Berdasarkan catatan BMKG, Sesar Lembang menimbulkan gempa yang berdampak pada kerusakan di tahun 2011 silam. Setelah itu, tepatnya dari 2012 sampai sekarang berdasarkan jaringan seismograf tidak ada lagi aktivitas Sesar Lembang.
“Kita menyadari bahwa kita merupakan masyarakat yang tinggal di Sesar Lembang. Satu hal yang perlu dilakukan, yakni pertama memahami apa itu Sesar Lembang,” ujar Pj Wali Kota Cimahi, Dikdik S Nugrahawan saat ditemui di Lembang.
Menurut Dikdik, edukasi soal Sesar Lembang serta potensi yang bakal ditimbulkan wajib dilakukan secara rutin, bisa dikemas dalam berbagai bentuk mulai dari pembekalan materi hingga simulasi.
“Masyarakat harus menyadari potensi ini. Kita harus menumbuhkan kesiapsiagaan, saya kira kegiatan ini jadi langkah sangat strategis untuk berkontribusi mengedukasi masyarakat dalam hal kesiapsiagaan bencana Sesar Lembang,” kata Dikdik.
Ketua Perhimpunan Objek Wisata Indonesia (Putri), Heni Smith mengatakan objek wisata yang ada di Lembang juga bakal terdampak Sesar Lembang.
“Kita sudah menyadari potensi Sesar Lembang, apalagi objek wisata di sini (Lembang) kan di atas Sesar lembang semua. Kita tentu sudah mengedukasi pelaku wisata di Lembang. Itu kita lakukan rutin termasuk dengan warga dan pemdes,” ujar Heni.
Kesiapsiagaan yang mesti dimiliki pengelola objek wisata yakni ketersediaan marka kebencanaan. Marka itu berguna mengarahkan pengunjung jila sewaktu-waktu terjadi bencana alam, tak hanya Sesar Lembang.
“Tentu marka kebencanaan dan titik evakuasi itu hal penting di objek wisata yang dikunjungi ribuan orang, kalau marka nggak jelas saat pengunjung panik, nah akan membahayakan. Makanya kita usulkan ke pemerintah agar setiap obwis itu punya marka kebencanaan dan titik evakuasi,” tutur Heni.












