Jakarta, EDITOR.ID,- Dunia kedokteran tercoreng. Hal ini setelah Dokter Priguna Anugerah Pratama atau PAP tega memperkosa keluarga pasien. Putri dari seorang pasien yang sedang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bogor diperkosa dengan terlebih dulu disuntik bius hingga tak sadarkan diri. Peristiwa terjadi pada Rabu 18 Maret 2025 jam 01.00 WIB di gedung MCHC lantai 7 pada 18 Maret 2025, sekitar pukul 01.00 WIB.
Pak dokter berdalih ambil darah korban. Tak disangka sang dokter justru membiusnya dan setelah tak sadarkan diri kemudian memperkosanya. Usai kejadian pelaku langsung ditangkap. Tidak ada perlawanan dari pelaku saat ditangkap.
Saat kekerasan seksual dilakukan, Dokter Priguna Anugerah sedang mengikuti program dokter residen anestesi dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad). Kasus pelecehan seksual yang dilakukan pelaku dilaporkan oleh korban pada 18 Maret 2025.
Cerita bermula dari sebuah unggahan di akun Instagram @ppdsgramm pada Selasa (8/4), yang langsung viral dan menyulut amarah warganet.
Korban Sedang Menunggu Ayahnya Dirawat di RSHS
Korban, seorang perempuan yang saat itu sedang mendampingi ayahnya di ruang ICU Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, menjadi korban dalam kasus ini.
Saat sedang menunggu proses transfusi darah, ia didekati oleh seorang dokter residen bernama Priguna Anugerah Pratama, yang menawarkan bantuan untuk mempercepat proses tes kecocokan darah atau crossmatch.
Tanpa curiga, korban mengikuti ajakan pelaku ke lantai 7 gedung baru rumah sakit—yang ternyata masih kosong dan sepi. Di sinilah niat baik berubah jadi petaka.
Pelaku meminta korban mengganti pakaian dengan baju pasien, lalu menyuntikkan obat penenang midazolam—yang biasa digunakan untuk tindakan pra-operasi.
Korban pun kehilangan kesadaran. Diduga kuat, pelaku memanfaatkan kondisi tersebut untuk melakukan tindakan asusila.
Tersadar di Pagi Buta, Bukti Mengarah ke Rudapaksa
Korban baru sadar sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 pagi, dalam keadaan pusing dan lemas. Yang lebih mengejutkan, ia merasakan nyeri pada bagian vitalnya.
Rasa curiga pun muncul. Tak menunggu lama, korban langsung memutuskan untuk melakukan visum.
Hasil visum jadi bukti kuat. Ditemukan jejak air mani di tubuh korban, serta bukti biologis lainnya di lantai 7—lokasi kejadian.
Fakta ini memperkuat dugaan bahwa korban memang telah menjadi korban kekerasan seksual saat tidak sadarkan diri.
Siapakah Sosok Dokter Priguna Anugerah
Pelaku diketahui bernama lengkap Priguna Anugerah Pratama, dokter residen anestesi dari Universitas Padjajaran.
Ia menempuh pendidikan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) sejak Mei 2024.
Lulusan Universitas Kristen Maranatha ini berusia 30 tahun dan berdomisili di Pontianak Selatan, Kalimantan Barat. Yang lebih bikin miris, pelaku diketahui sudah menikah.
Dokter Priguna akhirnya ditangkap usai melakukan pemerkosaan terhadap anak pasien di RSHS. Sebelum ditangkap, dokter bernama Priguna Anugerah P sempat nekat akan akhiri hidup.
Dokter Priguna kini mendekam dibalik jeruji tahanan. Ia harus mempertanggungjawabkan ulahnya memerkosa keluarga pasien di RSHS Bandung.
Tersangka menyuntik korban hingga tak sadar lalu memerkosanya.
Dokter Kok Predator?
Sejak informasi ini muncul di Instagram, reaksi netizen langsung membara. Apalagi saat akun X @abigailfahrezi ikut membagikan kronologinya pada Rabu (9/4), tagar seperti #JusticeForKorban dan #HukumDokterBejat langsung jadi trending topic.
Komentar-komentar pedas pun bermunculan:
“Bagaimana bisa kita percaya rumah sakit kalau predator bisa bebas berkeliaran di dalamnya?”
“Ini bukan sekadar pelecehan. Ini pengkhianatan terhadap profesi mulia.”
Reaksi publik ini menunjukkan bahwa masyarakat merasa benar-benar dikhianati—oleh sistem, oleh institusi, dan tentu oleh sosok yang seharusnya bisa dipercaya: dokter.
Banyak warganet juga menyoroti bagaimana seorang residen bisa beroperasi tanpa pengawasan ketat. Rumah sakit dan Universitas Padjajaran pun tak luput dari sorotan tajam.
“Mana pengawasan? Kok bisa ruang kosong jadi tempat kejahatan?” tulis salah satu pengguna X.
Akun @ppdsgramm mengklaim bahwa pelaku sudah dikeluarkan dari program pendidikan dan kini ditahan polisi.
Tapi tanpa konfirmasi resmi dari pihak universitas atau rumah sakit, publik masih meragukan transparansi penanganan kasus ini.
Gelombang Dukungan untuk Korban
Di tengah amarah dan kekecewaan, banyak warganet yang justru memilih fokus memberi dukungan pada korban.
Mereka menyerukan pendampingan hukum, bantuan psikologis, dan perlindungan penuh bagi penyintas.
“Korban nggak cuma butuh empati. Dia butuh keadilan. Kita kawal bareng-bareng.”
Beberapa lembaga advokasi perempuan bahkan sudah menyatakan siap memberi bantuan hukum dan konseling gratis.
Komunitas Medis: Kami Juga Marah
Tindakan pelaku juga mengguncang kalangan tenaga kesehatan sendiri. Banyak dokter dan mahasiswa kedokteran menyatakan kemarahan mereka.
“Sebagai dokter, saya malu. Tapi kita harus berani bersih-bersih di profesi kita sendiri,” tulis seorang dokter di platform X.
Insiden ini jadi pemantik diskusi penting soal pengawasan, etika profesi, dan pentingnya edukasi berkelanjutan di dunia medis.
Kasus dugaan rudapaksa oleh dokter residen ini bukan sekadar skandal. Ini adalah sinyal bahaya tentang celah besar dalam sistem kesehatan dan pendidikan kedokteran kita.
Dari minimnya pengawasan hingga krisis etika di lingkungan profesional, semuanya butuh dibenahi serius.
Masyarakat kini menunggu: akankah pelaku benar-benar dihukum setimpal? Dan lebih penting lagi—akankah sistem kita berbenah agar kasus serupa tak terulang?
Pertanyaannya: Benarkah rumah sakit masih bisa kita anggap sebagai tempat yang aman?










