Apa Doa Rasulullah Saat Idul Fitri? Inilah Bocoran dari Prof Quraish Shihab, Dahsyattt

Menurut Prof Quraish memang umat muslim saat berlebaran mengucapkan minal aidin wal faizin adalah bagus. Namun ucapan atau doa ini tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad saw. Pada masa Nabi saw itu ucapannya adalah taqabbalallahu minna wa minkum.

Prof Muhammad Quraish Shihab

Jakarta, EDITOR.ID,- Ulama besar Prof Muhammad Quraish Shihab memberikan ilmu dan pemahaman berharga soal Idul Fitri yang selama ini tanpa kita ketahui. Yakni apa saja doa yang dibaca Nabi Muhammad SAW saat menghadapi Hari Raya Idul Fitri.

Prof Quraish Shihab mengemukakan, ada beberapa hal dalam masyarakat Indonesia yang mungkin jika merujuk pada Al-Qur’an atau sunnah Nabi perlu diluruskan kembali. Seperti banyaknya ucapan minal aidin wal faizin saat Idul Fitri atau Lebaran, padahal Rasulullah telah mengajarkan doa selain itu.

“Sebenarnya Rasulullah saw itu mengajarkan kita doa Taqabbalallahu Minna wa Minkum. Artinya semoga Allah menerima doa kita, menerima ibadah kita, jadi Rasulullah mengajarkan kita doa semoga Allah menerima. Jangan pernah yakin bahwa amalan Anda sudah diterima, kita jangan yakin bahwa menang,” paparnya dalam Youtube Quraish Shihab sebagaimana dilansir dari NU Online, Sabtu (22/4/2023).

Menurut Prof Quraish memang umat muslim saat berlebaran mengucapkan minal aidin wal faizin adalah bagus. Namun ucapan atau doa ini tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad saw. Pada masa Nabi saw itu ucapannya adalah taqabbalallahu minna wa minkum.

Idul Fitri hari kemenangan?

Menurut Prof Quraish, memang banyak sekali hal-hal yang muncul setelah Rasulullah wafat yang sifatnya baru. Semua hal yang baru itu tidak terlarang. Kita tidak ingin berkata kullu bid’atin dholalah, tetapi di sisi lain ada pengertian-pengertian yang muncul dalam masyarakat yang sudah popular dan jika merujuk kepada Al-Qur’an dan sunnah apa yang populer itu belum tentu salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

“Saya pribadi merasa terganggu ketika orang-orang di TV menamai Idul Fitri dengan hari kemenangan. Saya bertanya kemenangan terhadap siapa? Siapa yang Anda lawan sehingga Anda mengatakan bahwa Idul Fitri itu hari kemenangan. Menang melawan nafsu Anda? Menang melawan setan? Apa benar itu? Ini agaknya karena kita keliru atau orang-orang itu keliru memahami arti faizin dengan menang,” ujar Prof Quraish.

Padahal, menurutnya, perjuangan melawan nafsu, perjuangan melawan setan, pertempuran itu berlanjut tidak ada hentinya kecuali setelah manusia mati. Bisa jadi merasa menang namun sebenarnya sudah kalah, setan itu paling pandai untuk memperindah yang buruk. Setan memperindah dan membuat umat Islam merasa sudah menang.

“Jangan pernah menduga Idul Fitri itu hari kemenangan karena kalau Anda mengatakan bahwa Idul Fitri hari kemenangan, kemenangan itu menjadikan anda berleha-leha, menjadikan manusia merasa bangga,” tegas Prof Quraish. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

%d bloggers like this: