Jokowi Akan Pimpin PSI?

Sinyal atau tanda-tanda Jokowi "comeback" ke politik terendus dari susunan pengurus DPP PSI yang baru. Disana tercantum ada sosok misterius yang disebut Bapak 'J'. Nama depan dengan huruf J ada dua di PSI. Kalau bukan Joko Widodo bisa juga Jeffry Geovani, pendiri PSI.

Baleho Jokowi dan Kaesang Pangarep Putranya Foto JPNN.com

Jakarta, EDITOR.ID,- Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi santer dikabarkan akan menduduki posisi sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sumber EDITOR.ID mengungkapkan Jokowi akan dirayu untuk mengisi posisi tersebut. Namun Jokowi masih menunggu kepulangan Presiden Prabowo Subianto dari lawatannnya ke sejumlah negara di Eropa.

Sinyal atau tanda-tanda Jokowi “comeback” ke politik terendus dari susunan pengurus DPP PSI yang baru. Disana tercantum ada sosok misterius yang disebut Bapak ‘J’. Nama depan dengan huruf J ada dua di PSI. Kalau bukan Joko Widodo bisa juga Jeffry Geovani, pendiri PSI.

“Bapak ‘J’ ini disebut-sebut akan menjadi Ketua Dewan Pembina PSI,” sebut Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSI sekaligus Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni

Namun dalam pengumuman DPP PSI 2025-2030, Raja Juli Antoni masih merahasiakan nama lengkap dari sosok ‘J’ tersebut.

Akan tetapi, menurut Raja Juli, sosok berinisial ‘J’ ini akan diungkap langsung oleh Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep.

“Dewan Pembina, ketua, yang terhormat, Bapak J. Saya diperintahkan Mas Ketum siapa nama J ini beliau yang menjelaskan,” kata Raja Juli.

Adapun sosok berinisial ‘J’ ini hanya tampil dalam foto berbentuk siluet yang dipampang saat pembacaan nama susunan pengurus DPP PSI 2025-2030.

Dalam foto, tampak siluet pria yang mengenakan peci, dan disebut menyerupai ayah Kaesang sekaligus Presiden ke-7 RI, Jokowi.

Sebelumnya, inisial J sudah mencuat pada Juli 2025 lalu, ketika Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menyatakan tokoh nasional berinisial J bersedia menjadi Ketua Dewan Pembina PSI.

Inisial J tersebut pun diduga mengarah ke sosok Jokowi.

Saat itu, Kaesang mengatakan posisi Dewan Pembina PSI akan diumumkan dalam waktu satu bulan ke depan.

“Full lengkap dari Dewan Pembina, DPP, maupun Dewan Pakar, semuanya nanti akan kami umumkan dalam waktu kurang dari satu bulan,” kata Kaesang.

Namun, ketika ditanya apakah sosok berinisial J adalah Jokowi, Kaesang meminta untuk menunggu.

“Inisial sementara ya, yang berinisial J sudah berkenan untuk jadi Ketua Dewan Pembina,” pungkas dia.

Para Mantan Presiden Pengaruh Besar di Partai dan Dinasti Politik

Jika kabar tersebut benar bahwa Jokowi akan menjadi Ketua Dewan Pembina PSI, maka langkah ini akan mengikuti jejak politik para mantan Presiden yang usai pensiun dari jabatan Presiden masih tetap bercokol di partai.

Yakni mantan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Majelis Tinggi Partai dan mantan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan.

Megawati Pimpin PDIP, Dua Putra Putrinya Juga Jadi Petinggi Partai

Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri usai pensiun dari jabatan Presiden ke-5 RI masih berambisi berkuasa di parpol dan enggan melepaskan dunia politik. Ia masih bertahan untuk menguasai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan).

Kepemimpinan Megawati di partai selain bertujuan untuk tetap mempersatukan faksi-faksi di PDI Perjuangan, juga mengawal dinasti politik. Kebetulan kedua putra putrinya duduk di jajaran petinggi partai yakni Puan Maharani sebagai Ketua DPP PDIP dan Ketua DPR. Juga putranya Prananda Prabowo sebagai salah satu Ketua DPP PDI Perjuangan.

SBY Tetap Bertahan Kuasai Demokrat Demi Beri Karpet Merah untuk AHY

Hal yang sama juga dilakukan Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Usai pensiun sebagai Presiden, dia tak mau melepas partainya, Partai Demokrat dalam genggaman orang lain. SBY tetap bertahan menjadi Ketua Umum partai usai pensiun jadi presiden.

