FPI dan Habib Rizieq Ultimatum Pandji Pragiwaksono 2×24 Jam, Dianggap Hina Shalat di Lawakan “Mens Rea”

Mantan Imam Besar FPI Habib Rizieq menyoroti materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono yang menyinggung soal salat dalam lawakannya. Habib Rizieq menyebut lawakan mengenai salat itu menistakan agama. Ia mengancam akan memperkarakan Pandji melalui jalur hukum.

Pandji Pragiwaksono Sumber Foto Akun @PandjiPragiwaksono di Kanal Youtube

Jakarta, EDITOR.ID,- Stand Up Comedy Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea kembali kembali memicu reaksi keras. Kali ini datang dari Advokat Persaudaraan Islam (API) DPD Front Persaudaraan Islam (FPI) DKI Jakarta. Organisasi ini secara resmi mengultimatum Pandji Pragiwaksono. Mereka mempersoalkan lawakan Pandji yang menyinggung Shalat. Materi tersebut dianggap menista agama.

Mereka meminta agar bagian yang dianggap menistakan agama segera dihapus atau disensor agar tidak terus beredar di masyarakat.

API FPI memberikan tenggat waktu 2×24 jam kepada founder Standup Indo Pandji Pragiwaksono untuk menanggapi keberatan ini. Jika tidak dipenuhi, perkara ini akan dibawa ke jalur hukum.

Hal yang sama sebelumnya juga dilontarkan Habib Rizieq Shihab. Mantan Imam Besar FPI ini menyoroti materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono yang menyinggung soal salat dalam lawakannya. Habib Rizieq menyebut lawakan mengenai salat itu menistakan agama. Ia mengancam akan memperkarakan Pandji melalui jalur hukum.

FPI: Panggung Hiburan Tak Kebal Hukum, Penodaan Agama Pidana Serius

Ketua Advokat Persaudaraan Islam (API) DPD Front Persaudaraan Islam (FPI) DKI Jakarta Irvan Ardiansyah mengatakan pihaknya melayangkan tuntutan keras terhadap komika tersebut terkait materi dalam acara stand up comedy bertajuk Mens Rea.

Menurut Irvan, kebebasan berekspresi di atas panggung hiburan tidak serta-merta membuat seseorang kebal hukum. Pihaknya menilai ada unsur penodaan agama dalam materi yang dibawakan Pandji terkait Salat.

Pihak API menyatakan bahwa kritik atau candaan yang menyentuh ranah ibadah memiliki konsekuensi hukum serius.

“Kami menegaskan bahwa comedy bukanlah zona imunitas hukum, dan panggung hiburan tidak menghapus pertanggungjawaban pidana,” ujar Irvan Ardiansyah, Kamis (15/1/2026).

Poin utama yang dipersoalkan adalah pernyataan Pandji yang dianggap mengolok-olok syarat ibadah dan urgensi salat bagi seorang pemimpin. Menurut Irvan, hal tersebut bertentangan dengan dalil-dalil dalam Al-Qur’an.

Tudingan Penistaan Agama dan Pasal Berlapis

API FPI DKI Jakarta menilai pernyataan Pandji memberikan kesan bahwa Shalat tidak memiliki kaitan dengan kebaikan karakter seseorang. Hal ini dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap pondasi penting umat Islam.

“Bahwa tindakan yang dilakukan oleh Pandji Pragiwaksono merupakan bentuk penodaan dan/atau penistaan penghinaan agama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 300 KUHP UU Nomor 1 Tahun 2023 dan Pasal 28 ayat (2) Jo 45A ayat (2) UU ITE,” tegas Irvan.

Lebih lanjut, Irvan menekankan bahwa dalam pandangan Islam, Shalat adalah tiang agama dan instrumen utama untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tidak layak dijadikan bahan olok-olok.

Ancaman Laporan Polisi dan Desakan ke Netflix

Penasehat API FPI DKI Jakarta Aziz Yanuar menambahkan, pihaknya memberikan tenggat waktu 2×24 jam kepada founder Standup Indo Pandji Pragiwaksono untuk merespons keberatan ini. Jika tidak dipenuhi, perkara ini akan dibawa ke jalur hukum.

