Dewi Astutik Mami Misterius Asal Ponorogo, “Ratu” Narkoba Golden Triangle Hingga Bisnis Sabu Rp5 Triliun

Dewi juga sempat bekerja di tempat scamming atau penipuan selama satu bulan. Baru lah, pada awal 2024 ia terlibat jual beli narkoba setelah bertemu dengan WN Nigeria berinisial DON atau sering disebut 'Godfather'.

Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menggiring buronan internasional asal Indonesia Dewi Astutik alias Mami alias Dinda (tengah) setibanya dari Kamboja di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (2/12/2025). (Foto: Antara/Saipul)

Jakarta, EDITOR.ID,-  Sosok “Ratu Narkoba” Dewi Astutik alias PA kini mencuri perhatian publik di tanah air. Usai Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Interpol dan BAIS TNI memburu dan menangkapnya di Kamboja. Sang Mami misterius ini disebut gembong narkoba kelas kakap karena dugaan keterlibatan dalam penyelundupan sabu senilai Rp 5 triliun.

Dewi Astutik juga bergabung dalam geng narkoba jaringan internasional, segitiga emas atau Golden Triangle di Kamboja.

Dewi yang dikenal masuk jaringan mafia narkoba internasional, selama ini jadi buruan aparat. Wanita asal Ponorogo Jatim itu berhasil ditangkap dari persembunyiannya di Sihanoukville, Kamboja pada Selasa (2/12/2025).

Penangkapan tersebut menjadi perhatian publik karena Dewi Astutik, yang dijuluki Mami, diyakini sebagai aktor intelektual di balik penyelundupan dua ton sabu senilai Rp 5 triliun.

Dewi Astutik telah menjadi buronan BNN sejak tahun 2024 dan dikenal licin, kerap berpindah-pindah negara. Dia kerap mengubah penampilan, bahkan menggunakan identitas adiknya untuk mengelabui aparat.

Penangkapan ini menandai berakhirnya perburuan panjang terhadap perempuan asal Indonesia yang sudah menjadi buronan internasional, termasuk buron Interpol dan Korea Selatan.

Detik-detik Penangkapan Dewi Astutik

Kepala BNN, Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, mengungkapkan detik-detik penangkapan tersebut. Penangkapan Dewi menurut Suyudi tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui serangkaian langkah taktis yang sudah disusun sejak jauh-jauh hari.

“BNN menerima informasi intelijen mengenai keberadaan target di wilayah Phnom Penh, Kamboja,” ujar Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto dalam keterangan pers pada Selasa (2/12/2025).

Informasi tersebut diterima pada 17 November 2025, yang langsung memicu tim BNN untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Merespons laporan tersebut, Komjen Suyudi segera mengerahkan tim untuk berangkat ke Kamboja pada 25 November 2025.

Setibanya di negara tersebut, tim gabungan BNN bekerja sama dengan otoritas setempat, termasuk Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh, Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, dan perwakilan Polri di Kamboja.

Upaya koordinasi ini membuahkan hasil, pada 1 Desember 2025, Dewi Astutik berhasil dilacak keberadaannya di sebuah hotel di Sihanoukville, Kamboja.

“Pada Senin, 1 Desember 2025, sekitar pukul 13.39 waktu setempat, Dewi Astutik terdeteksi berada dalam kendaraan Toyota Prius berwarna putih di area lobi sebuah hotel. Tim gabungan langsung melakukan penangkapan di tempat,” kata dia.

Dalam proses penangkapan, Dewi Astutik diketahui tidak sendirian. Ia tengah bersama seorang pria yang diduga sebagai rekan kerjanya.

“Tim gabungan langsung melakukan verifikasi dan klarifikasi, termasuk pemeriksaan fisik untuk memastikan bahwa yang disergap adalah Dewi Astutik,” kata dia.

Keberhasilan ini, menurut Komjen Suyudi, menjadi bukti komitmen kuat BNN dalam memberantas kejahatan narkotika.

