EDITOR.ID, Indramayu – Disela-sela pemusnahan barang bukti narkoba hasil tangkapan, Kapolda Jabar Irjen Ahmad Dofiri, bernostalgia sejenak. Dengan awak media, ia bercerita pendek pengalaman waktu masih bersekolah dan tinggal di Indramayu.
Yang membuat awak media tersenyum, sebagian malah mengernyitkan dahi, saat jenderal bintang dua ini berbicara soal minuman keras (miras). Dofiri bercerita saat usia sekolah, di tempat asalnya di Indramayu, ada dua jenis miras yang sangat populer pada masanya.
“Masyarakat Indramayu saat itu, tahun 80-an, pasti megenal miras merek Topi Miring dan Cap Tikus. Semacam Lapen, saat saya menjadi Kapolda Yogyakarta,” ungkap Dofiri, Selasa 22 Desember.
Cerita Dofiri soal TM dan Cap Tikus, rupanya bukan tanpa alasan. Ia tahu betul bagaimana dampak negatif dari miras. Di tanah kelahirannya, Indramayu, miras menjadi salah satu pemicu maraknya tawuran antarkampung. “Itu terjadi antara tahun 80-an hingga 90-an, Indramayu terkenal dengan tawuran antar kampung. Salah satu penyebabnya adalah miras tadi,” ujar Dofiri.
Melewati jauh soal kenangannya, Dofiri rupanya masih menyimpan tanya soal keberadaan dua jenis miras itu. “Sekarang di Indramayu masih ada ga ya Topi Miring dan Cap Tikus?,” tanya Dofiri.
Diakhir perbincangan, ia menegaskan miras kerap menjadi awal terjadinya tindak kriminal. Ia lantas meminta masyarakat untuk aktif melaporkan peredaran miras yang meresahkan.
Selain itu, ia meminta jajarannya tak segan menindak peredaran miras yang meresahkan tersebut. “Akibat miras bisa kecelakaan, penganiayaan, untuk itu apabila kita temukan, tidak usah ragu untuk melakukan penindakan,” ujarnya. (Hendra Sumiarsa)