“Kami menuntut Pandji Pragiwaksono dan semua yang terlibat pada acara tersebut dalam waktu 2×24 jam agar segera melakukan taubatan nasuha memohon ampunan kepada Allah SWT serta melakukan permohonan maaf kepada Umat Islam khususnya,” kata Aziz.

Tak hanya menuntut permohonan maaf, pihak FPI juga mendesak pemerintah dan platform streaming Netflix untuk mengambil langkah tegas. Mereka meminta agar bagian yang dianggap menistakan agama segera dihapus atau disensor agar tidak terus beredar di masyarakat.

“Jika Pandji Pragiwaksono, dkk tidak mau bertaubat, kami akan membuat Laporan Kepolisian serta mendesak pihak Kepolisian agar segera menangkap serta menahan pelaku,” imbuhnya.

Habib Rizieq Sebut Materi ‘Mens Rea’ Pandji Menista Agama

Habib Rizieq Shihab sebelumnya juga menyoroti materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono yang menyinggung soal Shalat dalam lawakannya. Habib Rizieq menyebut lawakan mengenai salat itu menistakan agama.

Habib Rizieq mulanya mengatakan tidak masalah jika ingin menyampaikan kritik kepada pemerintah melalui lawakannya.

Hal itu disampaikan Habib Rizieq dalam ceramah di akun YouTube Islami Brotherhood Television, Selasa (13/1/2026).

“Beberapa hari terakhir ini sedang ramai, Saudara, seorang pelawak melakukan lawakannya dengan menyampaikan kritik-kritik pedas terhadap pemerintah,” kata Habib Rizieq.

“Soal kritik pedas terhadap pemerintah, saya dukung, saya juga sering mengkritik pemerintah kok. Kalau saya lihat ada hal-hal yang nggak bagus dari pemerintahan, saya nggak peduli, mau itu sipil, TNI, Polri, kalau salah, ya kita tegur, salah kita peringatkan, betul?” imbuhnya.

Habib Rizieq juga mendukung jika pelawak ingin menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Dia juga tidak setuju jika pengkritik ditangkap.

“Saya juga nggak setuju kalau gara-gara kritiknya dia harus ditangkap, harus diproses hukum, nggak boleh, Saudara. Membiasakan dirilah para pemimpin untuk dikritik oleh rakyatnya, betul? Tapi ada bagian yang sangat memprihatinkan,” ucap dia.

Rizieq Protes Kritik Pandji Ada Kelompok Pilih Pemimpin Jangan yang Bolong Shalatnya

Habib Rizieq lantas menyoroti materi lawakan Pandji yang menyinggung soal salat. Habib Rizieq pun heran materi lawakan itu membuat orang-orang tertawa.

“Ternyata dalam komedinya, dalam gurauannya, dalam candaannya, Saudara, dia bercanda juga soal Shalat, ini yang berat. Dia katakan, ‘ada kelompok kalau pilih pemimpin, pokoknya pemimpin syaratnya nggak boleh bolong Shalatnya’, orang ketawa, Saudara,” ucap dia.

Habib Rizieq menekankan bahwa umat Islam harus memilih pemimpin yang menjalankan Shalat. Dia meminta agar tak ada olok-olok soal Shalat.

“Loh memang kenapa kalau umat Islam mensyaratkan pemimpin itu harus Shalat, saudara? Itu kan ajaran Islam. Nggak boleh kita memilih pemimpin yang nggak Shalat, haram! Sepintar apa pun dia, sehebat apapun dia, Saudara, bergelar profesor, doktor, hebat mimpinnya, kita tahu dia tidak Salat, haram. Itu ajaran Islam, jangan kau hina,” lanjutnya.

“Jadi kalau orang Islam wajib memiliki pemimpin yang Shalatnya nggak bolong. Bagus tidak? Bagus tidak? Perlu tidak? Kalau orang Islam diolok-olok, dihina-hina tentang pilihannya, nggak boleh, Saudara,” katanya.

Rizieq Tanggapi Soal Shalat Tapi Masih Korupsi

Habib Rizieq menanggapi pernyataan soal orang yang Shalat namun tetap korupsi. Habib Rizieq menekankan bahwa salat adalah benteng dari maksiat adalah firman Allah.

