
Aceh Tengah, EDITOR.ID – Kekhawatiran warga setempat yang khawatir akses jalan utama akan terputus total jika hujan deras terus terjadi, yang dapat mengisolasi daerahnya bila akses jalan vital di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah terputus, seperti dilaporkan semakin melebar dan kini semakin mengancam badan jalan lintas antara kabupaten Blang Mancung dengan Simpang Balik.
Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Tak hanya ambles tanah di wilayah tersebut diikuti longsor terjadi secara perlahan mengakibatkan sudah membentuk jurang raksasa, diperkirakan tak lama lagi akan memutus Jalan Pondok Balik di Aceh Tengah.
Jalan Pondok Balik merupakan akses vital aktivitas masyarakat setempat maupun pengguna jalan umum dengan lokasi di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol yang menghubungkan jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik, merupakan akses vital penghubung Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.
Pantauan di lokasi pada Minggu (13/1/2026) menunjukkan jarak antara titik amblas dan badan jalan kini hanya tersisa sekitar satu meter.
Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tengah mengklaim semenjak tahun 2006 aktif memantau, hingga terjadi bencana Ekologis Sumatera jurang secara bertahap yang tadinya kecil hingga saat ini semakin bertambah meluas diperparah akibat dari terjadinya banjir bandang di wilayah ini.
Perkembangan terbarunya membentuk jurang raksasa yang sangat mengerikan, bila tak segera diupayakan pencegahan diyakini bisa mengancam pengguna jalan yang melewati jalan dipinggirnya, jalan vital penghubung Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, dengan jarak retakan yang tersisa hanya sekitar satu meter dari badan jalan utama per tanggal 13 Januari 2026, berpotensi memutus total distribusi logistik serta hasil pertanian warga jika hujan deras terus berlanjut.
Mengulik data dari situs Geologi ESDM Aceh, luas area yang telah dicatat luas area amblas meningkat drastis dari 7.982 m² (2011) menjadi 27.918 m² per Februari 2025.
Pemerintah setempat dan pusat sedang mengupayakan perbaikan, tetapi rincian anggaran spesifik untuk lokasi ini hingga saat ini belum dipublikasikan.
Secara umum, Pemerintah Pusat telah mengalokasikan anggaran besar (sekitar Rp 33 triliun) untuk perbaikan infrastruktur yang rusak akibat bencana banjir dan tanah longsor di seluruh wilayah Aceh dan Sumatera, yang mencakup upaya rehabilitasi di berbagai lokasi terdampak.
Sejumlah konsultan oleh Pemerintah Daerah sudah didatangkan untuk memproyeksikan kebutuhan anggaran dan dipastikan akan membengkak karena tingkat kerusakan dinilai melebihi dampak Bencana Tsunami Aceh 2004 yang menghabiskan dana sekitar Rp150 triliun.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah saat dikonfirmasi menyatakan fokus diarahkan untuk menangani kerusakan ringan menggunakan Dana Transfer ke Daerah (TKD), sementara kerusakan besar seperti muncul nya jurang raksasa di Pondok Balik, Ketol ini akan ditangani dengan dana dari pemerintah pusat, termasuk potensi dana hibah dari BNPB.
Sebelumnya juga telah menerima dana hibah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dari BNPB untuk penanganan bencana secara umum, oleh karena perbaikan akses jalan di daerah ini dinilai lebih krusial untuk mempercepat distribusi bantuan dan logistik.
Pihak berwenang berupaya terus berkoordinasi untuk menangani situasi darurat ini. Tapi kenyataannya belum ada rincian spesifik mengenai jumlah anggaran yang dialokasikan khusus untuk perbaikan jurang raksasa akibat tanah amblas di Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah tersebut.
Sementara Kementerian Pekerjaan Umum Daerah Setempat mengklaim sedang mengupayakan percepatan penanganan yang kini memang sedang fokus menangani jalur lintas tengah Aceh, termasuk nantinya menangani secara serius ruas jalan yang terdampak longsor, sampai akhirnya pasti akan menangani fenomena jurang raksasa yang sudah diagendakan oleh Pemerintah Daerah setempat bersama kementerian terkait. (*)












