Jakarta, EDITOR.ID,- Pendiri sekaligus Pemimpin Umum Suratkabar Kampus UI Salemba, Antony Z Abidin, mengatakan bahwa kita telah menyimak refleksi para tokoh, mendengar pengalaman lintas zaman, dan berdialog tentang tantangan hari ini.
Hal tersebut disampaikan Antony Z Abidin pada closing statement usai diskusi panel pada acara peringatan “50 Tahun Salemba” yang digelar di Aula FKUI Salemba, Jakarta, Rabu (14/1/2026). Dalam diskusi panel ini menghadirkan para panelis diantaranya mantan tokoh mahasiswa, yaitu ketua mantan Dewan Mahasiswa UI: Hariman Siregar, Dipo Alam, Lukman Hakim Serta Saur Hutabarat (UGM), Heri Akhmadi (ITB) dan Harun Alrasyid (ITS).
“Izinkan saya menutup dengan tiga hal: pesan moral, tantangan, dan isyarat masa depan. Pertama, pesan moral. Tanpa integritas, pengetahuan menjadi alat, bukan pencerahan. Pers kampus, dulu, kini, dan nanti, harus menjadi penjaga disiplin berpikir: jujur pada fakta, adil pada perbedaan, dan bertanggung jawab pada dampak. Etika bukan aksesori; etika adalah fondasi,” ujarnya.
Kedua, lanjut Antony, tantangan kepada generasi muda. Dunia Anda memberi panggung yang luas. Tetapi panggung tanpa etika akan memproduksi kebisingan, bukan makna. Pertanyaan saya sederhana:
Apakah Anda akan memilih jalan cepat yang ramai, atau jalan benar yang kadang sepi?
Apakah Anda akan mengejar klik, atau merawat kepercayaan?
Dan yang ketiga, isyarat masa depan. Banyak rekan seangkatan kami berharap nilai Salemba dapat hadir kembali dalam bentuk dan teknologi baru. Namun kami sepakat: hal itu hanya mungkin jika civitas academica UI merespons positif, jika pendanaan berkelanjutan tersedia, dan jika pengelolaannya dipercaya kepada figur-figur berintegritas.
Artinya, hari ini bukan pengumuman lembaga baru. Hari ini adalah undangan terbuka, kepada kampus, alumni, dan mahasiswa, untuk memikirkan bersama apakah warisan nilai ini layak kita rawat dalam format yang relevan.
“Akhirnya, terima kasih kepada para pembicara, panitia, dan seluruh hadirin. Semoga peringatan ini tidak berhenti sebagai perayaan, tetapi menjadi kompas moral bagi kita semua,” katanya.
Sebelumnya Antony Z Abidin dalam sambutannya menegaskan bahwa warisan terpenting dari media kampus bukan sekadar sejarah perlawanan atau pembredelan, melainkan standar profesionalisme dan etika jurnalistik yang kuat.
Menurutnya, Salemba lahir sebagai media yang dikelola secara profesional dengan prinsip bahwa kebebasan harus dijalankan dengan tanggung jawab.
“Lima puluh tahun yang lalu, Salemba lahir bukan sebagai simbol perlawanan, bukan pula sebagai alat propaganda. Salemba lahir dengan prinsip sederhana: bahwa pikiran harus ditulis dengan tanggung jawab, dan kebebasan harus dijalankan dengan etika,” ujar Antony Z Abidin.
Prof Emil Salim memberikan sambutan setelah menerima penghargaan sebagai pelopor surat kabar kampus UI serta Keynote speak Yusril Ihza Mahendra dan Chairul Tandjung pada peringatan Setengah Abad Suratkabar Salemba di Auditorium FKUI UI Salemba, 14 Januari 2026.
Kehadiran Tokoh Bangsa dan Integritas Intelektual
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional yang memiliki kedekatan sejarah dengan Universitas Indonesia, di antaranya Prof. Dr. Emil Salim, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, dan pengusaha nasional Chairul Tanjung.
Antony secara khusus memberikan penghormatan kepada Prof. Emil Salim sebagai pelopor penerbitan surat kabar kampus UI pada tahun 1950-an. Ia menyebut Emil Salim sebagai sosok teknokrat dan negarawan yang integritasnya diakui lintas generasi.
“Kehadiran beliau (Emil Salim) hari ini adalah pengingat bahwa tradisi intelektual UI selalu berpijak pada etika, tanggung jawab, dan kepentingan bangsa,” tambahnya.
Peluncuran Buku 524 Halaman
Sebagai bagian dari peringatan setengah abad ini, dilakukan pula peluncuran buku berjudul “50 Tahun Suratkabar Kampus UI Salemba” setebal 524 halaman. Buku ini dirancang sebagai dokumen pembelajaran bagi generasi mendatang mengenai proses, prinsip, dan rujukan jurnalistik yang sehat.
Antony berharap media kampus di era digital saat ini tidak hanya menjadi sarana latihan menulis, tetapi juga menjadi bagian dari reputasi institusi akademik yang mencerminkan kualitas intelektual universitas.
“Kami ingin Salemba dikenang sebagai penetap standar: bahwa kebebasan berekspresi harus berjalan bersama tanggung jawab, dan keberanian harus berjalan bersama integritas,” pungkasnya.
Sebelumnya, Asri Hadi selalu koordinator media dan humas acara 50 tahun surat kabar kampus Salemba mengatakan, menekankan bahwa perayaan 50 tahun merupakan forum intelektual, non-politis, lintas generasi, dan tentang peran pers kampus profesional yang relevan di era digital.
“Peringatan 50 tahun SKKUI Salemba adalah forum intelektual lintas generasi untuk merefleksikan peran pers kampus sebagai ruang pendidikan etika, profesionalisme, dan tanggung jawab publik, sekaligus membaca tantangannya di era media digital”, ujarnya. ***