“Sudah disampaikan lagi ‘Ah, Shalat itu nggak bolong, rutin Shalat, ternyata apa? Masih banyak yang korupsi, masih banyak yang maksiat’. Ini penghinaan terhadap Ayat Suci Al-Qur’an. Seolah-olah yang dia mau sampaikan pesan ‘bohong kalau Shalat itu jadi benteng maksiat’. Dengan dalil banyak yang Shalat tetap maksiat, ada pejabat Shalat tapi tetap korupsi, itu dijadikan dalil. Jadi seolah-olah dikatakan nggak betul itu Shalat benteng dari maksiat,” ucapnya.

“Saudara tunggu dulu, yang mengatakan Shalat benteng maksiat itu adalah Allah, Al-Qur’anul karim, Allah yang mengatakan, Saudara. Inna sholata tanha anil fahsyai wal munkar, itu firman siapa? Firman siapa? Berarti itu syiar atau bukan? Syiar Allah nggak? Apa boleh dihina? Apa boleh dicanda-candain? Apa boleh diolok-olokin? Nggak boleh. Hati-hati, Saudara,” kata dia.

Habib Rizieq meminta agar pelawak jangan berfatwa soal Shalat. Dia menyarankan agar bertanya mengenai hal itu kepada ulama.

“Nah soal protes dia, ‘loh tapi ada orang Shalat, ada korupsi’, Saudara, Anda nggak usah berfatwa, Anda bukan ulama, Anda pelawak. Anda pelawak, Anda bukan ulama, jangan langsung mengambil kesimpulan,” ucap dia.

“Tapi kalau Anda mau bertanya boleh, wajib, tanyakan kepada ahlinya, tanyakan kepada ulama, kalau kau bingung, kalau kau tak tahu, kenapa ada orang Shalatnya rajin tapi tetap korupsi, tanya kepada ulama, jangan kau belagu sok sebagai ulama,” jelasnya.

Rizieq Singgung Banyak Netizen Bela Pandji

Habib Rizieq menyinggung banyak netizen yang membela Pandji di media sosial. Menurut Habib Rizieq, netizen tak masalah jika netizen membela hak Pandji untuk bersuara, tapi tidak bagian mengolok-olok agama.

“Saya kalau urusan agama saya nggak peduli, Pak. Ada hina-hina agama, saya lawan, saya nggak peduli. Walaupun di medsos saat ini banyak netizen bela dia. Saya paham netizen ramai-ramai bela ini waktu dia dilaporkan ke polisi, netizen marah-marah, ‘kenapa begini, ini pembungkaman’ dan seterusnya,” jelasnya.

“Sudah betul niat netizen membela hak dia untuk mengkritik pemerintah, silakan. Tapi netizen khususnya orang Islam nggak boleh diam dari penghinaan yang dilakukan terhadap Shalat,” imbuhnya.

Habib Rizieq meminta agar jika ada orang Shalat yang masih melakukan maksiat, dia meminta jangan salahkan Shalatnya, tapi cara individu tersebut melakukan Shalat.

“Kalau ada Shalat yang nggak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, jangan nyalahin Allah, jangan nyalahin ayat Qur’an, jangan ngolok-olok itu ayat, itu ajaran, jangan. Karena kalau ada yang nggak beres, kalau ada orang Shalat tapi tetap maksiat, berarti ada yang nggak beres dengan Shalatnya, Saudara. Ini orang cara ngerjainnya ada yang nggak beres, jadi jangan ayat Al-Qur’an-nya, jangan nyalahin Shalatnya, jangan nyalahin juga perintah Shalatnya, salahkan diri sendiri kenapa nggak beres melaksanakan Shalatnya,” kata dia.

Rizieq Minta Video Mens Rea Dihapus

Pandji menyampaikan lawakan soal salat itu dalam acara ‘Mens Rea’ yang tayang di platform digital. Habib Rizieq meminta lawakan soal salat yang diduga menistakan agama itu dihapus.

