Washington, EDITOR.ID – Muncul laporan mengenai narasi religius yang digunakan untuk membenarkan tindakan bahwa Perang Iran VS Gabungan AS-Israel: Trump “Diurapi” Yesus Untuk Memicu “Armageddon”? Agresi militer gabungan AS-Israel menargetkan instalasi militer dan nuklir Iran di Teheran, Isfahan, dan Tabriz.
Namun setelah kematian pemimpin tertinggi Iran, mendiang almarhum Ayatollah Ali Khamenei, perang ini diwarnai dengan penggunaan bahasa apokaliptik untuk memotivasi pasukan.
Donald Trump disebut-sebut oleh beberapa oknum komandan sebagai sosok yang “diurapi oleh Yesus” untuk menyalakan “api isyarat” di Iran guna memicu Armageddon atau perang akhir zaman dan menandai kemunculan Yesus kembali sebagai Imam Mahdi.
Praktik ini dikritik keras karena dianggap ekstremis dan berbahaya, di mana keyakinan teologis digunakan untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri dan militer AS. Sementara itu, pihak Iran menuduh Trump membawa wilayah tersebut ke dalam kekacauan demi “ambisi delusi”.
Narasi ini mencerminkan pengaruh Christian Nationalism (Nasionalisme Kristen) yang merambah ke dalam struktur komando militer, memicu kekhawatiran pelanggaran pemisahan gereja dan negara.
Menurut sumber dari TRT World, Berdasarkan laporan Military Religious Freedom Foundation (MRFF) terkini yang dipublikasikan (per 4-5 Maret 2026), organisasi pengawas kebebasan beragama di militer AS (MRFF) telah mengkritik Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang dilaporkan mempromosikan ideologi Kristen nasionalis di Pentagon, termasuk mengundang pastor kontroversial untuk memimpin layanan doa dan menghubungkan kebijakan militer dengan agenda “Alkitabiah”.
Sorotan pada Kebijakan Hegset
Menurut sumber The Times of India memberitakan, MRFF mendesak adanya tindakan tegas terhadap perwira yang menggunakan otoritas mereka untuk mempromosikan agenda keagamaan tersebut kepada bawahan.
Diperoleh Lonjakan Pengaduan (Lebih dari 200)
MRFF mengklaim telah menerima lebih dari 200 pengaduan dari anggota aktif militer AS (termasuk Army, Navy, Air Force, Marine Corps, dan Space Force) setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada akhir Februari/awal Maret 2026.
200-an anggota aktif militer AS tersebut telah mengajukan pengaduan terkait pidato fundamentalis Kristen ekstremis oleh perwira komandan mereka. Pengaduan ini melonjak pasca serangan AS-Israel terhadap Iran.
Narasi Eskatologi (“Akhir Zaman”)
Pengaduan tersebut melaporkan bahwa para perwira komandan membingkai konflik dengan Iran sebagai bagian dari “rencana ilahi” atau skenario akhir zaman (end times) yang merujuk pada Kitab Wahyu, atau “rencana ilahi,” dengan merujuk pada kitab suci untuk menjustifikasi tindakan militer.
Trump sebagai Sosok “Urapan”
Beberapa laporan menyebutkan komandan memberi tahu bawahan mereka bahwa Presiden Donald Trump “diurapi” oleh Yesus untuk memicu Armageddon (pertempuran akhir) guna mempercepat kedatangan kembali Yesus Kristus.
Artinya laporan tersebut mencatat adanya klaim dari beberapa perwira yang menyebut Presiden Donald Trump sebagai sosok yang dipilih secara religius untuk memicu peristiwa yang mengarah pada kedatangan kembali Yesus Kristus.
Antusiasme Komando
Mikey Weinstein, pendiri MRFF, menyebutkan bahwa ada “euforia tak terbatas” di sebagian rantai komando yang memandang serangan terhadap Iran sebagai pemenuhan nubuat alkitabiah, bukan sekadar tujuan geopolitik.
Artinya Pendiri MRFF, Mikey Weinstein, menyoroti adanya dukungan yang sangat kuat dari para komandan terhadap konflik yang mereka anggap memiliki landasan teologis.
Dampak dan Kekhawatiran
Pengaduan datang dari berbagai instalasi militer, termasuk unit yang siap tempur. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar mengenai pelanggaran prinsip pemisahan negara dan agama (Konstitusi AS) serta dampaknya terhadap moral dan kohesi unit, mengenai netralitas agama dan kepatuhan terhadap prinsip pemisahan antara institusi negara dan agama.
Sorotan terhadap Kebijakan Kepemimpinan
MRFF juga menyampaikan kritik terhadap pejabat tinggi pertahanan, termasuk Pete Hegseth, atas kebijakan dan aktivitas yang dianggap membiarkan pengaruh ideologi keagamaan tertentu menguat di lingkungan Pentagon dan rantai komando militer.
Organisasi tersebut mendesak adanya akuntabilitas dan tindakan hukum bagi perwira yang menggunakan otoritas militer mereka untuk mempromosikan agenda keagamaan kepada bawahan.
Laporan ini didasarkan pada keluhan yang masuk ke MRFF dan laporan jurnalistik pada awal Maret 2026 yang menyoroti pergeseran retorika di lingkungan militer AS. (*)












