Dari Dapur ke Solusi Lingkungan, Mahasiswa LSPR dan Warga Pesanggrahan Ubah Minyak Jelantah Jadi Produk Bernilai Guna Ekonomi

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Public Relations & Digital Communication LSPR Institute of Communication & Business menghadirkan program Community Development bertajuk Pesanggrahan Berpijar.

Mahasiswa Public Relations & Digital Communication LSPR Institute of Communication & Business menghadirkan program Community Development bertajuk Pesanggrahan Berpijar.

Jakarta, EDITOR.ID,- Minyak jelantah masih menjadi salah satu limbah rumah tangga yang sering dibuang begitu saja tanpa pengelolaan yang tepat. Padahal, pembuangan minyak jelantah ke saluran air maupun tanah dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan berdampak pada kualitas ekosistem.

Di sisi lain, minyak jelantah memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk yang bernilai guna apabila dikelola dengan benar.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Public Relations & Digital Communication LSPR Institute of Communication & Business menghadirkan program Community Development bertajuk Pesanggrahan Berpijar.

Acara Community Development bertajuk Pesanggrahan Berpijar yang diinisiasi para mahasiswa dan mahasiswi LSPR ini juga didukung media online EDITOR.ID yang memberikan bantuan berupa support pemberitaan agar acara ini bisa dikenal lebih luas oleh publik melalui pemberitaan di situs berita EDITOR.ID.

Situs berita EDITOR.ID telah 14 tahun menemani pembaca dalam memperoleh akses informasi secara digital dengan keunggulan informasi lebih cepat, aktual dan terpercaya. Berita-berita yang disajikan senantiasa berbasis fakta dan bukan hoaks atau narasi.

Dengan jumlah pembaca fanatik yang mencapai lebih dari 100 ribu bahkan sebagian besar pembaca berasal dari Amerika, semoga program yang dilakukan mahasiswa Public Relations & Digital Communication LSPR Institute of Communication & Business bisa diketahui khalayak luas secara positif.

Program Community Development bertajuk Pesanggrahan Berpijar yang digagas para mahasiswa LSPR bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan minyak jelantah sekaligus memperkenalkan berbagai alternatif pemanfaatannya sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi.

Ketua Pelaksana Pesanggrahan Berpijar, Chrisyella Cysile Tanada, mengatakan bahwa program ini lahir dari keinginan untuk menghadirkan edukasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kami melihat masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa minyak jelantah tidak seharusnya dibuang begitu saja. Melalui Pesanggrahan Berpijar, kami ingin menunjukkan bahwa limbah rumah tangga juga memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi,” ujarnya.

Sebelum kegiatan utama berlangsung, tim Pesanggrahan Berpijar mengawali program melalui kampanye digital di media sosial yang membahas dampak pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan serta berbagai cara pengelolaannya.

Edukasi juga dilakukan melalui program Pesanggrahan Berpijar Goes to School di SMK Perwira Jakarta yang melibatkan lebih dari 70 siswa untuk mengenalkan pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga sejak usia dini.

Puncak kegiatan diselenggarakan pada 21 Juni 2026 di RPTRA Nusantara, Ulujami, Jakarta Selatan. Acara diawali dengan konferensi pers, kemudian dilanjutkan dengan workshop pengolahan minyak jelantah bersama Bank Sampah Akademi Kompos.

Workshop dibagi ke dalam beberapa sesi yang melibatkan ibu-ibu PKK, anggota Karang Taruna, perwakilan media, serta siswa SMK Perwira Jakarta.

Melalui pembagian kelompok tersebut, setiap peserta memperoleh kesempatan untuk berdiskusi secara langsung dengan narasumber sekaligus mempraktikkan proses pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi.

Dalam workshop tersebut, peserta terlebih dahulu diberikan pemahaman mengenai dampak minyak jelantah terhadap lingkungan apabila dibuang sembarangan.

Setelah itu, peserta mengikuti praktik pembuatan lilin aromaterapi, mulai dari proses penyaringan minyak, pencampuran bahan, hingga pencetakan produk.

Selain memperoleh keterampilan baru, peserta juga diperkenalkan pada potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari pengolahan minyak jelantah.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak peserta yang baru mengetahui bahwa minyak jelantah dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Diskusi selama workshop juga membahas peluang menjadikan hasil olahan tersebut sebagai usaha rumahan yang dapat menambah nilai ekonomi keluarga.

Selain workshop, Pesanggrahan Berpijar menghadirkan exhibition interaktif yang memperkenalkan berbagai hasil olahan minyak jelantah, seperti lilin aromaterapi, sabun, dan biodiesel.

Pengunjung juga dapat mengikuti blind smell test, permainan edukatif, serta kuis yang dirancang untuk memperkenalkan pentingnya pengelolaan minyak jelantah dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim Pesanggrahan Berpijar membagikan booklet edukasi mengenai pengelolaan minyak jelantah dan melanjutkan kampanye melalui media sosial dengan mengajak masyarakat membagikan pengalaman mereka melalui konten User Generated Content (UGC).

Langkah ini dilakukan agar pesan mengenai pengelolaan limbah rumah tangga tetap tersampaikan meskipun kegiatan telah berakhir.

Melalui program ini, mahasiswa LSPR berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa perubahan menuju lingkungan yang lebih bersih dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah.

Pengelolaan minyak jelantah yang tepat tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang untuk menghasilkan produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. **

Leave a Reply