“Jadi kita minta tobat minta maaf, kita ingatkan juga rekamannya yg ada di Netflix bagian yang menghina salat tadi, hapus! Ini ada di Netflix, ditonton jutaan orang, jutaan orang menonton dan pihak Netflix wajib cabut rekaman tersebut sekurangnya hapus bagian yang menistakan agama,” kata dia.

FPI: Pandji Lakukan Penistaan Agama

Sementara itu dalam surat pernyataan sikap Front Persaudaraan Islam (FPI) yang beredar luas di kalangan awak media, Pandji disebut telah melakukan penistaan agama melalui salah satu materi dalam pertunjukkan tersebut. Persisnya materi yang menyinggung cara memilih pemimpin dan salat.

Dalam surat yang ditandatangani oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat FPI Muhammad Alatas ditegaskan bahwa mereka mengecam keras siapapun yang menjadikan simbol-simbol Islam sebagai lelucon. Apalagi shalat merupakan salah satu kewajiban bagi setiap umat Islam.

Menjadikan shalat sebagai lelucon dan bahan tertawaan dinilai sebagai bentuk penghinaan dan penistaan terhadap Islam. Untuk itu, FPI mengeluarkan pernyataan sikap.

Bagi FPI, kritik yang disampaikan oleh Pandji kepada pemerintah melalui Mens Rea memang sah-sah saja. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, FPI menilai kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar.

Namun, mereka menyayangkan karena Pandji menyampaikan kritik tersebut disertai dengan materi yang terkait dengan shalat. Sebab, shalat merupakan fondasi penting dalam ajaran Islam.

”Sayangnya kritikan baik yang dilancarkan Pandji tercemari dengan ungkapan yang tidak lucu terkait dengan permasalahan salat yang merupakan fondasi penting dalam ajaran Islam,” demikian bunyi surat pernyataan itu.

FPI dengan tegas menyatakan bahwa salat tidak boleh dijadikan bahan lelucon. Mereka mengungkapkan, shalat adalah salah satu faktor penting dalam menilai seorang muslim.

Pandji Dinilai Hina Sunnah Nabi

Setiap muslim yang baik pasti menjalankan shalat. FPI menilai, Pandji telah inkar kepada ayat Al-Quran. Tidak hanya itu, Panji dinilai telah menghina sunnah Nabi Muhammad SAW.

“Tindakan Pandji yang memperolok preferensi memilih pemimpin yang rajin shalat adalah bentuk penghinaan terhadap sunnah Nabi Muhammad SAW yang menjadikan shalat itu sebagai standar minimal bagi rakyat untuk tetap wajib memberikan loyalitas dan tidak memberontak terhadap pemimpinnya,” lanjut surat tersebut.

FPI juga menilai analogi yang digunakan oleh Pandji dengan menyebut shalat belum tentu baik dengan rajin belum tentu pintar adalah kesesatan berpikir, merendahkan ibadah salat dan sifat rajin.

Sebab, dalam Islam shalat adalah jalan kebaikan dan benteng dari keburukan. Selain itu, analogi pilot dengan pemimpin negara yang turut disampaikan oleh Pandji dalam Mens Rea juga disebut FPI sebagai kesesatan berpikir.

”Oleh karena itu, pernyataan Pandji tersebut adalah bentuk upaya penistaan terhadap salat yang merupakan fondasi penting dalam Islam dan juga merupakan syi’ar bagi agama Islam. Sehingga kami meminta kepada saudara Pandji melakukan taubat nasuha dengan memohon ampun kepada Allah SWT dan meminta maaf kepada umat Islam,” bunyi surat itu.

Lebih lanjut, FPI memastikan akan mengawal proses hukum terkait dengan dugaan penistaan agama tersebut. Mereka meminta penegakan hukum dilaksanakan sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku.

Selain itu, FPI meminta kepada Netflix untuk menghapus, memotong, atau melakukan sensor terhadap materi stand up comedy yang dibawakan oleh Pandji tersebut.

”Bahwa diserukan kepada para komedian atau pelawak lainnya agar tidak menjadikan simbol-simbol maupun ajaran agama sebagai bahan untuk candaan dan olok-olok. Karena, kita hidup di negara yang berdasarkan Pancasila dimana agama dijunjung tinggi,” kata surat itu. ***

Leave a Reply