Jakarta, EDITOR.ID,- Kegaduhan kasus Ijazah Presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo (Jokowi) yang digaungkan Roy Suryo, dr Tifa dan Rismon mengusik Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk buka suara. Rektor UGM Ova Emilia menegaskan bahwa ijazah mantan wali kota Solo dan gubernur Jakarta itu asli. UGM punya data otentik terkait ijazah ini.
Guru Besar UGM ini mengungkapkan bahwa kampus memiliki data otentik terkait dengan studi yang dijalani Jokowi sejak mendaftar sampai dinyatakan lulus dari kampus negeri yang berada di Yogya itu. Melalui kanal YouTube resmi UGM, Prof Ova pun menegaskan berulang kali bahwa UGM telah memastikan keaslian Ijazah Jokowi.
”UGM sudah menyatakan beberapa kali secara tegas bahwa Joko Widodo adalah alumni Universitas Gadjah Mada. UGM memiliki dokumen otentik terkait keseluruhan proses pendidikan Joko Widodo di UGM,” kata Ova dikutip pada Sabtu (23/8/2025).
Lebih jauh Prof Ova, menyatakan UGM memiliki data otentik terkait dengan dokumen pendaftaran, penerimaan, proses kuliah, pendidikan sarjana, KKN, sampai wisuda. Jokowi, lanjut Prof Ova, sudah dinyatakan lulus pada 5 November 1985 dan menerima ijazah dari UGM pada 19 November 1985.
Dokumen Jokowi Tersimpan Rapi di UGM Termasuk KKN di Boyolali
Prof Ova memastikan, seluruh dokumen terkait proses pendidikan Jokowi tersimpan rapi di UGM. Termasuk bukti KKN di Boyolali serta nilai akademik yang diperoleh Jokowi.
Namun demikian, ijazah asli hanya dimiliki oleh alumni, dalam hal ini Jokowi. UGM hanya memiliki salinan ijazah tersebut.
“Alumni adalah satu-satunya pihak yang memegang ijazah asli miliknya sehingga penggunaan dan perlindungannya menjadi tanggung jawab alumni tersebut,” jelas Prof Ova.
“Sekali lagi UGM dengan tegas menyatakan bahwa Joko Widodo adalah alumni UGM yang telah mendapatkan ijazah dari UGM sesuai dengan ketentuan,” tandas Ova.
UGM Punya Data Otentik dan Sahih Soal Studi Jokowi
Tidak hanya Prof Ova sebagai rektor, dekan Fakultas Kehutanan UGM juga menegaskan hal yang sama. UGM memiliki data otentik dan sahih dari awal perjalanan studi Jokowi di UGM.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM Sigit Sunarta menyampaikan bahwa Jokowi menjadi mahasiswa UGM sejak 28 Juli 1980. Jokowi masuk UGM melalui proyek perintis. Skripsi Jokowi tuntas atas bimbingan akademik dari Ir. Kasmujo dan pembimbing skripsi Prof. Ahmad Sumitro.
Soal perbedaan penulisan nama pembimbing dan tanggal pada lembar pengesahan skripsi Jokowi, menurut UGM hal itu sangat wajar dalam proses administrasi pada 1980.
Sosok Rektor Ova Emilia
Rektor UGM Prof Ova Emilia bersama sejumlah pejabat kampus lainnya sempat digugat ke Pengadilan Negeri Sleman atas dugaan perbuatan melawan hukum yang berkaitan dengan ijazah Jokowi.
Gugatan ini tercatat dalam nomor perkara 106/Pdt.G/2025/PN Smn dan telah didaftarkan pada tanggal 5 Mei 2025 silam. Gugatan terkait ijazah Jokowi kali ini diajukan oleh advokat dan pengamat sosial bernama Ir. Komardin dari sebuah firma hukum yang beralamat di Makassar.
Namun dalam perjalanannya gugatan Komardin ditolak pengadilan. Kasus Ijazah Jokowi sempat menjadi perhatian nasional mengingat menyangkut kredibilitas akademik Presiden Joko Widodo dan institusi pendidikan ternama seperti UGM.
Prof Ova merupakan alumni Sarjana di UGM pada 1987. Ia kemudian melanjutkan studi S2 di University of Dundee, Skotlandia pada 1990. Tak cukup sampai gelar S2, Prof Ova berhasil menamatkan pendidikan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi di UGM pada 2000.
Pada 2009, ia menyelesaikan pendidikan S3 Clinical Teaching di University of New South Wales Wales dan pendidikan dokter subspesialis di UGM.
Pada 2016, Ova dilantik menjadi guru besar (Gubes) di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
Pengukuhan Ova merupakan hal istimewa lantaran ia dikukuhkan sebagai Gubes Pertama Bidang Pendidikan Kedokteran di Indonesia. Pengukuhannya dilakukan bertepatan dengan Hari Kartini, yakni pada 21 April 2016 di ruang Balai Senat UGM.
Selain menjadi Gubes, Ova juga menjabat sebagai Dekan fakultas tersebut. Bahkan pada 2018, ia dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Negeri Indonesia.
Sejumlah penghargaan pernah diraih oleh Prof Ova. Salah satu penghargaan yang diterimanya adalah First Prize for Young Gynecologist Award pada 1998. Selain itu, pada 2006 Prof Ova kembali meraih penghargaan SIDA Award.
Tak hanya menjadi dosen dan peneliti, Prof Ova juga gemar menulis buku, jurnal internasional, dan membangun inovasi, advokasi, serta kebijakan.
Guru Besar kelahiran di Yogyakarta, 19 Februari 1964 ini terpilih sebagai rektor UGM 2022-2027. (*)










