Jakarta, EDITOR.ID,- Militer Indonesia diam-diam menempatkan sistem rudal balistik buatan Turki di dekat Ibukota Negara Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Penampakan rudal balistik pertama di Asia Tenggara itu menjadi sorotan media asing. Kepemilikan rudal ini membuat militer Indonesia makin ditakuti di kawasan regional.
Kabarnya rudal yang dimiliki Indonesia dikenal memiliki presisi tinggi terhadap target yang ditembak dan mematikan.
Rudal balistik yang baru dimiliki Indonesia juga merupakan rudal berpeluncur roket yang mampu membawa hulu ledak nuklir atau konvensional. Rudal balistik tersebut bertipe KHAN ITBM‑600. Rudal tersebut dipesan Indonesia dari Turki dan telah tiba di tanah air.
Senjata strategis ini bersiaga di pangkalan Raipur A dari Markas Batalyon Artileri Medan ke-18 (Yonarmed 18/Buritkang Tenggarong) sejak 1 Agustus 2025.
Rudal ini menjadi sorotan sejumlah media asing. Dalam pemberitaan media asing menyebutkan sejumlah pakar mempertanyakan penempatan rudal tersebut yang dalam spekulasinya dikaitkan dengan pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Ibu Kota Negara (IKN).
Selain itu posisi Rudal di Kaltim juga menyiapkan konflik yang terjadi di tengah ketegangan yang memanas di Laut China Selatan.
“Langkah ini menandakan pergeseran yang terencana oleh Indonesia dari postur yang sebagian besar defensif menjadi postur pencegahan yang lebih lincah dan berorientasi ke depan,” para pengamat melansir pemberitaan CNA.
Mengutip dari pemberitaan media CNA Singapura berjudul “Rudal balistik pertama Indonesia buatan Turki tiba, mengapa ditempatkan dekat IKN dan Malaysia?”, menyebut rudal tersebut mampu menembak dengan jarak cukup jauh, 280 Km.
Dengan berat 2.500 kilogram, diameter 610 milimeter, dan hulu ledak fragmen hingga 470 kilogram, KHAN dirancang untuk menargetkan infrastruktur strategis seperti pusat komando, fasilitas logistik, radar, atau bunker.
“Dari kawasan di mana tidak ada negara Asia Tenggara yang memiliki kemampuan rudal balistik modern yang beroperasi, Indonesia kini memiliki opsi serangan berpresisi tinggi dan respons cepat yang dapat membentuk kembali dinamika pencegahan regional,” ungkap para pakar, dilansir Channel News Asia (CNA).
Secara geopolitik, hal ini menggarisbawahi peralihan Jakarta dari ketergantungan tradisional pada Barat menuju hubungan yang beragam dengan mitra seperti Turki yang memperkuat pengaruhnya dalam dinamika kekuatan global.
Para ahli mengatakan pilihan penempatan pertama mencerminkan pertimbangan geopolitik, geografis, dan simbolis.
Kalimantan Timur kemungkinan dipilih karena relatif aman dari serangan langsung, posisi strategisnya yang menghadap jalur laut utara yang penting, dan perannya sebagai lokasi ibu kota baru.
Letak Tenggarong, menjadikan penempatan rudal ini sebagai langkah strategis. Jarak antara markas Yonarmed 18 dengan wilayah Malaysia Timur seperti Tawau, Sabah, hanya berjarak 300-350 kilometer. Menjadikannya ideal untuk menampung pasukan rudal yang tangguh guna melindungi wilayah nasional dan IKN.
Sistem ini memberi sinyal bahwa Indonesia sedang memasuki era persaingan rudal di Asia Tenggara, di mana negara lain seperti Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Thailand mungkin akan melakukan modernisasi untuk mengejar ketertinggalan teknologinya.
Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh platform pertahanan Sahabat Keris, kemudian dikutip oleh Defence Security Asia. Di halaman Facebook, sahabat Keris mengunggah foto-foto Rudal KHAN pada 1 Agustus. Dan info rudal ini juga telah banyak dilaporkan blog-blog pertahanan, serta portal berita Indonesia.
Senjata ini menjadi sistem rudal balistik taktis pertama yang dimiliki oleh angkatan bersenjata Indonesia alias TNI.
Sebelumnya, Indonesia memang memiliki kontrak pembelian rudal ini pada tahun 2022, untuk pengadaan sistem KHAN ITBM-600.
Jangkauan rudal KHAN memperluas radius serangan Indonesia ke koridor maritim yang disengketakan, menurut situs berita Defence Security Asia.
“Indonesia telah memesan rudal KHAN pada November 2022 dan merupakan angkatan bersenjata pertama di luar Turki yang memiliki rudal tersebut dalam inventarisnya,” ungkap Wakil Manajer Umum Roketsan, Murat Kurtulus, saat itu.
Menanggapi pertanyaan dari CNA, Juru Bicara TNI Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Wahyu Yudhayana, mengonfirmasi pengiriman rudal balistik jarak pendek dari Turki ke Indonesia.
Ia mengatakan rudal tersebut merupakan bagian dari batch pertama yang diperoleh Kementerian Pertahanan Indonesia dan belum diserahkan secara resmi kepada TNI Angkatan Darat.
Oleh karena itu, ia tidak dapat berkomentar apakah sistem tersebut telah resmi dikerahkan di Kalimantan Timur.
Ia tidak memberikan detail tentang berapa banyak rudal KHAN yang telah diperoleh Indonesia dan di mana rudal tersebut akan ditempatkan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Frega Ferdinand Wenas Inkiriwang, mengatakan kepada CNA Indonesia Kamis lalu (7/8/2025) bahwa kementerian belum memantau perkembangan terbaru terkait rudal tersebut.
Profil dan Sosok Rudal Balistik KHAN
Rudal Balistik KHAN diproduksi oleh Roketsan, perusahaan pertahanan asal Turki. Teknologi canggih Roketsan telah terbukti di pertempuran.
Rudal ini menggunakan kendaraan Tatra 8×8 yang memungkinkannya beroperasi di berbagai medan dengan waktu persiapan minimal. Hal ini mendorong mobilitas tinggi dan kemampuan “shoot-and-scoot” untuk serangan presisi dalam jarak hingga 280 kilometer.
Dirancang untuk penyebaran cepat, sistem ini memberi Angkatan Darat Indonesia kemampuan serangan presisi yang lincah dan lincah, yang sebelumnya tidak ada dalam inventarisnya.
Sistem KHAN merupakan versi ekspor dari rudal Bora, dan merupakan hasil kontrak Indonesia-Turki yang ditandatangani pada Indo Defence Expo 2022.
Rudal sendiri merupakan perangkat militer yang dirancang untuk menghancurkan target dengan cara menerbangkan peledak, bahan kimia, atau hulu ledak nuklir ke sasaran.
Rudal balistik merupakan rudal yang didorong tenaga roket dan bergerak melalui atmosfer dan ruang angkasa sebelum akhirnya jatuh ke sasaran.
Rudal balistik memiliki lintasan yang lebih tinggi dan umumnya tidak dapat diubah setelah diluncurkan. KHAN merupakan sistem persenjataan balistik taktis yang dirancang untuk serangan presisi dalam jarak jauh.
Sistem navigasinya didukung GPS, GLONASS, dan navigasi inersia yang memastikan akurasi di bawah 10 meter CEP bahkan di wilayah padat gangguan sinyal.
Roketsan mengklaim rudal ini tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem dan memiliki fleksibilitas operasional tinggi.
Pertama di Asia Tenggara, Tapi Bukan yang Terakhir?
Indonesia kini menjadi negara di Asia Tenggara pertama yang memiliki sistem Rudal Balistik strategis dengan kapabilitas “second-strike” – respons taktis yang bisa dilakukan secara cepat dan presisi tanpa bergantung pada kekuatan laut atau udara
Kemampuan ini secara tradisional hanya dimiliki kekuatan militer besar di luar kawasan.
Perkembangan ini membawa potensi dimulainya perlombaan senjata di kawasan tersebut, menurut Ridzwan Rahmat, kepala analis pertahanan di Janes yang berbasis di Singapura.
Ia menunjukkan hingga saat ini, negara-negara Asia Tenggara umumnya menghindari pengadaan sistem balistik taktis karena “sifatnya yang inheren ofensif, bukan platform yang murni defensif”.
Namun, norma tersebut kini dapat berubah. (*)












