Jakarta, EDITOR.ID,- Serangan agresi tentara Amerika Serikat dan kroninya Israel telah membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu pagi. Ribuan rakyat Iran berkumpul ditengah Kota Teheran dan berduka. Namun kini mereka bangkit lagi, menyiapkan pemimpin baru pengganti Ayatollah demi menghadapi gempuran AS-Israel.
Pertanyaannya kini, siapa yang akan menggantikan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran berikutnya.
Khamenei (86), yang memimpin Iran sejak 1989, telah mempersiapkan diri untuk momen seperti ini. Pada Juni tahun lalu, ketika AS membantu Israel dalam perang 12 hari melawan Iran, dan ketika pemimpin tertinggi tersebut berada di tempat persembunyian, dia menyebutkan tiga kandidat yang dapat segera diangkat untuk menggantikannya.
Trump dan media pemerintah Iran pada hari Minggu (1/3/2026) mengonfirmasi kematian Khamenei, sosok yang memerintah Iran selama hampir 37 tahun. Iran kini telah mengumumkan 40 hari masa berkabung resmi dan tujuh hari libur nasional untuk memperingati kematian Pemimpin Tertinggi tersebut.
Iran kini akan mempersiapkan calon pengganti pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei usai tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2).
Tak cuma mempersiapkan transisi, Iran juga sibuk meluncurkan serangan balasan dan berjanji bakal menyerang dengan gempuran lebih besar dari AS dan Israel.
Kematian Khamenei meninggalkan duka bagi sebagian warga Iran juga kegembiraan bagi musuh-musuhnya seperti Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah meninggal,” tulis Trump di Truth Social.
“Dia tidak dapat menghindari intelijen dan sistem pelacakan canggih kami dan, bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada yang bisa dia, atau para pemimpin lain yang telah terbunuh bersamanya, lakukan,” lanjut Trump.
Trump pada hari Sabtu juga mengatakan ada “beberapa kandidat yang baik” untuk memimpin Iran setelah dia mengumumkan pembunuhan Khamenei. Menurut laporan CNN, ketika Trump ditanya oleh seorang jurnalis siapa yang menurutnya dapat menggantikan Khamenei, Trump berkata, “Saya tahu persis siapa, tetapi saya tidak bisa memberi tahu Anda.”
Namun, kematian itu tak serta merta mengganti rezim Iran, seperti yang diinginkan Trump. Negara tersebut punya kepemimpinan ulama yang kuat dan mengakar.
Jauh sebelum dibunuh AS-Israel, Khamenei sudah memiliki nama-nama calon pengganti dirinya. Pemilihan pemimpin tertinggi kemudian akan digelar Majelis Ahli.
Menurut laporan New York Times, pemimpin tertinggi Iran haruslah seorang ulama dan cendekiawan Syiah senior yang ditunjuk oleh komite ulama yang dikenal sebagai Majelis Pakar.
Tiga kandidat yang disukai Khamenei, berdasarkan wawancara dengan enam pejabat senior Iran adalah: kepala peradilan, Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i; kepala staf Ayatollah Khamenei, Ali Asghar Hejazi; dan Hassan Khomeini, seorang ulama moderat dari faksi politik reformis yang merupakan cucu Ayatollah Khomeini.
Selain ketiga sosok tersebut, ada satu lagi yang berpotensi menjadi pengganti Khamenei: Hashem Hosseini Bushehri—ulama senior dengan koneksi dekat ke lembaga-lembaga kunci yang terlibat dalam proses suksesi, khususnya Majelis Pakar.
Berikut Sosok Calon Pemimpin Iran Pengganti Ayatollah Khamenei
1. Mojtaba Khamenei (56)
Mojtaba, dikenal sebagai putra kedua Khamenei. Ulama berusia 56 tahun itu mempunyai pengaruh signifikan di balik layar dan memiliki hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta pasukan paramiliter sukarelawan Basij.
Namun, suksesi dari ayah ke anak sering kali tak disukai di kalangan ulama Muslim Syiah, khususnya di Iran yang sedang mengalami revolusi setelah menggulingkan monarki.
Peluang Mojtaba untuk jadi penerus ayahnya sangat tipis. Terlebih Khamenei pernah mengatakan kepada para pengikutnya bahwa dia tidak ingin jabatan diwariskan secara turun-temurun.
Hambatan tambahan yakni Mojtaba bukan ulama berpangkat tinggi dan tidak memiliki peran resmi dalam rezim tersebut.
2. Alireza Arafi
Alireza adalah ulama 67 tahun yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar dan pernah menjadi anggota Dewan Penjaga. Alireza merupakan rekan dekat Khamenei yang pernah menjadi anggota Dewan Wali, institusi berpengaruh, badan yang bertanggung jawab untuk menyeleksi kandidat dalam pemilu dan meninjau undang-undang yang disahkan oleh Parlemen.
Dia juga memimpin sistem seminari Iran. Meskipun memiliki reputasi keagamaan yang kuat, dia tidak secara luas dianggap sebagai kekuatan politik utama dan tidak dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan lembaga keamanan.
Arafi merupakan ulama terkemuka dengan rekam jejak di lembaga-lembaga pemerintahan dan orang kepercayaan Khamenei.
3. Mohammad Mehdi Mirbagheri
Dia adalah seorang ulama garis keras berusia 60-an. Dia anggota Majelis Pakar, mewakili faksi paling konservatif dalam kalangan ulama.
Menurut IranWire, dia sangat menentang Barat dan berpendapat bahwa konflik antara orang beriman dan orang kafir tidak dapat dihindari. Saat ini dia memimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Islam di kota suci Qom di Iran utara.
4. Hassan Khomeini
Dia adalah cucu dari pendiri Republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini. Tokoh berusian 50-an ini memiliki kedudukan religius dan kredibilitas revolusioner. Dia bertugas sebagai penjaga mausoleum Khomeini, tetapi belum pernah memegang jabatan publik dan tampaknya memiliki pengaruh yang terbatas di internal keamanan atau elite penguasa.
Dibandingkan dengan banyak rekan sejawatnya, dia dianggap kurang garis keras. Dia juga pernah disebut Khamenei sebagai salah satu calon penerusnya.
5. Hashem Hosseini Bushehri
Dia adalah seorang ulama senior berusia 60-an. Dia memiliki koneksi dekat ke lembaga-lembaga kunci yang terlibat dalam proses suksesi, khususnya Majelis Pakar, di mana dia menjabat sebagai wakil ketua pertama.
Dia dekat dengan Khamenei, mempertahankan sosok low-profile dan tidak diketahui memiliki hubungan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. ***










