap perjuangan panjang Syaikhona Kholil dalam mengajarkan nilai-nilai Islam, kebangsaan, dan kemandirian santri, jauh sebelum masa kemerdekaan.

Selain mengajarkan ilmu agama, beliau juga menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada santrinya, karena beliau melihat kecintaan pada tanah air sebagai bagian dari iman.

Punya Garis Keturunan Sunan Gunung Jati

Syaikhona Kholil Bangkalan lahir pada 11 Jumadil Akhir 1235 Hijriah atau 25 Mei 1835 Masehi. Lahir di Kampung Seninan, Desa Kemayoran, Bangkalan, Madura.

Ia berasal dari keluarga ulama terpandang. Beliau memiliki garis keturunan yang tersambung hingga syech Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dari pihak ayahnya, Kiai Haji Abdul Latif. Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah, masih memiliki garis keturunan ulama besar dari tanah Makkah.

Sejak kecil, Syaikhona Kholil telah menunjukkan kecintaan besar terhadap ilmu agama.

Ia menempuh pendidikan di berbagai pesantren di Jawa dan Madura sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Makkah Al-Mukarramah.

Belajar dari Ulama Dunia

Selama di Tanah Suci, Syaikhona Kholil memperdalam berbagai disiplin ilmu seperti fiqih, tafsir, hadis, tasawuf, hingga bahasa Arab klasik.

Ia berguru kepada sejumlah ulama besar seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi.

Dari para guru besar inilah, Syaikhona Kholil kemudian membawa semangat ilmu dan dakwah untuk membangun umat di Tanah Air.

Nama besar Syaikhona Kholil berkibar di jagat keilmuan Islam di Nusantara, siapa yang tidak mengenal Syaikhona Kholil pada saat itu.

Kealiman dan kewaliaannya tidak diragukan lagi, tidak satupun orang di Nusantara yang memungkirinya.

Mendirikan Pesantren Kademangan

Sekembalinya ke Indonesia, Syaikhona Kholil mendirikan Pesantren Kademangan Bangkalan, yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Madura.

Dari pesantren inilah lahir banyak ulama besar yang kelak berperan penting dalam perjuangan bangsa.

Gelar “Syaikhona”, yang disematkan kepadanya, merupakan bentuk penghormatan tertinggi di kalangan masyarakat Madura — diberikan hanya kepada ulama yang sangat dihormati, baik karena ilmu maupun akhlaknya.

Wafat dan Warisan Abadi

Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada tahun 1925 dalam usia sekitar 105 tahun.

Ia dimakamkan di Bangkalan, dan hingga kini, makamnya menjadi tempat ziarah ribuan orang setiap tahun.

Warisan ilmunya terus hidup melalui para santri dan ulama yang meneruskan perjuangannya.

KH. Kholil Bangkalan meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah Islam dan kebangsaan Indonesia, sebagai guru bagi banyak pemimpin bangsa dan tokoh agama besar.

Gelar Pahlawan Nasional ini bukan sekadar penghargaan, tapi juga pengingat akan peran besar para ulama dalam membangun dasar keilmuan, moral, dan spiritual bangsa Indonesia. ***

Leave a Reply