“Kampoeng Ramadan Jogokaryan ini sudah tahun ke-21, untuk format acara sebenarnya banyak yang meneruskan dari tahun sebelumnya,” papar Haidar.
“Pasar sore, setiap hari jam 16.30 WIB, ada 340-an pedagang. Harapannya bisa meningkatkan ekonomi karena paling banyak dari warga sekitar,” imbuhnya.
Para pedagang di pasar sore sendiri, kata Haidar, mayoritas adalah warga sekitar masjid. Ada pula warga dari luar Jogokariyan yang pemilihannya dengan cara diundi.
Dana Rp1,5 Miliar untuk Program Takjil
Program berbagi takjil ini terwujud berkat donasi dari masyarakat. Pengurus masjid telah berhasil mengumpulkan dana hingga Rp1,5 miliar guna memastikan ribuan porsi makanan dapat tersaji setiap hari sepanjang bulan suci.
Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, Ustaz Muhammad Jazir mengungkapkan bahwa program ini sudah menjadi tradisi tahunan dan semakin banyak masyarakat yang berpartisipasi.
“Setiap hari, ribuan jamaah datang untuk berbuka bersama. Banyak dari mereka sengaja datang lebih awal untuk menikmati suasana Ramadan di Masjid Jogokariyan,” ujarnya, Minggu (2/3/2025).
Salah satu yang menarik di Masjid Jogokariyan saat Ramadan adalah takjil atau menu berbuka gratis kepada masyarakat dalam bentuk piring terbang. Makanan berbuka tak disajikan dengan dus kotak tetapi tetap dengan piring dan sendok.
“Kita dulu mulainya tak sebesar ini,” kata Wakil Ketua Panitia Kampung Ramadan Jogokariyan, M. Falah Akbar, ditemui, Senin (3/3).
Dahulu porsi makanan berbuka di Masjid Jogokariyan hanya sekitar 600 porsi. Dari tahun ke tahun, porsi ini ditambah seiring antusiasme jemaah ke masjid Jogokariyan yang makin bertambah.
“Untuk takjil (makanan berbuka) ya mungkin kita awalnya mulai dari 600-700 dulu awalnya. Kenapa bisa semakin banyak mungkin karena kita ada transparansi di sini. Setiap infak yang masuk, donasi yang masuk itu insyaAllah akan kita laporkan penggunaannya melalui buletin Idul Fitri setiap 1 Syawal akan terbit buletin,” kata Falah Akbar.
Menu makanan berbuka pun bervariasi sesuai dengan kesepakatan ibu-ibu yang memasak. Mereka mengadakan pertemuan dan berdiskusi.
“Karena di sini masaknya itu mengandalkan ibu-ibu dasawisma jadi mereka berdiskusi untuk menentukan menu setiap harinya,” bebernya.
Bagi yang ingin menikmati takjil gratis di Masjid Jogokariyan, disarankan datang lebih awal. Setiap hari, antrean panjang selalu terjadi menjelang waktu berbuka.
Salah seorang jamaah yang berbuka puasa di Masjid Jogokaryan, Ria mengaku senang dengan kebersamaan yang terjalin erat dan suasana ramai saat buka puasa.