Posisinya sebagai Ketua Umum partai dilakukan SBY untuk memberi karpet merah kepada putra sulungnya, Agus Harimurty Yudhoyono (AHY) mewarisi jabatan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. SBY kemudian menduduki posisi lebih tinggi jadi Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, semacam Ketua Dewan Pembina.

SBY juga menanamkan tradisi dinasti politik di partainya, Partai Demokrat. Ia memasukkan kedua putranya menjadi penguasa di Demokrat. AHY duduk sebagai Ketua Umum Partai Demokrat partai sekaligus Menteri Kabinet Prabowo-Gibran. Adiknya, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR

PSI Akan Besar Jika Jokowi Pimpin

Wakil Ketua Umum ProJo Freddy Damanik menyebut PSI bakal menjadi kekuatan besar pada Pemilu 2029 apabila Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) menjadi ketum partai berkelir merah itu.

Terlebih lagi, kata dia, Jokowi setelah menjadi Ketum PSI bisa mengonsolidasikan kekuatan para sukarelawan dan pendukung ke partai. “Saya percaya partai ini juga bisa menjadi partai besar setidaknya empat besar dalam Pileg 2029,” kata Freddy melalui layanan pesan, Senin (19/5) silam.

Para pengamat mengatakan, usai terpilih jadi Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep kemungkinan besar akan menggandeng sang ayah, Jokowi. Sebab Jokowi, kata mereka, tidak perlu menjadi ketum untuk bisa memiliki pengaruh di partai tersebut.

Ray Rangkuti, direktur lembaga Lingkar Madani, mengatakan Jokowi sepertinya akan mendukung dan membimbing Kaesang yang masih minim pengalaman politik.

Nicky Fahrizal, pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan Jokowi bisa ambil bagian di dewan penasihat partai. Posisi serupa sebelumnya diambil oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat yang dipimpin putranya Agus Harimurti Yudhoyono.

“Ini bukan pola yang baru, dan mantan Presiden Soeharto juga memegang peranan yang sama di Partai Golkar,” kata Nicky.

“Karena perpolitikan di Indonesia belum melalui banyak reformasi yang baik, cara politik dinasti berjalan tidak jauh berbeda.”

Selain PSI, ada juga rumor yang mengatakan Jokowi kemungkinan akan bergabung dengan Golkar, namun belum terbukti.

Menyusul mundurnya ketua umum sebelumnya Airlangga Hartarto pada Agustus 2024, saat ini Golkar dipimpin oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, orang dekat Jokowi.

Tanpa Partai Tak Punya Pengaruh

Tanpa menjadi anggota partai mana pun, pengaruh Jokowi dalam perpolitikan Indonesia telah memudar, ujar Ray.

Misalnya dalam kasus tuduhan ijazah palsu, lanjut Ray, tidak ada tokoh politik penting yang maju untuk membelanya.
Wasisto Raharjo Jati, peneliti di Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam sebuah tulisannya mengatakan bahwa PSI tumbuh dari partai milenial progresif menjadi partai yang berpusat pada kultus individu Jokowi. Pergeseran dramatis ini telah membuat banyak pendukung awal PSI menjauh.

“Tetapi pergeseran itu mungkin telah menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara Jokowi dan partai politik tersebut,” kata Wasisto dalam tulisannya yang diterbitkan oleh University of Melbourne.

“Masalahnya adalah, performa buruk PSI dalam pemilu legislatif 2019 dan 2024 menimbulkan keraguan atas kelayakannya sebagai kendaraan politik utama Jokowi di masa depan.”

Pada 2019, PSI hanya memperoleh 1,89 persen suara nasional. Kinerjanya membaik pada 2024 dengan 2,81 persen suara, tetapi angka ini masih berada di bawah ambang batas 4 persen yang dibutuhkan untuk meraih kursi parlemen.

Para pengamat berpendapat, Jokowi saat ini tampaknya berambisi memperkuat dinasti politiknya, namun belum memiliki sarana yang memadai.

“Dalam perpolitikan Indonesia, ada tiga elemen utama yang harus dimiliki seseorang. Pertama, harus memiliki partai politik atau organisasi massa dengan basis dukungan besar,” kata Ray.

“Kedua, harus memiliki banyak uang atau modal, dan ketiga, banyak teman (yang berpengaruh).” (*)

Leave a Reply