Jakarta, EDITOR.ID,- Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberikan nasehat sekaligus mengingatkan pada anak muda terutama generasi Z atau Genzi agar tidak kecanduan dengan artificial intelligence (AI). Menurut Presiden ke-5 RI ini, kecanggihan teknologi AI tidak boleh menghilangkan rasa kemanusiaan.
Pesan penting ini disampaikan Megawati saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam seminar internasional memperingati 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Perpustakaan Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, Sabtu (31/10/2025).
Pada awalnya Megawati bercerita tentang momen ketika dirinya diminta memberikan kuliah di luar negeri dengan topik AI.
Mega Kecerdasan Buatan Tak Akan Mampu Kalahkah Otak Manusia yang Diciptakan Tuhan
Megawati mengaku tak menyangka akan diminta memberikan paparan mengenai AI. Putri Bung Karno itu menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak bisa mengalahkan kemampuan otak manusia yang diciptakan langsung oleh Tuhan.
“Jadi saya bilang begini, menyimpang sedikit supaya semua itu jangan terperangah melihat AI, AI, AI. Saya bilang kok jadi lupa ya, the best mind for me is my brain because this is from the God. Jadi nggak bisa digantikan. Jadi waktu itu saya bilang, ini bukan mainan saya,” kata Megawati.
Megawati kemudian mengingatkan generasi muda agar tidak terlalu terbuai dengan perkembangan AI. Ia menilai teknologi tersebut dan robot tak akan pernah bisa menggantikan manusia sepenuhnya.
“Sekarang saja saya melihat kecenderungan AI itu lebih banyak kepada sesuatu yang bisa merusak. Jadi menurut saya, keilmuan itu juga ada batasnya. Saya mohon anak-anak muda jangan tergila-gila dengan AI, karena apa pun juga, feeling kita ini datangnya dari Allah, dari God. Saya belum pernah dengar loh, tetap manusia yang harus membetulkan robot. Jadi jangan terlalu melambung ke udara. Itu supaya kita punya kemanusiaan,” ujarnya.
Megawati juga menilai AI dapat menjadi bentuk baru dari imperialisme modern. Ia menyoroti potensi penyalahgunaan teknologi tersebut untuk kepentingan yang merugikan umat manusia.
“Jika dulu penjajahan hadir dengan meriam dan kapal perang, kini ia datang melalui algoritma dan data, melalui kendali ekonomi dan teknologi digital. Belum lagi ditambah AI. Artificial intelligence, big data, dan sistem keuangan digital lintas data telah melahirkan kolonialisme gaya baru, yakni neo-kolonialisme digital,” tegas Megawati.
Megawati Ngaku Tak Punya HP: Everybody Wants to Know Me!
Megawati juga mengisahkan soal alasannya tak memiliki handphone (HP) hingga saat ini. Megawati mengatakan dirinya adalah sosok yang banyak dicari dan banyak orang ingin tahu tentang dirinya.
Awalnya, Megawati menyinggung kebiasaan banyak orang yang lebih fokus pada ponsel mereka, bahkan di momen-momen penting.
“Untuk apa kalian datang, hah? Kalau ininya nggak dipakai untuk mendengarkan sesuatu yang menurut saya sangat berarti. Hanya nampang? Sorry for my friend, this is not for you, this is for my people. Juga kalian boleh ngomong, sekarang juga di luar negeri banyak yang begitu. Orang serius tidak banyak lagi,” kata Megawati.
Megawati kemudian mengaku sempat berpikir perlu ada aturan mengenai penggunaan HP. Ia menegaskan alasan dirinya tidak memiliki HP adalah banyak orang ingin mengetahui tentang dirinya, sementara tidak semua orang memiliki niat baik.
“Saya selalu pikir, ada UU buat HP. I don’t have HP because, do you know why? Karena saya orang yang dicari. Do you understand what I mean? Everybody wants to know me, but not everybody is a good person. Do you understand? Jadi saya nggak punya HP, nggak. Kalau orang bilang ngintel, intel, or spying,” ujarnya.
Sebagai informasi, seminar internasional ini mengusung tema “Bung Karno in a Global History: Commemorative Seminar of the 70th Anniversary of the 1955 Bandung Asian-African Conference.”
Megawati sudah tiba di Kota Blitar pada Jumat (30/10) kemarin. Para delegasi dari berbagai negara di Asia dan Afrika yang menjadi peserta seminar terlebih dahulu berziarah ke makam Presiden pertama RI Sukarno. Mereka berdoa dan menabur bunga di makam Bung Karno sebelum melanjutkan acara seminar di Perpustakaan Bung Karno.
Setelah itu, para delegasi memasuki Perpustakaan Bung Karno untuk melihat sejarah perjalanan hidup sang proklamator sebelum melanjutkan kegiatan seminar. ***