“Kami terus mengejar pelaku kejahatan narkotika hingga ke luar negeri, dengan memperkuat sinergitas antar lembaga negara dan kepolisian negara sahabat,” ujar Suyudi.

Pasalnya keberhasilan penangkapan dua ton sabu yang didalangi Astutik berhasil menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa dari ancaman bahaya narkotika.

“Dia merupakan aktor utama dari penyelundupan dua ton sabu senilai Rp 5 triliun dan kasus narkotika lainnya yang terjadi di wilayah Indonesia,” kata Komjen Suyudi.

Dewi Pernah Jadi Guru Bahasa Mandarin di Kamboja Gaji Rp20 Juta

BNN membongkar profil dibalik gembong narkoba Dewi Astutik. Ia pernah bekerja sebagai guru bahasa Inggris hingga Mandarin di Kamboja sebelum akhirnya terlibat kasus narkoba. Ia bahkan mendapat penghasilan Rp20 juta per bulan.

“Hasil pendalaman lanjutan, sebelumnya yang bersangkutan di Kamboja kerja di beberapa tempat kursus bahasa Inggris dan Mandarin sebagai pengajar, per bulan pendapatan kurang lebih Rp 20 juta,” ungkap Suyudi.

Sempat Jadi Scamming atau Penipuan Online di Kamboja

Suyudi menyebut, sejak datang ke Kamboja pada 2023, Dewi juga sempat bekerja di tempat scamming atau penipuan selama satu bulan. Baru lah, pada awal 2024 ia terlibat jual beli narkoba setelah bertemu dengan WN Nigeria berinisial DON atau sering disebut ‘Godfather’.

Nama Dewi Astutik telah resmi masuk dalam red notice Interpol sejak 3 Oktober 2024. Dia juga merupakan buron pemerintah Korea Selatan (Korsel). Dewi Astutik ditangkap di Kamboja pada Senin (1/12) tanpa perlawanan.

Geng Golden Triangle

Dewi merupakan bagian jaringan Golden Triangle yang aksinya digagalkan pada Mei 2025 serta beberapa kasus besar tahun 2024 yang terkait jaringan Golden Crescent.

Penangkapan Dewi Astutik ini dilakukan di Sihanoukville, Kamboja, melalui operasi senyap lintas negara yang dipimpin oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan.

“Operasi ini mendapat dukungan penuh dari Atase Pertahanan RI di Kamboja dan BAIS TNI yang dipimpin Yudi Abrimantyo, yang berperan penting dalam pemetaan pergerakan lintas negara serta koordinasi regional,” ungkap Suyudi.

Gembong Narkoba Diterbangkan ke Jakarta

Penangkapan Dewi Astutik kini dilihat sebagai titik balik yang memperkuat fokus aparat pada pengejaran buronan terbesar yang tersisa, Fredy Pratama.

Saat ini, Dewi Astutik telah diterbangkan ke Jakarta dan sedang menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap seluruh jaringan keuangan, logistik, dan sindikatnya.

Buronan Interpol Dewi Astutik alias PA diklaim BNN ikut terlibat dengan salah satu jaringan gembong narkoba Fredy Pratama. Hal itu diungkap Suyudi Ario Seto.

“Berdasarkan hasil analisa terdapat dua nama utama asal Indonesia yang mendominasi penyelundupan narkoba di kawasan Golden Triangle yakni Freddy Pratama,” ujar Suyudi.

Identitas dan Peran Kunci

Nama Asli: Pariyatin (43 tahun).

Asal: Ponorogo, Jawa Timur.

Alias: Dewi Astutik, “Mami,” Kak Jinda, atau Dinda.

Peran: Pengedar narkoba besar yang terkait dengan jaringan “Segitiga Emas” (Golden Triangle).

Hubungan: Rekan dekat gembong narkoba terbesar Indonesia yang masih buron, Fredy Pratama.

Tindakan Kriminal: Diburu oleh Korea Selatan dan negara lain karena perannya sebagai rekrutor jaringan narkoba yang beroperasi lintas Asia-Afrika. ****

Leave a Reply